Waduh! Pesan Ramadan Donald Trump Sukses Bikin Geger Umat Muslim Sedunia, Katanya…


SURATKABAR.ID – Datangnya bulan Ramadan disambut oleh umat muslim di seluruh dunia. Banyak pihak berlomba-lomba menyediakan menu takjil serta makanan berbuka puasa bagi orang-orang yang menjalani ibadah puasa. Termasuk Gedung Putih.

Tetapi sayangnya, sejak Donald Trump memegang kursi pemerintahan, kebiasaan turun temurun tersebut berubah drastis. Di mana Gedung Putih dan Departemen Luar Negeri mengungkapkan penolakan tradisi buka puasa bersama pada Ramadan tahun lalu.

Dan baru Selasa (15/5) lalu, Gedung Putih mengeluarkan sebuah pernyataan berisi nada yang sangat berbeda, seperti yang dilansir Grid.ID dari Washington Post pada Kamis (17/5/2018). Pernyataan tersebut pun sukses membuat gempar umat muslim dunia.

Gedung Putih merilis bahwa libur puasa yang berlangsung sebulan penuh akan dimulai minggu ini. “Gedung Putih menyatakan bahwa keberadaan umat muslim menambah permadani agama kehidupan Amerika. Oleh sebab itu libur selama liburan akan dimulai pada minggu ini,” bunyi pesan tersebut.

Pengembang property muslim terkemuka, Ray Mahmood yang telah lama turut dilibatkan di dalam diplomasi antar agama di kawasan D.C mengungkapkan, “Bersama Departemen Luar Negeri, Gedung Putih menyatakan akan menjadi tuan rumah iftar atau buka puasa pada awal Juni.”

Baca Juga: Sama-Sama Seru, Ini Perbedaan Mencolok Nuansa Ramadan di Turki dan Indonesia

Ia juga menambahkan bahwa Pemerintah Amerika Serikat telah mengabulkan satu permintaan yang diberikan umat muslim Negara Adidaya tersebut. “Setidaknya Presiden di Gedung Putih ini bisa menunjukkan toleransi dan penerimaan,” tutur Mahmood kemudian.

Sementara itu, Wakil Sekretaris Pers Gedung Putih Lindsay Walters pada Rabu (16/5) mengungkapkan hingga saat ini belum ada perkembangan terbaru terkait isi pesan Gedung Putih mengenai buka puasa bersama.

Seperti yang diketahui, hubungan antara umat muslim Amerika dan Trump semakin memburuh sejak masa pencalonannya. Ketika itu, Trump mengeluarkan usulan yang melarang umat muslim berada di Amerika. Ia berdalih hal tersebut sebagai langkah pengamanan terhadap aksi terorisme.

Bahkan pada tahun 2016, ia menganjurkan aksi pengintaian di masjid-masjid. Anjurannya mendapatkan dukungan penuh dari sebagian besar simpatisan Partai Republik. Namun pada saat pemungutan suara, mayoritas penduduk Amerika menilai kebijakan tersebut merugikan umat Islam.

Dan terkait agenda buka puasa bersama, dipastikan oleh sejumlah pihak yang ikut ambil bagian dalam perencanaan tersebut, Gedung Putih akan menggelar iftar pada Rabu (6/6) mendatang. Rencananya beberapa pemimpin muslim Amerika dan duta dari negara dengan penduduk muslim terbesar akan menjadi tamu kehormatan dalam acara tersebut.