Ngeri! Situs Pembantaian 140 Bocah Ditemukan, Fakta di Baliknya Bikin Tercengang


SURATKABAR.ID – Penemuan situs bersejarah selalu sukses menyisakan tanda tanya besar penuh misteri, baik bagi para arkeolog itu sendiri maupun masyarakat umum. Seperti penemuan situs terbaru yang terletak di Huanchaquito-Las Llamas, Trujillo, Peru.

Para arkeolog tersebut, seperti yang dilansir dari Grid.ID, Sabtu (28/4/2018), merupakan interdisipliner international Universidad Nacional de Trujillo dan Tulane University. Mereka dibikin terbelalak tak percaya mendapati fakta di balik penemuan situs tersebut.

Jika dalam ritual bangsa Aztec, Maya, dan Inca hanya melibatkan sejumah kecil manusia saja, maka berbeda halnya dengan sejarah yang terjadi di situs Huanchaquito-Las Llamas. Pasalnya, arkeolog menemukan 140 orang anak kecil yang dikorbankan secara massal sebagai persembahan ritual.

Bukan hanya itu saja. Fakta yang paling bikin bulu kuduk berdiri adalah, sebagian korban dalam ritual tersebut dihabisi berbarengan dengan Llama (sejenis unta khas Amerika Selatan). Mereka kemudian dikubur bersama-sama dalam satu liang.

Penemuan situs tersebut diklaim oleh para arkeolog, menjadi bukti nyata yang cukup mengerikan tentang adanya acara ritual persembahan terbesar dalam sejarah umat manusia, di mana melibatkan lebih dari 100 orang anak berusia sangat muda.

Baca Juga: Merinding! Inilah 5 Tradisi dan Ritual Paling Ekstrem di Dunia

Awalnya di tahun 2011, para arkeolog hendak menggali situs kuil di Huanchaquito-Las Llamas. Namun penggalian justru membawa mereka ke tumpukan tulang belulang 42 bocah dan 76 Llama. Penggalian terus dilanjutkan hingga pada akhirnya terkumpul tulang belulang dari 140 bocah di tahun 2016 lalu.

Usia dari tulang belulang tersebut diyakini sudah berada di kisaran 618 tahun. Dan hal tersebut menjadi tanda bahwa persembahan ritual yang melibatkan nyawa anak-anak sudah dilakukan sekitar tahun 1400-an ke atas.

Lalu bagaimana mulanya persembahan massal ini diadakan dan apa yang melatarbelakanginya?

Tulang bocah ditemukan bersama tulang Llama

Terkait pertanyaan tersebut, para arkeolog memiliki hipotesis. Sebelum tahun 1475, daerah Huanchaquito berada di bawah kendali Kekaisaran Chimu. Saat itu batas wilayah kekuasaan Kekaisaran Chimu seluas 600 mil di sepanjang Pantai Pasifik Huanchaco (Peru saat itu).

Namun sama halnya seperti kebanyakan pemikiran primitive orang-orang di zaman itu, mereka mengkait-kaitkan segala kejadian dengan hal klenik. Dan ketika itu wilayah Huanchaquito-Las Llamas diluluhlantakkan badai El Nino.

Tempat ditemukannya situs pembantaian bersejarah

Hantaman badai tersebut mengakibatkan suhu lautan meningkat, sehingga mengganggu ekosistem bawah laut yang membuat hasil tangkapan para nelayan menurun drastis. Bahkan badai juga merusak lahan pertanian serta infrastruktur Kekaisaran Chimu yang berada di daerah pesisir Huanchaquito.

Melihat kehancuran tersebut, pihak Kekaisaran Chimu mengklaim badai El Nino merupakan kutukan dari dewa. Mereka pun memutuskan mengorbankan hal yang sangat berharga, yakni anak dan Llama sebagai persembahan agar dewa menghilangkan kutukan berupa badai El Nino.

Penemuan situs mengerikan di Peru

“Orang-orang mengorbankan apa yang paling berharga bagi mereka. Mereka mungkin telah melihat bahwa (pengorbanan orang dewasa tidak efektif. Badai terus datang. Mungkin ada kebutuhan akan korban jenis baru (anak-anak),” jelas Haagen Klaus, profesor antropologi George Mason University.

Hipotesis tersebut bukan tanpa alasan. Para antropolog menjelaskan hipotesis berdasarkan temuan lapisan lumpur dari sisa-sisa badai dan banjir di garis Pantai Huanchaquito yang serupa dengan sisa-sisa badai El Nino yang terjadi di zaman sekarang.

Namun mereka menyebutkan ada hipotesis lain terkait ritual mengerikan tersebut. Diduga Kekaisaran Chimu melakukan pengorbanan anak dan Llama sebagai persembahan kepada dewa agar memberikan mereka kekuatan supranatural sehingga dapat mengalahkan musuh.

Sayangnya, jika benar ritual tersebut digunakan untuk memperoleh kekuatan supranatural, mustahil Kekaisaran Chimu runtuh pada tahun 1475 usai pasukan Inca menyerang tepat beberapa tahun usai ritual persembahan dilaksanakan.

Fakta menarik lainnya adalah, korban anak-anak ternyata tak hanya diambil dari Suku Kekaisaran Chimu, melainkan termasuk anak-anak dari etnis lain. Namun belum diketahui secara pasti apakah hanya bocah laki-laki atau perempuan saja yang dipilih menjadi korban persembahan ritual tersebut.