Jelang Pernikahan Dini, Beginilah Curahan Hati Pilu Si Bocah SMP Bantaeng


    SURATKABAR.ID – Beberapa waktu lalu, warga dikejutkan dengan kabar rencana pernikahan dini Fitrah Ayu (14) dengan Syamsuddin (16). Sejak berita mencuat, bocah yang masih duduk di bangku sekolah menengah pertama ini terus berjuang menghindari para wartawan dan orang yang penasaran.

    Bahkan, pelajar yang tinggal di Kelurahan Letta, Bantaeng, Sulawesi Selatan ini sampai harus mengungsi ke rumah kerabat demi menyelamatkan diri dari incaran publik yang ingin mengulik kisah hidupnya atau yang sekedar mencibir rencana pernikahan dini tersebut.

    Fitrah menanyakan kesalahan rencana pernikahannya. Pasalnya, menurut pelajar SMP ini, menikah di usia dini tidak menyalahi aturan. Bahkan ada beberapa pasangan yang menikah jauh di bawah usianya saat ini, diwartakan CNNIndonesia.com, Minggu (22/4/2018).

    Ketika membaca salah satu pemberitaan di media, ia semakin emnunjukkan raut wajah yang kecut. “Duh, kebelet-nya itu dong. Nda-nya ji. Bikin sakit hati saja,” keluhnya gusar sambil bersembunyi di sela ketiak sang tante, Nurlina (34), pemilik rumah tempatnya tinggal sekarang.

    Remaja SMP yang tinggal di jalan sungai Cilandu, yang merupakan wilayah pesisir ini dipertemukan dengan laki-laki bernama Syamsuddin, warga Bonto Tiro, ketika mengunjungi Pantai Seruni beberapa bulan lalu. Keduanya pun menjalin hubungan asmara selama lima bulan.

    Baca Juga: Pasangan Bocah SMP di Bantaeng Batal Menikah, Ini Penyebabnya

    Singkat cerita, niatan keduanya untuk segera menikah mendapatkan lampu hijau. Keluarga Syamsuddin pun mengunjungi keluarga Fitrah dan membicarakan segalanya. Tokoh masyarakat, imam desa, serta beberapa pemangku kepentingan di kelurahan Letta diundang untuk berembuk.

    Usai rembukan, disepakati tanggal 1 Maret 2018 merupakan waktu yang tepat untuk menggelar pesta pernikahan. Persyaratan diurus, undangan pun disebar. Namun tiba-tiba rencana yang sudah tersusun rapi buyar karena calon pengantin disebutkan tak memenuhi syarat untuk menikah.

    Na undangan sudah beredar. Jadi tetap kita lakukan resepsi. Akad nikahnya yang belum,” jelas Nurlina yand disarankan untuk menempuh jalur ke Pengadilan Agama meminta dispensasi terkait kasus pernikahan dini sang keponakan.

    Di pengadilan, pasangan remaja tersebut menjalani persidangan dua kali, masing-masing pada 23 Maret 2018 dan 3 April 2018. Hadir sebagai saksi, dari keluarga mempelai pria dan juga mempelai wanita. Permohonan akhirnya dikabulkan. Namun masih menunggu surat rekomendasi Camat.

    Surat permohonan tersebut kini sudah masuk, tetapi belum keluar. Nurlina menyampaikan, “Jadi kalau tidak ada halangan, karena keluarga bilang itu Senin 23 April, hari baik. Jadi nanti akad nikah di hari itu besok pagi jam 10.00 WIB.”

    Putus Sekolah

    Merupakan anak kedua dari tiga bersaudara, Fitrah memiliki kakak sulung bernama Nur Indah (17), dan adik bungsu bernama Cahyana Tri Salsabila (5). Ayahnya, Muhammad Idrus Saleh (40), sementara sang ibu, Darmawati (34), sudah terlebih dahulu meninggal pada hari ke-10 Ramadan tahun 2016 lalu.

    Baik Nur Indah, sang kakak, dan dirinya sama-sama tak melanjutkan pendidikan sekolah menengahnya. Jika si sulung bekerja di toko roti dan toko elektronik, Fitrah bekerja sebagai pelayan di kedai makanan di Pantai Seruni sepulang sekolah hingga pukul 12 malam dan harus lembur sampai pukul 03.00 WIB jika akhir pekan.

    Sebagai upah, Fitrah menerima Rp 30 ribu per hari di hari biasa, dan malam minggu sebesar Rp 50 ribu. Penghasilan tersebut ia gunakan untuk membeli kebutuhan sehari-hari. Mulai dari beras, jajan untuk sang adik, hingga membeli voucher listrik.

    Harus bekerja hingga malam hari membuat Fitrah mendapat cap negatif di sekolah. “Saya dibilangi anak nakal. Juga pakai narkoba. Biasa juga mengantuk di sekolah, tapi guru mengerti ji,” tutur pelajar yang kemudian memutuskan berjenti sekolah pada kelas 2 SLTP Negeri 2 Bantaeng.

    Sementara sang ayah, Muhammad Idrus Saleh yang hanya bekerja serabutan sebagai kuli bangunan di Makassar tak dapat memenuhi kehidupan ketiga anaknya. Bahkan beberapa kali uang kirimannya telat. “Kalau nda adami kodong na makan, ke rumahmi. Atau ke rumah keluarga lain,” jelas Nurlina.

    Fitrah menuturkan rencananya setelah menikah nanti. Ia akan tinggal bersama suami yang kini bekerja sebagai tukang batu, di rumah mertua. Ia juga akan melanjutkan sekolah dan menunda kehamilan. Fitrah juga menyampaikan jika adik bungsunya bisa ikut dengannya jika diizinkan mertua.

    “Syam, kerja juga sebagai tukang batu. Kalau sudah gajian, dia biasa belikanka kerudung. Nanti kalau sudah resmi menikah, saya tinggal di rumah mertua. Saya mau tetap sekolah. Tunda hamil dulu. Nanti kalau Cahya mau ikut, saya mau sekali. Mudah-mudahan mertua mau. Mauka pelihara adikku,” katanya.

    Remaja ini juga menyampaikan tekadnya untuk bisa membawa adikknya meraih kesuksesan dan cita-citanya kelak. “Kalau cita-cita saya jadi dokter, mungkin nda bisa mi. Tapi mudah-mudahan Cahya bisa,” ujar Fitrah.