Sebarkan Fitnah Terhadap Jokowi, Romi Blak-Blakan Ungkap Dalang di Balik Obor Rakyat


Sehari sebelum pemungutan suara, Warga Kabupaten Jember, Jawa Timur, mendapat kiriman tabloid Obor Rakyat, Selasa (8/7/2014). Foto: Tribunnews

SURATKABAR.ID – Romahurmuziy, Ketua Umum Partai Persatuan Pembangunan (PPP), buka suara tentang asal mula embel-embel komunis dan anti Islam yang diberikan pada Presiden Joko Widodo kini oleh lawan politiknya.

Ia mengungkap bahwa dua label itu sudah bermula semenjak periode kampanye Pilpres 2014. Romi yang ketika itu masih menjadi Sekjen PPP menjabat sebagai Wakil Ketua Bidang Strategi Tim Pemenangan Prabowo Subianto-Hatta Rajasa. PPP ketika itu masuk dalam  Koalisi Merah Putih yang mengusung Prabowo-Hatta.

“Saya katakan dan saya tegaskan bahwa urusan prokomunis itu adalah betul-betul sebuah fitnah dan hoaks. Mengapa? Karena ketika Pak Jokowi diusung jadi Wali Kota Solo dua periode, tidak pernah ada isu demikian,” ujar Romi dalam pidato pembukaan Musyawarah Nasional (Munas) Alim Ulama PPP di Hotel Patra, Semarang, Jumat (13/4/2018).

“Bahkan partai yang sama juga mengusung Pak Jokowi pada Pilgub 2012, tidak muncul isu demikian. Mengapa demikian pada tahun 2014 posisinya berhadapan tiba-tiba muncul isu komunis. Itu artinya ini adalah rekayasa,” lanjut Romi, seperti dilansir dari Tribunnews.com.

Lebih lanjut Romi menjelaskan bahwa ia sempat ditanyai salah seorang ulama ketika berkunjung ke Palu, perihal munculnya label Jokowi komunis dan anti Islam.

Baca juga: Munas Ulama PPP Usai, Nama Romi Tidak Keluar Sebagai Cawapres

“Termasuk dua hari yang lalu kami bertemu dengan Habib Saggaf, Ketua Ulama Ormas Al Khairat, berpusat di Indonesia Timur. (Habib Saggaf tanya) ‘Dek ngana (kamu) adalah orang yang berada di jantung pemenangan waktu itu,” kata Romi menirukan ucapan Habib Saggaf.

Ketika itu ada banyak fraksi baik yang resmi dan tidak di dalam tim pemenangan Prabowo-Hatta. Romi pun mengatakan bahwasaat itu ada yang mengemukakan pemikiran produktif lalu ada juga yang berpikiran provokatif demi kemenangan Prabowo-Hatta.

“Di antara pemikiran provokatif yang muncul pada saat itu adalah bahwa Pak Jokowi adalah anak seorang tionghoa yang bernama Oey Hong Liong, dan dia adalah aktivis PKI. Itu dibuat, dibukukan, dibakukan ke dalam satu tabloid yang bernama Obor Rakyat,” tutur Romi.

Tetapi, menurut pernyataan Romi pihak yang membuat Obor Rakyat tak termasuk bagian dari tim pemenangan dan relawan resmi. Romi mengatakan kalau mereka itu sekedar mendukung Prabowo-Hatta. Ia juga mengaku diminta mengedit Tabloid Obor Rakyat edisi pertama. Ketika Romi membaca kontennya yang ternyata berisi fitnah, ia langsung menolak.

“Saya mengatakan ini fitnah. Kalau nanti Prabowo enggak menang kita bakal dapat masalah. Kalau menang bisa jadi dengan kekuasaan bisa ditutup hukumnya. Tetapi kalau kalah bisa cilaka kita. Maka saya enggak mau melakukan koreksi,” ucap Romi.

Menurut keterangan dari Romi, tabloid tersebut pada saat itu telah diproduksi sebanyak 1 juta eksemplar serta diedarkan ke 28.000 pondok pesantren dan 724.000 masjid yang ada di Pulau Jawa.

Bahkan Romi tahu di mana letak lokasi pencetakan tabloid itu akan tetapi enggan untuk mengungkapnya. Kembali ditegaskan olehnya bahwa isi dari tabloid itu adalah fitnah serta propaganda yang digunakan untuk menyerang Jokowi.

“Saya berada di jantung pertarungan itu dan saya baru kali ini cerita. Kenapa? Karena hari ini pertarungan politik sangat tidak sehat. Dan sudah sangat mengganggu keutuhan kita sebagai bangsa. Karena yang seperti ini harus kita luruskan,” tandas Romi.

“Masyarakat kita di bawah tidak tahu bahwa itu semua palsu karena melihat itu dibungkus melalui tabloid yang sangat rapi. Cetakannya bagus. Saya pun tahu dimana tabloid itu dicetak. Dimana dikirimkannya. Tetapi itulah yang terjadi pada pemilu 2014 yang lalu,” imbuhnya.

Adapun dua terdakwa kasus ini, yaitu Setiyardi Budiono dan Darmawan Sepriyossa, dijatuhi vonis 8 bulan penjara. Setiyardi adalah Pemimpin Redaksi Tabloid Obor Rakyat, sementara Darmawan merupakan redaktur tabloid itu. Keduanya dianggap sudah mencemarkan nama baik serta melakukan penghinaan atas Jokowi lewat tabloid Obor Rakyat.

Pada Pemilu 2014 lalu, tabloid Obor Rakyat memuat pemberitaan yang dinilai sebagai fitnah berkaitan dengan isu SARA untuk menyerang Jokowi. Penyebaran tabloid ini dilakukan secara besar-besaran di sejumlah pesantren yang ada di Pulau Jawa.