Balada Anak Bomber Surabaya, Tak Mengenyam Bangku Sekolah Hingga Doktrin Radikal Lewat Video


SURATKABAR.ID – Dua kasus pengeboman yang terjadi di Surabaya dua hari terakhir melibatkan satu keluarga. Dita Oepriarto (48) dan Tri Murtiono (50), pelaku bombunuh diri 3 gereja dan Mapolrestabes Surabaya ini mengajak serta anak dan istrinya dalam aksi mengerikan tersebut.

Kisah anak-anak Dita, seperti dilansir dari laman Detik.com, sangat mengenaskan. Selain tidak dapat merasakan bangku sekolah, harus meneguk doktrin-doktrin ekstrem di tempat tinggalnya, hingga sebelum menjemput ajal disabuki bom pipa.

Namun sayang, pihak kepolisian memilih bungkam dan menolak merinci anak dari pasangan Dita dan Puji yang mana yang tidak disekolahkan. Adapun tujuan dari hal tersebut adalah guna menghindari adanya interaksi dengan lingkungan sekaligus juga untuk penanaman doktrin.

Polisi mengungkap ketika ditanya orang lain, pelaku pengeboman mengaku anaknya menjalani sekolah rumah alias homeschooling. Bahkan anak-anak mereka juga diajarkan orangtua untuk memberikan jawaban yang sama apabila ada orang menanyakan pendidikan mereka.

Baca Juga: Astaghfirullah! Begini Rupanya Trik Puji Kuswati Bujuk 4 Anaknya Jadi Bomber, Pantas Mau

Homeschooling kalau ditanya. Padahal nggak,” tutur Kepala Kepolisian Daerah Jawa Timur Irjen Machfud Arifin dalam konferensi pers yang digelar di Markas Polda Jawa Timur, Jalan Frontage Ahmad Yani, Surabaya, Selasa (15/5), dikutip dari Detik.com.

Anak-anak tersebut menjadi korban dari paham radikal yang ditunjukkan orangtua. Mereka tidak hanya buta akan pendidikan yang layak, bocah-bocah malang ini hanya dicekoki dengan indoktrinasi tentang kepercayaan ekstrem yang diberikan orangtua setiap hari.

“Ya hanya bapak-ibunya yang memberikan doktrin terus, dengan video-videonya, dengan ajaran-ajaran yang diberikan,” tambah Irjen Machfud Arifin lebih lanjut.

Doktrin paham ekstrem akhirnya berakhir saat orangtua empat anak tersebut mengajak serta mereka melakukan aksi bombunuh diri. Tugas pun dibagikan. Ada yang bertugas untuk beraksi di Gereja Kristen Indonesia (GKI) Jalan Diponegoro, ada yang bertugas di Gereja Santa Maria Tak Bercela Surabaya.

“Bom ditaruh di pinggang, ini namanya anak di bawah umur,” pungkasnya.