Misteri Batu Talada, Saksi Bisu Ritual Mengorbankan Anak Gadis


SURATKABAR.ID – Nama Batu Talada atau batu sabda yang terletak di Desa Peling, Kecamatan Siau Barat, Kabupaten Kepulauan Sitaro, Sulut, konon menambah seramnya cerita mistis seputar batu tersebut dan misteri Pulau Karangetang. Bahkan, tempat ini disakralkan oleh penduduk lokal karena telah menjadi saksi bisu pengorbanan nenek moyang mereka. Bagaimana kisah lengkapnya?

Sekira pukul 08.00 WITA, cahaya surya menyinari Pulau Siau. Sejak malam, wartawan Don Ray Papuling sudah mempersiapkan diri untuk menuju Batu Talada, bersama salah satu wisatawan asal Inggris Bhend Wood, serta tour guide Dominik Derek, bertemu di Loby Hotel Jakarta, Ulu, Kecamatan Siau Timur. Dengan perasaan yang bergejolak, tim ini kemudian bertolak menggunakan sepeda motor untuk pergi ke lokasi Batu Talada. Demikian seperti dilansir dari laporan JPNN.com, Rabu (02/05/2018).

Menempuh jarak delapan kilometer dan memakan waktu sekira 30 menit perjalanan dari Ulu, tiba di Kampung Peling, rombongan langsung dijemput Soni Derek, saudara dari Dominik, yang akan menuntun menuju pendakian Batu Talada.

“Dom,” panggil Soni, yang saat itu, duduk di depan teras rumahnya. Seraya merapat, Soni langsung mengutarkan. “Kalian sudah siap? Atau mau minum teh dulu,” tuturnya ramah.

“Iya, kita mau minum teh dulu, sebab tadi terburu-buru,” timpal Dom. Sambil menyuruh menyiapkan, teh, kami berbincang-bincang, untuk menanyakan pada Soni, tentang cerita asal mula Batu Talada atau batu sabda (perintah).

Baca juga: Merinding! Inilah 5 Tradisi dan Ritual Paling Ekstrem di Dunia

Dengan nada serius, ia mulai menjelaskan perlahan, tentang keberadaan Batu Talada, yang konon dipercaya masyarakat sekitar, sebagai tempat ritual sakral para petapa zaman dulu untuk mencari kesaktian. Serta merupakan media tempat melakukan pengorbanan manusia.

“Kami juga tidak tahu pasti, tahun berapa pertama Batu Talada dikenal, namun itu telah diketahui jauh dari nenek moyang kami, bahkan sebelum masuknya agama di Pulau Siau,” imbuhnya. Soni pun mulai mengurai kisah awal yang diketahuinya.

“Jadi pada zaman dulu, sebelum masuknya agama, dan berbagai budaya asing, kita khususnya di Pulau Siau, terlibat perang antarkampung, dalam memperebutkan wilayah kekuasaan,” ia menjelaskan.

Waktu itu, lanjut Soni, ada seorang pengembara yang tidak diketahui namanya, melakukan perjalanan untuk pergi ke tempat gaib, guna mencari kesaktian melindungi desanya.

“Setelah sekian lama berkelana akhirnya pengembara ini menemukan sebuah batu besar. Objek ini diyakininya memiliki kekuatan gaib, sehingga ia memutuskan melakukan pertapaan selama 30 hari,” ujarnya.

Dalam pertapaannya, ia sering didatangi oleh berbagai macam hewan dengan ukuran yang besar, hingga dua bidadari. Namun semua itu tak dihiraukan si pengembara. Setelah berhasil mencapai puncak kekuatan, ia kemudian menguji kesaktiannya dan melukis Batu Tuldada dengan jari, yang dipercaya masyarakat, lukisan di batu tersebut merupakan hasil dari kesaktian si pengembara.

“Tak sampai di situ, Batu Tulada ini juga memiliki sejarah dan cerita kelam,” sebut Soni yang membuat sekujur bulu kuduk kami langsung berdiri.

Sebab ia melanjutkan, ada suatu masa, di mana Batu Talada (Sabda) ini, menjadi saksi bisu pengorbanan manusia pada zaman dahulu, karena dijadikan pedoman serta lokasi dalam para leluhur untuk menerima petunjuk dari Dewa Aditinggi, yang dipercaya merupakan jelmaan Gunung Karangetang.

“Dimana Batu Tulada merupakan media untuk melakukan ritual sundeng (penyembahan) dengan mengorbankan manusia yang kala itu dipercaya untuk mencegah bencana letusan gunung berapi. Dalam ritual sundeng, warga akan mengorbankan anak gadis, yang berasal dari budak, anak yatim, maupun yang telah dianggap melanggar peraturan,” sahutnya.

Soni mengungkapkan ritual sundeng dilaksanakan atas perintah pemimpin yang disebut Kulano atau Jogugu, yang telah mendapatkan wahyu dari dukun, yang saat itu memegang posisi penting, sebagai penasehat spiritual.

Usai mendengar cerita Batu Talada, kami pun semakin bergairah, untuk mengunjungi tempat sakral tersebut. Soni pun langsung menuntun kami mendaki ke arah gunung, tepatnya di Kaki Gunung Tamata, dengan waktu tempuh sekira 30 menit.

Setibanya di sana, kami dibuat takjub dengan kealamian, yang ada di sekitar. Berbagai pohon besar, serta dinding batu yang terletak di ketinggian kurang lebih 100 meter dari permukaan laut, tepatnya di atas Desa Peling.

Misteri Gambar Seperti Lukisan Anak TK

Saat menatap ke arah batu yang mencapai 50 meter tersebut, kami langsung disuguhi pemandangan yang tergolong lucu, di mana terdapat gambar empat manusia dengan berbagai ukuran yang mirip lukisan anak TK, yang menggunakan kapur. Dengan perasaan bercampur aduk, kami pun bertanya, apakah ini gambarnya, yang diiyakan oleh Soni dan Dominik.

Dengan sedikit gugup, Dominik mengakui, kalau dirinya sudah kedua kalinya datang ke situ.

“Yang pertama saya datang sendiri, untuk membuktikan gambar tersebut tidak bisa dihapus,” sahutnya dengan menunjuk gambar orang yang paling besar di antara keempatnya.

Sebelumnya, aku Dom, dirinya, sempat menghapus gambar tersebut, menggunakan sikat gigi, yang sengaja dibawanya, bersama air mineral, untuk membasuh.

“Memang kelihatan gambarnya memudar, namun, setelah airnya mengering, justru, gambar tersebut kembali tampak. Tentu saja ini membuat saya kagum, namun sedikit takut, sebab di sekitar sini konon angker,” paparnya perlahan, yang membuat kami bergidik.

“Sebab pernah waktu saya datang sendiri, sempat melihat sosok anak kecil, namun ketika mendekat tentu saja, tidak ada siapapun, pokoknya waktu itu seperti kehilangan fokus. Belum juga, saat akan menuruni gunung, dari sekitar sini, saya mendengar ada tangisan anak kecil, sehingga membuat saya kapok datang sendiri,” tukasnya.

Sementara itu, wisatawan asal Inggris Bhend Wood, mengaku takjub dengan nilai historis yang ada dalam batu tersebut.

“Karena selain aneh, tidak bisa dihapus, batu ini memiliki kisah yang patriotik, serta tragis. Sehingga mengunjungi Batu Talada merupakan pengalaman yang seru dan sulit dilupakan, serta hal ini tentu saja akan menarik minat arkeolog untuk meneliti tahun batu ini, sebab masih misterius, mungkin saja ini merupakan situs pra sejarah,” tutupnya.