Sejuta Akun Facebook di Indonesia Bocor, Apakah Data Anda Termasuk? Cek di Sini!


SURATKABAR.ID – Pihak Facebook dikabarkan  telah menepati janji mereka untuk memberikan notifikasi kepada para korban kebocoran data Cambridge Analyctica. Hal ini telah dilakukan oleh Facebook sejak Senin (09/04/2018) pagi. Para pengguna Facebook akan mengetahui apakah mereka termasuk dalam 87 juta pengguna yang datanya mungkin dibagikan kepada perusahaan konsultan politik di London, Cambridge Analytica.

Facebook mulai mengirim pemberitahuan kepada pengguna tentang ‘”pembobolan data” ini mulai Senin (9/4/2018). Setiap pemegang akun akan mendapatkan notifikasi apakah data mereka terakses atau tidak, demikian dikutip dari reportase Tekno.Kompas.com, Minggu (15/04/2018).

Raja dari social media tersebut mengatakan para pengguna juga akan diperlihatkan aplikasi yang mereka gunakan serta data apa saja yang diperoleh dari aplikasi tersebut. Jika notifikasi ini belum juga diterima, pengguna bisa login ke Facebook dan mengunjungi tautan ini.

Melalui link tersebut, Facebook akan memberi tahu apakah data Anda dipakai oleh Cambridge Analytica atau tidak. Disebutkan bahwa cara ini merupakan langkah yang paling praktis sambil menunggu pemberitahuan resmi dari Facebook. Dalam perkembangannya, Facebook membekukan perusahaan analisis data Cubeyou untuk mengetahui apakah data pengguna diambil untuk kepentingan akademis dan kemudian dipakai secara komersial.

Anda tinggal membuka laman pusat bantuan Facebook atau dengan mengklik tautan di atas. Perlu diingat, saat mengakses laman tersebut, pengguna disarankan sudah masuk ke dalam akun masing-masing untuk mengecek apakah akun tersebut menjadi korban atau tidak.

Baca juga: Habis-habisan! Dicecar Selama 5 Jam dalam Kongres, Bagaimana ‘Nasib’ CEO Facebook?

Jika akun pengguna tidak menjadi korban, maka akan muncul notifikasi yang berbunyi, “Berdasarkan catatan kami, baik Anda maupun teman Anda tidak masuk ke This Is Your Digital Life. Akibatnya, tidak muncul informasi Facebook Anda dibagi dengan Cambridge Analytica oleh This Is Your Digital Life“. Demikian dikutip dari laman OkeZone.com.

Sedangkan jika akun para pengguna Facebook menjadi korban, pihak Facebook akan meminta Anda untuk mengubah pengaturan aplikasi mereka. Di sini, pengguna diminta untuk melepas pemasangan aplikasi This Is Your Digital Life.

Namun sekiranya, tidak ada salahnya Anda mengecek akun Facebook melalui tautan di atas. Selain itu, tidak ada salahnya juga Anda memeriksa daftar aplikasi Facebook dan melepas pemasangan aplikasi yang dirasa sedikit mencurigakan, terutama yang berupa kuis serupa This Is Your Digital Life.

1,1 Juta User Indonesia

Sebelumnya, dilansir dari laman Bangka.TribunNews.com, Facebook mendapat sorotan setelah data tak kurang dari 87 juta pengguna, termasuk 1,1 juta pengguna di Indonesia, terakses oleh Cambridge Analytica. Melalui e-mail yang dikirim ke Bloomberg, Ime Archibong selaku salah satu wakil presiden Facebook mengungkapkan, aplikasi-aplikasi Cubeyou akan dilarang dipasang di Facebook jika tak bersedia diaudit atau tak lolos investigasi.

CNBC yang merupakan salah satu media di Amerika Serikat menduga Cubeyou melakukan seperti apa yang dilakukan Cambridge Analytica, yakni mengambil data pengguna tanpa izin melalui aplikasi kuis ‘You Are What You Like’. Tuduhan tersebut dibantah oleh Cubeyou dan mengatakan sejak awal mematuhi aturan Facebook.

Ditegaskan baik oleh Cubeyou maupun Universitas Cambridge, perguruan tinggi yang diajak kerja sama oleh Cubeyou, bahwa aplikasi kuis secara jelas menyebutkan data pengguna akan dipakai baik untuk kepentingan akademis maupun komersial. Ditambahkan pula bahwa data ini akan dianonimkan.

Cubeyou mengembangkan aplikasi kuis kepribadian dengan menggandeng Pusat Kajian Psikometeri Universitas Cambridge. Salah satu periset di pusat kajian ini tersangkut kasus Cambridge Analytica karena membantu mengembangkan kuis yang belakangan diketahui memanen data dan data itu dimanfaatkan oleh Cambridge Analytica.

Universitas Cambridge membantah bekerja sama dengan Cambridge Analytica atau perusahaan induknya, SCL. Pihak universitas juga menegaskan tak pernah menyediakan data, algoritme maupun kerja-kerja ilmiah untuk Cambridge Analytica. Diketahui, konsultan politik ini terlibat dalam tim Donald Trump di Pemilihan Presiden AS dan di kubu anti-Uni Eropa dalam referendum di Inggris.