Bukan Satuan Baru, Ternyata Begini Sejarah Koopssusgab yang Akan Dihidupkan Lagi oleh Jokowi

SURATKABAR.IDJika Polri punya Detasemen Khusus 88 Antiteror (Densus 88), Tentara Nasional Indonesia (TNI) punya Komando Operasi Khusus Gabungan (Koopssusgab). Keduanya sengaja dibentuk untuk mengatasi ancaman terorisme secara cepat.

Nama Koopssusgab memang tak sepopuler Densus 88. Fungsi Koopssusgab memang kurang optimal karena pascareformasi, TNI hanya berwenang menjaga pertahanan negara, sementara keamanan menjadi tanggung jawab kepolisian.

Ditambah lagi belum ada hukum yang jelas terkait dengan keterlibatan TNI dalam penanggulangan terorisme.

Agar tidak tumpang tindih dengan kepolisian, Koopssusgab hanya diturunkan apabila suatu tindakan terorisme sudah tidak bisa diredam kepolisian.

Koopssusgab merupakan tim gabungan dari tiga matra TNI. Mereka adalah Sat-81 Gultor Komando Pasukan Khusus milik TNI Angkatan Darat (AD), Detasemen Jalamangkara milik TNI Angkatan Laut (AL), dan Satbravo 90 Komando Pasukan Khas milik TNI Angkatan Udara (AU).

Baca juga: 5 Bom dalam 25 Jam, Jokowi Baru Akan Terbitkan Perppu Terorisme Bulan Depan

Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko mengatakan, Presiden Joko Widodo (Jokowi) akan menghidupkan kembali satuan Koopssusgab TNI untuk menangani terorisme.

Usulan ini muncul setelah terjadi kerusuhan yang melibatkan narapidana teroris di rumah tahanan Markas Komando (Mako) Brimob pada Selasa (8/5/2018).

“Sudah saya sampaikan ke Presiden dan beliau sangat tertarik untuk dapat dihidupkan kembali,” kata Moeldoko di Gedung Bina Graha, Jakarta, dikutip dari Tempo, Jumat (11/5/2018).

Koopssusgab diresmikan pada 9 Juni 2015 oleh Moeldoko, yang ketika itu menjadi Panglima TNI. Dalam acara peresmiannya di Lapangan Monas saat itu, Koopssusgab menunjukkan sebagian kecanggihan peralatan mereka, yaitu helikopter Bell 412, MI-35, SA-330 Puma, serta pesawat SA-330 Puma.

Kepemimpinan Koopssusgab digilir secara bergantian selama enam bulan. Misalnya, enam bulan pertama Koopssusgab dipimpin oleh Danjen Kopassus (AD), enam bulan kedua Dankomarinir (AL), bulan kemudian dipimpin Dankorpaskhas (AU), dan seterusnya.

Dengan Koopssusgab, TNI memiliki pasukan yang bisa diturunkan secara cepat ketika terjadi situasi genting menyangkut terorisme. Tugas-tugas yang ditangani Koopssusgab sifatnya extraordinary operation.

Moeldoko pun memandang pasukan khusus itu perlu dihidupkan lagi. Sebab, persoalan terorisme saat ini bukan lagi ancaman potensial, tapi faktual. Menurut dia, di hampir semua negara, terorisme dianggap sebagai high intensity sehingga memerlukan penanganan khusus.

Menurut dia, pasukan TNI saat ini amat dibutuhkan dalam menghadapi terorisme di Indonesia.

“Jadi bagian negara adalah penting masyarakat nyaman, aman, tenteram. Siapa aktornya, harus kita bijak, jangan karena berdebat di aktor, penanganan itu menjadi tidak optimum,” katanya.