Astaghfirullah! WNI Eks Simpatisan ISIS Ungkap Fakta Mencengangkan, Jeratan Cinta Hingga ‘Pabrik Anak’


SURATKABAR.ID – Aksi bom bunuhdiri yang mengguncang tiga gereja di Kota Pahlawan Surabaya, Jawa Timur masih menjadi topik perbincangan panas. Beragam persepsi publik mencuat lantaran serangan beruntun beberapa hari terakhir.

Terkait hal tersebut, dilansir Grid.ID dari laman Tribunnews.com, adik kandung Amrozi sebagai mantan anggota teroris kelompok Moro Islamic Liberation Front (MILF), Ali Fauzi mengeluarkan pendapat bahwa kelompok yang beraksi di Surabaya berafiliasi dengan Islamic State of Iraq and Syria (ISIS).

Seperti yang diketahui, sebagai gerakan berpaham radikalisme, ISIS masih terus berupaya merongrong keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Tidak sedikit warga negara yang terjerat iming-iming dari kelompok tersebut.

Dan dalam acara talkshow ‘Rosi’ yang ditayangkan di stasiun Kompas TV, Nurshadrina Khaira Dhania (20), seorang wanita eks simpatisan ISIS menyetujui pendapat Ali Fauzi. Ia bahkan blak-blakan membongkar pengalaman mengerikannya selama bergabung dengan ISIS.

Perempuan berusia 20 tahun tersebut mengawali kisahnya ketika ia tergiur ajakan sang paman, Djoko Wiwoho yang merupakan simpatisan ISIS. Berbekal rasa penasaran mendalam, ia pun mencari tahu segala hal tentangnya.

Baca Juga: Sebagian Besar Polisi yang Tewas Terdapat Luka di Leher, Dieksekusi Ala ISIS?

Usai melihat video pengakuan dari simpatisan ISIS, yang menyebutkan ISIS sepenuhnya memberikan jaminan kesejahteraan, Nurshadrina semakin mantap berhijrah. Yang paling menggiurkan adalah janji ISIS kepada dirinya beserta 5 anggota keluarganya mengganti seluruh biaya keberangkatan mereka ke Suriah.

“Mereka sendiri janji, biaya ke sana (Suriah) akan mereka gantikan. Penggantian utang, ada kerjaan, gajinya tinggi. Jadi jangan takut kehilangan pekerjaan,” tutur Nurshadrina mengungkapkan janji manis ISIS, dikutip dari Grid.ID, Rabu (16/5/2018).

Fakta mengejutkan lain diakui Nurshadrina. Dirinya sempat terjerat cinta yang begitu membara terhadap kelompok teroris pimpinan Abu Bakar Al-Baghdadi tersebut. Namun hanya ada kenyataan pahit yang menyambut sesampainya wanita ini di Suriah pada Agustus 2015 silam.

Tak ada kehidupan penuh bahagia di tempat tersebut. Nurshadrina mengungkapkan bahwa semua perempuan yang datang dari luar wilayah Suriah mendapatkan asrama kotor yang sama sekali tidak layak huni sebagai tempat tinggal mereka. Sementara kaum pria dipaksa ikut perang.

Awalnya para perempuan di sana didata sesuai dengan status pernikahan mereka. Baru kemudian ditempatkan secara terpisah di asrama tersebut. Dan setiap hari, anggota-anggota ISIS mendatangi pimpinan asrama dan meminta perempuan yang tak terikat status pernikahan untuk dijadikan istri.

“Mereka datang, ‘Saya mau yang ini’, datang pagi-pagi untuk melamar dan sorenya sudah minta jawaban. Secepat itu minta jawaban, harus kawin. Saya secara pribadi, fighter ISIS menganggap perempuan hanyalah sebagai ‘pabrik anak’ saja,” ungkapnya.

Berselang setahun menjalani kehidupan super menyedihkan di Suriah, Nurshadrina akhirnya tersadar bahwa apa yang dilakukan ISIS sangat jauh dari ajaran agama Islam. Dan baru pada pertengahan Agustus 2017, ia bersama 19 orang mantan simpatisan ISIS berhasil melarikan diri setelah bertahan lebih dari 2 tahun di tempat mengerikan tersebut.