Mulut Jenazah Keluar Belatung dan Kotoran, Ternyata Ini yang Dilakukannya Semasa Hidup?


SURATKABAR.ID – Apa yang terjadi pada jenazah biasanya merupakan balasan atas perbuatannya selama hidup di dunia. Meski sulit diterima akal sehat, ini menunjukkan kuasa Allah SWT.

Dilansir tribunnews.com, November 2017 lalu, peristiwa ini merupakan kisah nyata proses penguburan seorang pejabat di salah satu kota Jawa Timur.

Nama pejabat tersebut sengaja tak disebutkan untuk menjaga nama baik jenazah dan keluarga yang ditinggalkan. Namun, kisahnya bisa menjadi pelajaran bagi yang lainnya.

Kisah ini disampaikan oleh pengurus jenazah bernama Wahyudi Wahidin yang merupakan sahabat Ustad Yusuf Mansur. Kala itu ia diminta anak almarhum untuk mengurus jenazah bapaknya.

Baca juga: Perut Jenazah Bergerak-gerak Saat Dimandikan, Sebelum Meninggal Ia Sedang…

Namun, begitu ia masuk ke rumah tersebut, langsung tercium bau busuk amat menyengat. Padahal, jenazah belum lama meninggal. Belum lagi wajah jenazah yang seakan dipenuhi kecemasan dan rasa takut.

Wahyudi saat itu dibantu oleh dua orang yang pernah ia ajari cara mengurus jenazah. Tapi, selama mengurus jenazah beragam peristiwa aneh dan menakutkan terjadi.

Pertama saat mengurut perut jenazah untuk mengeluarkan kotoran. Kotoran bukannya keluar melalui dubur jenazah, tapi melalui mulutnya.

Dua kali Wahyudi mengurut, dua kali pula hal serupa terjadi. Hingga yang ketiga kalinya, bukan lagi kotoran yang keluar, melainkan ulat yang menggeliat-geliat seperti belatung.

Saat melihat hal ini, wajah anak almarhum langsung terkejut. Begitu pula dua orang yang membantunya, seakan menyembunyikan sesuatu.

“Ini adalah ujian dari Allah kepada kita,” ujar Wahyudi yang kemudian meminta seluruh anak almarhum berkumpul.

Ia memiliki 7 anak laki-laki. Satu orang di luar negeri, sementara 6 lainnya ada di rumah. Ia pun menasihati anak-anaknya.

Ia mengingatkan bahwa tugasnya hanyalah untuk membantu, sedangkan sisanya adalah tanggung jawab ahli waris jenazah. Oleh sebab itu, sebagai anak tentu lebih afdhal mengurus jenazah bapak mereka dibanding dirinya.

Ia pun meminta bantuan untuk menunggingkan jenazah. Tiba-tiba, keluarlah ulat-ulat yang masih hidup. Jumlahnya hampir sebaskom yang ukurannya lebih besar dari tudung saji meja makan. Hal ini tentu membuat suasana makin tegang.

Setelah jenazah selesai di urus, ternyata tak ada mobil jenazah atau ambulans yang bisa digunakan untuk membawanya ke pemakaman. Bahkan, setelah menghubungi kelurahan, masjid, dan pusat Islam, juga tak ada mobil yang bisa digunakan.

Hingga kemudian, salah satu tetangganya mengeluarkan mobil van dari garasi rumahnya dan menawarkan untuk membawa jenazah dengan mobilnya.

Tapi, tiba-tiba istri tetangga tersebut keluar dan meneriaki suaminya. “Mas, saya tidak izinkan mobil kita ini digunakan untuk mengangkat jenazah itu, semasa hidupnya dia tidak pernah mengizinkan kita naik mobilnya,” ujar wanita tersebut.

Alhasil, mobil tersebut urung digunakan. Tak lama kemudian, muncul pria lain yang menawarkan mobilnya. Namun, mobil ini sebenarnya sebuah lori yang digunakan untuk menjual ayam ke pasar. Karena tak ada jalan lain, diangkutlah jenazah menggunakan mobil itu.

Sesampainya di pemakaman Wahyudi meminta 3 anak almarhum turun ke liang lahat, sementara 3 lainnya menurunkan dari atas. Namun, saat tanah yang tadinya kering, tiba-tiba keluar air hitam berbau busuk saat jenazah menyentuh liang lahat.

Setelah itu, liang lahat segera ditimbun dengan tanah. Anehnya, tanah yang digunakan menimbun malah menjadi becek saat dipadatkan.

Meski begitu, akhrinya Wahyudi seera membacakan tahlil dan doa. Kemudian kembali ke rumah almarhum. Wahyudi juga sempat menanyai anak san istri almarhum mengenai kebiasannya semasa hidup.

Tapi, mereka semua bungkam. Tak ada satupun yang mau mengatakan apa yang telah dilakukan almarhum semasa hidupnya.