Kirim Tentara Wanita Ikut Sesko, Panglima TNI Cetak Sejarah Baru


SURATKABAR.ID – Marsekal Hadi Tjahjanto selaku Panglima TNI  mencetak sejarah baru dengan mengirimkan anggota TNI wanita dari tiga matra. Ketiga tentara perempuan tersebut dikirimkan untuk ikut pendidikan Sekolah Staf dan Komando Tentara Nasional Indonesia atau (Sesko TNI).

“Jadi, kita lakukan satu apresiasi untuk wanita Indonesia, khususnya di wanita TNI mulai tahun ini kita ikutkan mereka dari matra darat, laut, dan udara dalam pendidikan tertinggi, yaitu Sesko TNI,” ungkap Panglima Hadi dalam Apel Hari Kartini di Lapangan Silang Monas, Jakarta, Rabu (25/04/2018). Demikian sebagaimana dilansir dari reportase Liputan6.com.

Cetak Sejarah Baru

Menurut jenderal bintang empat ini, langkah tersebut adalah yang pertama dalam sejarah militer Indonesia. Hadi ingin membuktikan bahwa peran wanita di tubuh TNI akan setara.

“Ya, jadi hampir selama ini mulai adanya Republik ini, belum pernah (korps wanita TNI) mengikuti pendidikan Sesko TNI. Ini bukti bahwa peran wanita juga sama dengan peran pria,” dia menjelaskan.

Diketahui, pengiriman pertama tiga wanita TNI ke Sesko TNI ini sudah dilakukan pada 24 April 2018 di Bandung, Jawa Barat. Sekolah Staf dan Komando Tentara Nasional Indonesia atau (Sesko TNI) adalah Lembaga Pendidikan tertinggi TNI. Visinya membentuk Perwira TNI yang andal, profesional dan proporsional.

Baca juga: Tak Disangka, Ternyata Seragam Militer NATO dan Jerman Buatan Solo
Temui Ulama

Sebelumnya, Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto bersama Kapolri Jenderal Tito Karnavian menemui sejumlah ulama di Jawa Barat. Pertemuan itu merupakan langkah upaya demi memperkuat soliditas kebangsaan di tahun politik.

Hal ini disampaikan oleh Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Majelis Dzikir Hubbul Wathon (PB MDHW), Hery Haryanto Azumi, yang mendampingi rombongan Panglima TNI dan Kapolri.

“Salah satu poin penting yang dibahas dalam pertemuan Panglima, Kapolri, dan ulama terkait upaya memperkuat soliditas kebangsaan di tahun politik,” tukas Hery Haryanto Azumi dalam keterangannya, Minggu (22/04/2018) lalu.

Hery menambahkan, tiga elemen bangsa itu membuat kesepahaman sebagai bentuk soliditas dan sinergitas membangun bangsa melalui tugasnya masing-masing.

“TNI, Polri dan ulama sinergi membangun bangsa. Semua elemen ini punya tugas masing-masing. Forum silaturrahim itu tentu untuk membangun kesepahaman,” imbuhnya.

KH Miftah selaku Pengasuh Pesantren Benda Kerep Cirebon menuturkan sinergitas antara umara dengan ulama bukanlah hal baru. Ulama terdahulu—baik sebelum maupun pasca-kemerdekaan—telah melakukan hal yang sama.

“Ulama punya tanggung jawab menjaga Tanah Air. Ulama mencintai Tanah Air (hubbul wathon),” pungkas KH. Miftah.