Terungkap! Inilah Misteri Kokohnya Menara Pisa yang Miring


SURATKABAR.ID – Disebut-sebut sebagai salah satu keajaiban dunia, Menara Pisa di Italia mulai dibangun sejak 1173 namun baru rampung pada 1372. Menara tersebut baru diselesaikan setelah melalui beberapa tahap konstruksi yang sempat berhenti beberapa kali. Menara dengan delapan tingkat ini rupanya memang telah miring sejak awal. Dengan tujuh lonceng di lantai teratasnya, Pisa mulai terlihat miring setelah tingkat ketiganya rampung dibangun pada 1178. Bangunan itu miring karena sebagian tanah fondasinya amblas.

Lantaran miring, maka pembangunan menara itu sempat dihentikan cukup lama. Meski condong, ternyata bangunan tiga tingkat ini tetap kokoh berdiri sehingga hampir seabad kemudian, tepatnya pada 1272, pembangunan menara itu mulai dilanjutkan. Demikian dikutip dari reportase Kumparan.com, Sabtu (12/05/2018).

Kelanjutan pembangunan Menara Pisa ini tidaklah lancar. Sempat mandek juga pada tingkat ketujuh, pembangunan menara yang terdiri dari lantai dasar dan lantai 1-7 ini barulah selesai secara keseluruhan pada 1372.

Kendati Menara Pisa telah berdiri miring sejak lebih dari 800 tahun lalu, nyatanya bangunan tersebut tetap kokoh sampai sekarang. Padahal, sejak 1280, sedikitnya ada empat gempa bumi besar yang melanda kawasan tempatnya berdiri. Namun hingga kini, menara setinggi 58 meter itu tetap kokoh berdiri dan bahkan tidak rusak.

Dynamic Soil-Structure Interaction/DSSI

Maka pertanyaan pun mencuat, mengapa menara itu tetap bisa bertahan walaupun wilayah tempatnya berdiri pernah beberapa kali mengalami gempa besar?

Baca juga: Seram! 6 Ritual Aneh yang Mendunia, 3 di Antaranya dari Indonesia

Pertanyaan yang telah muncul sejak berabad-abad lalu inilah yang kemudian membuat sekelompok tim riset yang terdiri dari 16 insinyur terkemuka berusaha untuk menyelidikinya. Dalam riset ini, para peneliti mempelajari berbagai informasi seismologi, geoteknik dan struktur yang tersedia terkait Menara Pisa.

Dari hasil mempelajari berbagai aspek tersebut, mereka kemudian menyimpulkan bahwa ketahanan menara itu terkait dengan fenomena yang dikenal sebagai interaksi struktur tanah dinamis (dynamic soil-structure interaction/DSSI).

Profesor George Mylonakis, dari Departemen Teknik Sipil University of Bristol, Inggris, yang bergabung dalam tim riset tersebut karena diundang oleh pemimpin tim riset yakni Profesor Camillo Nuti dari Roma Tre University, Italia, menerangkan bahwa ketahanan Menara Pisa disebabkan karena adanya kombinasi yang unik antara ketinggian dan kekakuan menara tersebut dengan kelembekan tanah pondasinya.

Ketinggian dan kekakuan Menara Pisa yang besar dikombinasikan dengan kelembekan tanah pondasinya menyebabkan karakteristik getaran struktur termodifikasi sedemikian rupa sehingga menara pun tidak beresonansi dengan gerakan tanah ketika gempa.

Inilah yang menjadi kunci kekokohan Menara Pisa sampai sekarang. Kombinasi unik dari kedua karakteristik itulah yang membuat menara lonceng tersebut pantas memegang rekor dunia dalam efek DSSI.

“Tanah yang sama yang menyebabkan ketidakstabilan yang miring dan membawa menara itu ke ambang kejatuhan, dapat dikreditkan karena membantu merana itu bertahan dari peristiwa-peristiwa seismik ini,” ungkap Mylonakis, dikutip dari laman University of Bristol.

Hasil riset Mylonakis bersama 15 insinyur lainnya itu telah dipresentasikan di lokakarya internasional. Namun secara resmi hasil riset ini baru akan diumumkan di European Conference on Earthquake Engineering ke-16 yang bakal berlangsung di Thessaloniki, Yunani pada 18 hingga 21 Juni 2018 nanti.