Rusia Siap Bela Suriah Atas Serangan yang Dilakukan Amerika Serikat

SURATKABAR.IDMiliter Rusia mengatakan pihaknya belum menemukan bukti tentang adanya serangan senjata kimia di Douma, Suriah, pada Jumat (13/4/2018).

“Menurut hasil survei saksi, mempelajari sampel, dan menyelidiki lokasi (kejadian) yang dilakukan oleh ahli Rusia serta tenaga medis di kota Douma, di mana senjata kimia diduga digunakan, penggunaan zat kimia tidak tampak,” ungkap Kepala Pusat Perdamaian dan Rekonsiliasi Rusia di Suriah Mayor Jenderal Yuri Yevtushenko, dikutip dari Republika, Sabtu (14/4/2018).

Kendati hal tersebut, Rusia tak akan menghalang-halangi upaya penyelidikan yang dilakukan Organisasi Larangan Senjata Kimia (OPCW) di Douma.

Sebaliknya, Rusia akan melindungi tim penyelidik karena mereka yang akan membuktikan apakah senjata kimia benar-benar digunakan di Douma.

Baca juga: Ingat Bocah Suriah yang Fotonya Sempat Menggemparkan Dunia? Begini Kondisi Terkininya

Sementara itu, juru bicara Departemen Luar Negeri Amerika Serikat (AS) Heather Nauert mengatakan, negaranya memiliki bukti bahwa pemerintah Suriah bertanggung jawab atas serangan gas beracun di Douma.

“Suriah bertanggung jawab. Kami semua sepakat,” ujarnya.

Namun, Nauert akan menunggu hasil penyelidikan OPCW sama seperti Rusia. Ia menegaskan hasil penyelidikan OPCW hanya untuk merumuskan fakta dan temuan, bukan siapa pihak yang bertanggung jawab.

Dalam sebuah pertemuan darurat Dewan Keamanan PBB pada Jumat kemarin, Duta Besar Rusia untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Vassily Nebenzia menuduh AS mengadopsi kebijakan untuk melancarkan skenario militer terhadap Suriah.

Ia menilai retorika AS terkait Suriah tak dapat ditoleransi dan memiliki dampak besar bagi keamanan global.

Pekan lalu, serangan gas beracun terjadi di Douma, Suriah. Serangan yang diduga menggunakan senjata kimia itu dilaporkan menewaskan sedikitnya 70 orang.

Pemerintah Suriah dituduh bertanggung jawab atas terjadinya serangan tersebut. Namun tuduhan segera dibantah, termasuk oleh sekutunya, Rusia.

Sementara itu, Presiden Amerika Serikat Donald Trump pada Jumat (14/4/2018), memerintahkan pelaksanaan serangan dengan menargetkan fasilitas senjata kimia Presiden Suriah Bashar al-Assad sebagai tanggapan atas terjadinya serangan gas beracun pekan lalu.

Trump mengatakan operasi gabungan dengan Prancis dan Inggris sedang bergerak menuju sasaran. Mereka siap melanjutkan tindakan itu sampai Suriah menghentikan penggunaan senjata kimia.