Astaghfirullah! Begini Rupanya Trik Puji Kuswati Bujuk 4 Anaknya Ikut Jadi Bomber, Pantas Mau


SURATKABAR.ID – Insiden mengerikan yang terjadi di tiga gereja Surabaya, Minggu (13/5) pagi kemarin menyisakan luka pilu bagi semua orang. Terlebih ketika sosok pelaku di balik peristiwa tersebut berhasil diungkap, satu keluarga yang terdiri dari ayah, ibu dan 4 orang anak mereka.

Hal yang paling tak masuk di akal adalah, 2 anak pelaku diantaranya masih berusia sangat belia. Fakta tersebut membuat masyarakat bertanya-tanya. Pasalnya, orangtua mana yang tega dan sampai hati membawa serta buah hati mereka saat beraksi sebagai pelaku bom bunuhdiri.

Dilansir dari laman Tribunnews.com, Senin (14/5/2018), Kapolri Jenderal Tito Karnavian memaparkan bahwa pelaku ketiga aksi bom di gereja di Kota Pahlawan tersebut masih satu keluarga, yakni keluarga dari Dita Supriyanto, warga Rungkut, Surabaya.

“Alhamdulillah, dari identifikasi sudah diketahui. Pelaku satu keluarga yang melakukan serangan ke tiga gereja,” tutur Jenderal Tito Karnavian ketika mendampingi Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) di Rumah Sakit Bhayangkara Polda Jawa Timur, Minggu (13/5) petang.

Pelaku bertempat tinggal di Perumahan Wisma Indah, Jalan Wonorejo Asri XI, Blok K, Nomor 22. Menurut pengakuan para tetangga, keluarga Dita sudah jarang bersosialisasi dengan warga sekitar. Hal tersebut berlangsung sejak 2 tahun belakangan.

Baca Juga: Terkuak! Seperti Inilah Keseharian Keluarga Bomber 3 gereja di Surabaya, Tetangga Ungkap Sosok Misterius

Padahal Dita sempat menjabat sebagai Ketua Sub RT 2/RT 3, Kelurahan Wonorejo, Kecamatan Rungkut pada 3 tahun yang lalu. Jabatan tersebut kemudian digantikan oleh Adi, warga yang rumahnya tak jauh dari tempat tinggal Dita.

“Orangnya tertutup. Identitas dia tidak pernah ditunjukkan. Bahkan kepada RT,” ungkap Adi yang sudah menjadi warga Perumahan Wisma Indah tersebut sejak tahun 2010, ketika ditemui di rumahnya pada Minggu (13/5). “Jarang ketemu. Kalau ada kumpul-kumpul RT, dia tak pernah datang,” tambahnya.

Sementara pengakuan Adi tentang istri dan anak-anak Dita memang tidak pernah ikut berkumpul dengan warga sekitar. “Rumah itu tidak ada tetangganya yang pernah masuk. Dia kalau ke rumah saya, saya persilakan. Tapi dia tidak pernah (mengajak orang ke rumahnya),” terang Adi.

Istri Dita Sudah Terlanjur Terdokrin Akan Hal Ini

Tanda tanya besar muncul di benak masyarakat, bagaimana cara jitu Dita menarik anak-anaknya dan sang istri menjadi pelaku pengeboman. Dan rupanya, kepala keluarga ini sudah terlebih dahulu menjejalkan doktrin kepada istrinya.

Hal tersebut terbukti dari beberapa postingan akun Facebook milik Puji Kuswati, istri Dita yang sempat menyebutkan tentang kehidupan setelah kematian. Dan ketika istrinya sudah terjerat pemahaman dari Dita, maka bukan hal sulit bagi wanita berusia 43 tahun tersebut untuk membujuk anak-anaknya.

Berikut beberapa diantara unggahan Puji :

Kesulitan di dunia tidak ada apa apanya dibandingkan kesulitan di negeri akherat. Yang memudahkan kita adalah kedekatan kita dengan ALLAH.”

Selalu mengingat ALLAH dan hari esok harus lebih baik. itulah moto bujang kecilnu. Smg ALLAH menguatkanmu nak….”

Banyak orang baik tapi kebaikanya hanya untuk dirinya sendiri bukan untuk ALLAH.”

Tidak diciptakan dua hati dalam satu wadah. Dan telah ditetapkan bahwa konsumsi hati adalah nilai nilai kebenaran dari ALLAH, jadi jika hati(qolbu) diberikan konsumsi selain nilai nilai kebenaran dr ALLAH maka ia akan bocor, tergoncang dan akhirnya rusak. Raih cinta dari ALLAH dg memberi konsumsi qolbu yg benar.”

Sebenarnya sama sekali tidak ada gelagat mencurigakan yang menjadi tanda bahwa keluarga Dita menganut paham radikal. Puji, yang dalam peristiwa pengeboman menggunakan cadar, rupanya dalam kehidupan sehari-harinya berpenampilan normal. “Pakai kerudung iya, tapi tidak pakai cadar,” ujar Adi.