Media Korea Selatan Sebut Pertemuan Pemimpinnya dengan Kim Jong Un Tidak Memuaskan

SURATKABAR.IDMedia Korea Selatan benar-benar berhati-hati dalam memberikan komentar yang penuh kehati-hatian terkail hasil pertemuan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Antar-Korea pada Jumat (27/4/2018).

Beberapa media bahkan berani menyebut hasil pertemuan itu tidak sesuai dengan harapan mereka karena belum ada komitmen yang lebih kuat untuk denuklirisasi Korea Utara.

Pertemuan antara kedua pemimpin Korea telah dilangsungkan di zona demiliterisasi, tepatnya di Gedung Perdamaian Desa Panmunjom sisi selatan.

Presiden Korea Selatan Moon Jae-in dengan Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un telah sepakat untuk mewujudkan perdamaian yang permanen dan denuklirisasi total di Semenanjung Korea melalui Perjanjian Panmunjom yang ditandatangani bersama.

Salah satunya Harian Chosun yang menyebut perjanjian itu positif dalam mencairkan hubungan antara kedua negara yang masih berperang, namun tetap meninggalkan banyak hal dalam tercapainya denuklirisasi.

Baca juga: Kim Jong Un Tulis Pesan Mengejutkan dalam Buku Tamu KTT Antar-Korea

Surat kabar tersebut bahkan menyebut Perjanjian Panmunjom adalah sebuah kemunduran dari kesepakatan 2005, di mana Korea Utara telah berjanji akan meninggalkan senjata dan program nuklirnya, serta mengizinkan verifikasi oleh inspektur dari luar.

“Bahkan jika kesepakatan tercapai untuk denuklirisasi Korea Utara pada KTT AS-Korut mendatang, masih diperlukan waktu untuk menghapus fasilitas nuklir mereka,” tulis harian itu dikutip dari Kompas, Sabtu (28/4/2018).

“Untuk memastikan Korea Utara tidak menunda-nunda seperti yang dilakukannya 25 tahun terakhir, sanksi dan tekanan terus menerus tetap diperlukan,” tambahnya dikutip AFP.

Harian Joonggang menyebut KTT Antar-Korea tetap membawa situasi yang berbeda dibandingkan beberapa bulan sebelumnya saat AS dan Korut saling membanggakan tombol nuklirnya.

“Tapi itu juga mengungkap bahwa ada jalan panjang sebelum denuklirisasi,” tulis harian itu.

“Tidak pernah disebutkan pendapat Kim tentang denuklirisasi, kapan dan bagaimana hal itu akan dilakukan.”

“Karenanya perjanjian yang baru bisa dipandang hanya sebagai titik awal perjalanan panjang menuju denuklirisasi,” tambah surat kabar itu.