Gawat! Ramai di Medsos, Rupanya Begini Otak Kita Merespons Seruan ‘Kami Tidak Takut’


SURATKABAR.ID – Tagar alias tanda pagar atau hashtag #KamiTidakTakut, #KamiTidakTakutTerorisme atau pun hashtaghashtag lain yang sejenis semakin meramaikan media sosial usai rangkaian bom bunuhdiri para teroris di sejumlah gereja mengguncang Kota Surabaya, Minggu (13/5) pagi tadi.

Tak ada yang salah dari hashtag tersebut. Sayangnya, seruan-seruan ini justru sulit diiyakan begitu saja. Terlebih dengan begitu banyak korban yang berjatuhan. Ditambah lagi dengan foto dan rekaman korban tanpa sensor. Semua hal itu semakin menambah rasa takut di dalam diri kita.

Dokter spesialis kejiwaan Suzy Yusna Dewi, psikiater dari Rumah Sakit Jiwa dr Soeharto Heerdjan, seperti yang dilansir dari laman Detik.com, Minggu (13/5/2018), mengungkapkan rasa takut merupakan suatu hal yang sangat teramat wajar. Pasalnya, takut adalah naluri yang dimiliki oleh setiap manusia.

“Naluri manusia itu pasti takut, itu wajar,” tutur dokter Suzy Yusna Dewi yang kemudian menekankan agar sikap ‘Kami Tidak Takut’ hanya cukup dimaknai sebagai simbol. “Tidak takutnya kan, dalam tanda kutip saja,” jelasnya lebih lanjut.

Baca Juga: Jangan Percaya Lagi! 5 Kepercayaan Tentang Otak Selama Ini Ternyata Mitos

Lain lagi dengan psikolog Rahajeng Ika. Menurutnya, daripada menyerukan kalimat untuk tidak takut, akan jauh lebih baik menggunakan seruan yang memiliki makna positif. Ia menyarankan menghindari kalimat yang bersifat provokatif dan dapat memancing situasi semakin panas.

“Kata ‘Tidak’ memang nggak seharusnya digunakan. Karena dibaca otak ‘Saya Takut’,” jelas psikolog yang lebih akrab disapa Ika tersebut dengan singkat.

Pendapat yang sama juga diungkapkan psikolog Liza Marielly Djaprie. Diwawancarai usai aksi teror di Jalan MH Thanrin, Jakarta Pusat pada awal 2016 silam, ia menjabarkan bahwa kata-kata positif lebih dianjurkan dalam Neuro-linguistic programming (NLP) jika ingin menanamkan sugesti tertentu.

“Sama seperti anak kecil. Kalau dilarang-larang ‘Jangan pegang panci, panas’, dalam kepalanya malah muncul sugesti untuk memegang. Dengan sugesti ‘Kami Tidak Takut’, amit-amit kalau suatu saat terjadi teror serupa, khawatirnya justru muncul rasa takut,” tutur Liza ketika diwawancarai pada waktu itu.