Tukar Pasangan Melalui Swinger dan Risiko Kesehatan yang Mengintai Dibaliknya


    SURATKABAR.ID – Beberapa hari ini, publik dikejutkan dengan pemberitaan tentang penangkapan komunitas pelaku swinger (pertukaran pasangan). Praktik s*eks pertukaran pasangan ini tentu bukan tanpa risiko. Ada konsekuensi kesehatan yang mengintai para pelakunya.

     “Bukan pria yang berselingkuh, tak boleh ada yang terlalu muda atau terlalu tua, selalu pakai kondom, dan kami tak mau berhubungan s*eks saat pertama kali bertemu,” demikian cerita yang dimuat dalam laman The Guardian. Dikatakan bahwa pernyataan tersebut dikirim oleh seorang istri yang mengaku melakukan praktik tukar-pasangan atau swinging.

    Swinger, julukan yang disematkan pada pasangan atau lajang yang memiliki hubungan terbuka ini, memang membebaskan pasangannya melakukan hubungan seksual dengan orang lain. Mereka mendapatkan kepuasan ketika melihat atau melakukan aktivitas s*eks bersama pasangan lain, seperti dilansir dari laman Tirto.ID, Jumat (20/04/2018).

    Seperti yang kembali dituliskan si wanitanya, “Kami melakukannya satu atau dua kali dalam sebulan. Setelah melakukannya, kami pulang dan melakukan s*eks yang membara.”

    Saat itu, suaminya meminta sang istri melakukan hubungan intim bersama pria lain. Mereka mencari partner swing secara online. Profesi swinger yang mereka temui beragam, mulai dari guru, dokter, bahkan banker.

    Baca juga: Polda Jatim Bongkar Komunitas Tukar Pasangan Suami Istri, Fakta di Baliknya Bikin Bergidik

    “Tak ada jatuh cinta, tak ada cemburu,” ujar wanita tersebut.

    Berawal dari Ketidakpuasan Terhadap Pasangan Resmi

    Selain mendapat kenikmatan menonton pasangannya berhubungan intim dengan orang lain, ada beberapa alasan para pelaku swinger melakukan hal ini. Salah satunya dikarenakan ketidakpuasan seksual dari pasangan resmi. Bisa jadi karena lelah atau sedang dalam masa jeda setelah melahirkan.

    Namun, terlepas dari itu semua, aktivitas swinging cukup berisiko. Syarat yang diajukan sang perempuan dalam tulisannya di The Guardian menunjukkan ia menjaga diri dari risiko penyakit menular seksual (STD) yang bisa ditimbulkan.

    Risiko Tinggi Penyakit Menular Seksual

    Lebih lanjut, sebuah penelitian di Belanda menyatakan para swinger heteroseksual berisiko mengalami penyakit menular seksual sebanding dengan pria gay atau biseksual. Keduanya dianggap kelompok berisiko tinggi mengidap penyakit herpes—infeksi yang disebabkan oleh virus.

    Mereka juga berisiko terkena HIV yang merupakan virus penyebab AIDS. Virus ini menyerang imunitas, sehingga tubuh menjadi lemah dalam melawan infeksi. Swinger juga berisiko menderita klamidia, penyakit menular seksual yang salah satunya disebabkan oleh hubungan intim tanpa kondom. Masalah kesehatan ini kerap diderita wanita muda yang aktif secara seksual. Terakhir yakni risiko terhadap gonore atau kencing nanah, yang umumnya disebabkan oleh bakteri Neisseria gonorrhoeae.

    Para periset mengumpulkan data dari sembilan ribu kunjungan pasien di tiga klinik kesehatan pada 2007 hingga 2008 di Limburg Selatan. Hasil pengamatan tim mengungkapkan sebanyak 50 persen diagnosis penyakit klamidia dan gonore terdapat pada swinger. Jumlah ini lebih besar dibanding yang diidap oleh kelompok pria gay sebesar 31 persen.

    Secara keseluruhan, satu dari 10 swinger menderita klamidia, sementara sekitar satu dari 20 swinger dinyatakan positif gonore. Pada swinger yang berusia di atas 45 tahun, risiko terkena penyakit menular seksual akan lebih tinggi dibandingkan dengan swinger di bawah umur tersebut. Pada swinger, pria di atas 45 tahun sekitar 10,4 persen dari mereka mengidap klamidia dan atau gonore.

    Jumlahnya berselisih sekitar 8 persen dibanding pria heteroseksual lainnya, yakni 2,4 persen. Sementara itu, tingkat klamidia di antara pria gay atau biseksual ialah 14,6 persen. Risiko klamidia pada perempuan swinger di atas 45 tahun berada di angka 18 persen. Risiko itu berkisar ada di angka 4 persen pada perempuan heteroseksual, dan kurang dari 3 persen pada pekerja s*eks komersial.

    “Melakukan hubungan seksual dengan lebih dari satu orang pada satu waktu atau secara berurutan, mendorong penyebaran penyakit menular seksual,” tegas H. Hunter Handsfield, seorang profesor kedokteran di pusat AIDS dan STD Universitas Washington.

    Sayangnya, karena melakukan aktivitasnya secara tersembunyi, penyakit menular seksual pada para swinger jadi kurang teridentifikasi. Bahkan banyak di antara mereka kurang menyadari penularan penyakit tersebut.

    Pengaman Tak Membantu Banyak

    Swingers Date Club—sebuah situs kencan untuk para swinger—memperkirakan saat ini ada jutaan swinger di seluruh dunia. Di Belanda saja, ada 30 ribu orang yang telah menjadi anggota dan mengunggah profil online dalam situs tersebut.

    Dituturkan oleh Dr. Cynthia Krause, asisten profesor klinis kebidanan dan ginekologi di New York City, banyak swinger tidak mempraktikkan s*eks yang aman. Padahal, menggunakan kondom amat disarankan jika melihat risiko klamidia dan gonore padaswinger lebih tinggi dibanding kelompok lainnya. Setidaknya, kondom efektif dalam mencegah penyakit menular seksual yang disebarkan oleh cairan tubuh, terutama klamidia, gonore, dan HIV.

    Kendati begitu, tak semua bisa dicegah oleh pengaman berbentuk kondom.

    “Ia (kondom) kurang efektif dalam mencegah infeksi yang menyebar melalui kontak kulit ke kulit, seperti virus HPV, kutil kelamin, kanker serviks, dan herpes,” ujar Cynthia Krause, asisten profesor klinis kebidanan dan ginekologi di New York City tersebut.