Klarifikasi Rocky Gerung Soal Pernyataan Kitab Suci Fiksi


    SURATKABAR.ID – Rocky Gerung yang merupakan Dosen Filsafat Universitas Indonesia mengatakan tak ingin memperdebatkan pelaporan ke polisi atas pernyataan dirinya soal kitab suci fiksi. Diketahui, pada Rabu (11/04/2018), Rocky dilaporkan ke polisi atas pernyataannya, sehari setelah dirinya diundang menjadi narasumber di salah satu program acara stasiun televisi. Terkait hal itu, Rocky pun memberikan klarifikasi dan memaparkan soal definisi fiksi pada kitab suci yang dimaksudkannya.

    “Kalau saya pakai definisi bahwa fiksi itu mengaktifkan imajinasi, maka kitab suci itu adalah fiksi,” demikian penggalan pernyataannya dalam program televisi Indonesia Lawyers Club yang disiarkan langsung TV One, Selasa (10/04/2018) malam, seperti dikutip dari laporan CNNIndonesia.com, Jumat (13/04/2018).

    Rocky menyatakan, dirinya sama sekali tak bermaksud untuk menistakan agama. Hal ini ia tegaskan dengan cara tidak menyebutkan nama kitab suci tertentu dalam program televisi tersebut.

    Menurutnya, fiksi di sini berarti bersifat imajinasi dan positif adanya. Sementara yang memiliki makna negatif bagi Rocky adalah fiktif yang berarti kebohongan dan kacau.

    “Saya bilang fiksi, saya tidak bilang khayalan bahkan saya gunakan kata imajinasi, jadi fiksi itu menyimpulkan imajinasi. Jadi sifatnya imajinasi,” paparnya dalam perbincangan telepon dengan awak media dari CNNIndonesia.com, Kamis (12/04/2018) malam.

    Baca juga: Dituduh Sebar Ujaran Kebencian SARA, Dosen UI Rocky Gerung Dilaporkan ke Polisi

    Rocky juga menegaskan, ia telah menjelaskan secara detail mengenai hal tersebut dalam program televisi.

    Atas pernyataan kitab suci fiksi itu, Ketua Cyber Indonesia, Permadi Arya didampingi Sekjennya, Jack Boyd Lapian melaporkan Rocky ke Polda Metro Jaya, Rabu (11/04/2018).

    Dalam laporan itu, Permadi mengutip definisi fiksi dan kitab suci berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI).

    Dialektika Pikiran Sendiri

    Menanggapi hal tersebut, Rocky menandaskan bahwa pengertian fiksi yang ia maksudkan itu tak menggunakan pengertian yang dipaparkan dalam KBBI. Definisi fiksi yang diungkapkannya itu merupakan hasil dialektika pemikirannya.

    “Saya enggak pakai KBBI. Sebelum saya mengucapkan kitab suci itu fiksi, sebelum kalimat itu saya ucapkan, saya ucapkan dulu apa yang saya maksud dengan fiksi. Saya pakai keterangan berdasarkan definisi yang saya buat, saya bilang fiksi itu beda dengan fiktif. Dari awal saya sudah kasih tahu beda, kalau ada yang bilang sama, ya silakan bilang itu sama. Tapi, saya anggap itu beda, jadi silakan pakai definisi saya,” beber pria yang mengajarkan filsafat politik di Fakultas Ilmu Budaya UI tersebut.

    Lebih lanjut Rocky menyatakan, sebelum pengucapan kalimat yang kemudian dipermasalahkan itu, ia juga sudah melakukan batasan, analisa, hingga dalilnya.

    “Kan urutannya jelas, saya terangkan dulu apa yang dimaksud dengan fiksi, oleh karena itu saya berani mengatakan kitab suci itu fiksi di dalam pengertian tadi yaitu menimbulkan imajinasi,” imbuhnya.

    Dijelaskan Rocky, salah satu contoh imajinasi yang dimaksudnya adalah bayangan seseorang akan wujud neraka atau surga saat membaca kita suci.

    “Kan di dalam baca kitab suci kita bayangin neraka itu api besar, surga itu taman bunga. Y a itu buat kita yang ada sekarang yang mengerti itu,” jelas dia. “Imajinasi itu fakultas dalam pikiran manusia, diberikan agar kita bisa berpikir melebihi kenyataan, di bidang sastra itu berlaku, di dalam doa itu berlaku. Apa yang salah,” tandas Rocky.

    Hadir sebagai Narasumber yang Diundang dan Diminta Pendapatnya

    Rocky yang juga mengajar metodologi di FIB UI (Ilmu Pengetahuan Budaya) itu menegaskan, dirinya berada di dalam program televisi tersebut sebagai narasumber yang dimintakan hadir memberikan pendapat.

    “Kalau saya disebut saya menghina, berarti saya mengumpulkan banyak orang untuk mendengarkan hinaan. Itu saya diundang di situ untuk menerangkan apa itu bedanya fiksi dan fiktif,” sahut Rocky.

    “Lain kalau saya misalnya memang ingin menghina lalu kumpulin orang, ‘dengerin ya saya mau ngomong gini-gini konferensi pers’. Itu artinya inisiatif saya. Saya tidak berinisiatif, saya kan narasumber untuk menerangkan sesuatu karena diminta,” tukasnya.

    Berdasarkan hal itu, Rocky menilai orang yang melaporkan dirinya ke polisi itu keliru, karena jelas-jelas Rocky hadir di sana dan berbicara mengemukakan pendapatnya guna memenuhi undangan.

    Selain itu, Rocky pun menyindir pelapor dirinya ke polisi mempunyai kedangkalan ilmu akan dunia literasi dan tak pernah membaca buku sastra.

    “Apa untungnya berdebat dengan orang yang tidak mengerti fungsi bahasa, enggak pernah baca sastra, enggak pernah ngalamin keindahan dalam imajinasi. Itu repot. Jadi biar saja dilaporkan ke polisi, supaya polisi juga bisa bedakan nanti apa ini orang masuk akal atau akalnya di luar gitu, di luar artinya enggak ada di kepala,” sebut Rocky.

    Peyorasi Istilah Fiksi

    Rocky mengungkapkan, kitab suci disinggungnya dalam program tersebut karena ingin menerangkan arti fiksi. Rocky sendiri menilai fiksi telah mengalami peyorasi akibat ulah politisi. Yang dimaksudkan Rocky adalah ulah politisi yang dimaksudkan yakni karena hebohnya perdebatan Indonesia Bubar 2030 yang ternyata merupakan isi dalam novel fiksi berjudul Ghost Fleet: Novel of the Next World War.

    Diakuinya, ada yang faktual di dalam kitab suci setiap agama, yakni kisah sejarah. Namun, dalam kitab suci pun ada pemaparan soal masa depan yang belum terjadi saat ini.

    “Ada jejak arkeologis dari kitab suci, tetapi kitab suci itu intinya adalah yang di depan, ekstakologi. Saya bilang, ‘apa yang umat harapkan di depan, itu statusnya itu fiksional’…, tetapi [bagi] orang seperti pelapor fiksi artinya buruk dong,” ucapnya.

    Ia juga menegaskan bahwa Tuhan memberikan fiksi kepada manusia agar bisa berimajinasi. Sementara, saat orang menyebutkan fiksi sebagai hal buruk, itu disebutnya menjadi indikator buruk tingkat literasi.

    Diberitakan sebelumnya, saat menjadi narasumber dalam sebuah program televisi, Selasa (10/04/2018), Rocky menyebut kitab suci sebagai fiksi. Dalam penjelasan berikutnya, ia mengaku ingin meluruskan makna fiksi yang dinilai menjadi peyorasi akibat ulah politisi. Rocky pun meminta fiksi dibedakan dengan ‘fiktif’.

    Sedangkan berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), ada tiga definisi untuk fiksi: cerita rekaan (roman, novel, dan sebagainya); rekaan, khayalan, tidak berdasarkan kenyataan; pernyataan yang hanya berdasarkan khayalan atau pikiran. Sementara fiktif didefinisikan: bersifat fiksi, hanya terdapat dalam khayalan.

    Akibat pernyataannya ini, Rocky pun dilaporkan ke polisi dengan dugaan menyebarkan informasi bermotif SARA untuk menimbulkan rasa kebencian.  Rocky dijerat ancaman pelanggaran Pasal 28 Ayat 2 Juncto Pasal 45A Ayat 2 Undang-Undang RI Nomor 19 Tahun 2016 tentang Perubahan atas UU RI Nomor 11 tahun 2008 tentang ITE dalam laporan tersebut.