Demo Soal Relokasi Kedubes AS, Puluhan Warga Palestina Ditembaki Tentara Israel

SURATKABAR.IDSebanyak 55 pengunjuk rasa di Palestina tewas ditembaki oleh tentara Israel. Dari 55 warga Palestina yang ditembak, termasuk di antaranya enam anak di bawah usia 18 tahun.

Peristiwa ini terjadi saat demonstrasi peresmian kedutaan Amerika Serikat di Yerusalem. Tak hanya korban tewas, setidaknya ada lebih dari 2.700 demonstran yang terluka di Gaza.

Kejadian yang berlangsung pada Senin (14/5/2018) ini melukai 203 anak-anak dan 78 wanita. Pemerintah Palestina pun mengecam peristiwa tersebut sebagai  terrible massacre atau pembantaian yang mengerikan.

Hari ini, Selasa (15/5/2018), menjadi hari berkabung nasional untuk Palestina. Sekitar 35.000 demonstran berkumpul di pagar perbatasan dan ribuan lainnya berada dalam jarak setengah mil.

Bentrokan antara demonstran dan pasukan pengamanan Israel juga pecah di Betlehem. Dalam peristiwa itu, merenggut nyawa Anas Hamdan Qudeih (21) yang tewas di timur Khan Yunis.

Baca juga: Gencar Serang Palestina dan Suriah, Faktanya Warga Israel Takut Perang

Sementara itu di seorang pria bernama Mosaab Yousef Ibrahim Abu Laila dihabisi di timur Jabalya. Kekerasan yang dilakukan oleh tentara Israel di Gaza itu disebut sebagai pelanggaran hukum internasional dan hak asasi manusia.

Bagaimana tidak, setengah dari semua korban disebabkan oleh peluru tajam dan ratusan lainnya menjadi korban gas air mata.

Bahkan enam wartawan juga dilaporkan terluka ketika meliput demonstrasi tersebut. Hal ini disampaikan oleh Journalist Support Committe.

IDF mengatakan pesawat angkatan udara Israel tengah menargetkan pos Hamas dekat Jabalya setelah mereka diserang di daerah itu.

Dr. Mkhaimer Abuseda, seorang profesor ilmu politik di Universitas Alazhar, Gaza mengatakan, bahwa relokasi kedutaan Amerika Serikat (AS) dari Tel Aviv ke Jerusalem merupakan hari yang menyedihkan bagi orang Palestina. Hal ini mengingatkan mereka tentang Nakbah (pemusnahan massal) pertama 70 tahun lalu.

“Menurut saya, Palestina telah menganggap bahwa AS tak lagi menjadi perantara yang jujur dalam proses perdamaian Timur Tengah antara Palestina dan Israel,” kata Abuseda dilansir dari RT.com, Selasa (15/5/2018).