Jawaban Wiranto Saat Ditanya Soal Perkembangan Kasus Novel Baswedan


SURATKABAR.ID – Saat ditanya mengenai perkembangan kasus teror yang dialami penyidik senior Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Novel Baswedan, Wiranto selaku Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menkopolhukam) memilih bungkam. Seperti diketahui, sudah setahun berlalu sedangkan kasus tersebut masih menggantung hingga sekarang.

Hingga kini, polisi masih juga belum dapat mengungkap dan menangkap pelaku penyiraman air keras terhadap Novel Baswedan. Terkait hal ini, Wiranto pun tak mau komentar.

“Tidak semua saya jawab,” tutur Wiranto saat menanggapi pertanyaan media terkait kelanjutan kasus Novel setelah menghadiri jumenengan Raja Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat, Kamis (12/04/2018). Demikian sebagaimana dilansir dari reportase Republika.co.id, Jumat (13/04/2018).

Di lain pihak, berbeda dengan Wiranto yang memilih tak berkomentar, Wakil Presiden RI Jusuf Kalla (JK) justru meminta pengusutan kasus Novel Baswedan dipercepat. Kendati begitu, pemerintah tak memberikan tenggat waktu mengenai kapan penyelesaian kasus yang membuat kedua mata sang penyidik senior hampir buta tersebut.

“Pemerintah tak kasih batas waktu. Yang paling penting harus cepat,” ujar JK pada Rabu (11/04/2018) lalu.

Baca juga: Novel Yakin Penguasa dan Polisi Terlibat Penyerangan Dirinya

Pembentukan TGPF

 

Sementara itu, Yasonna Laoly selaku Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia menyebutkan bahwa pemerintah belum menyikapi desakan masyarakat sipil yang meminta agar tim gabungan pencari fakta (TGPF) segera dibentuk. Tim tersebut perlu dibentuk guna menuntaskan kasus penyerangan terhadap Novel Baswedan.

Menurut Yasonna, seperti dikutip dari laporan Kompas.com, Rabu (11/04/2018), sikap pemerintah masih dibahas di bawah koordinasi Menkopolhukam Wiranto, “Saya belum dapat informasi itu. Kita tanyalah nanti ke Menko Polhukam,” jawab Yasonna saat ditemui di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (11/04/2018).

Walaupun demikian, saat ditanya soal kemungkinan pembentukan TGPF, Yasonna menjawab TGPF dapat dibentuk jika terdapat kesepakatan antara KPK dan Polri.

“Ya kita serahkan ke Polri, lah. Kalau sepakat silakan,” tukas Yasonna kemudian.

Yasonna juga berharap masyarakat memercayakan penuntasan kasus Novel ke tangan kepolisian. Ia meminta kepada kedua belah pihak—Polri dan KPK—untuk bekerja sama dalam mengolah informasi atau data-data yang diterima oleh kedua pihak. Dan ini mencakup info dari hasil penyidikan maupun keterangan dari Novel.

“Saya kira Polri sudah punya informasi yang bisa ditindaklanjuti. Harus ada kerja sama antara tim KPK dengan Polri. Kalau ada informasi-informasi yang disampaikan baik oleh Pak Novel maupun oleh tim dari KPK, saya kira harus dikoordinasikan dengan Polri karena memang mereka yang menyidik, kan. Jadi kita harapkan begitu saja,” bebernya.

Presiden Tunggu Polri Menyerah

Sebelumnya, aktivis antikorupsi dan pengacara Novel sempat mendesak Presiden Joko Widodo untuk segera menuntaskan kasus penyerangan terhadap Novel Baswedan. Salah satu caranya dengan membuat terobosan membentuk TGPF.

Muhammad Isnur selaku pengacara Novel menilai, keraguan Novel mengenai keseriusan polisi dalam mengusut kasus penyerangan terhadapnya malah semakin terbukti seiring berjalannya waktu.

Sementara itu, menurut Staf Khusus Presiden bidang Komunikasi Johan Budi Saptopribowo, Jokowi akan mendengarkan terlebih dahulu laporan terakhir dari Kapolri Jenderal Tito Karnavian sehubungan kasus penyerangan terhadap penyidik KPK Novel Baswedan. Hal ini dilakukan sebelum memutuskan apakah akan membentuk tim gabungan pencari fakta atau tidak.

Ditegaskan Jokowi, saat ini belum ada pernyataan bahwa Polri menyerah untuk mengusut kasus ini. Untuk itu, Jokowi akan terus mengejar Kapolri agar lebih gencar lagi mengungkap kasus ini, serta menemukan pelaku yang menyiramkan air keras ke wajah Novel.

Saat ditanya mengenai desakan pembentukan TGPF untuk mengusut kasus ini, Jokowi tak menjawab tegas. Presiden hanya menandaskan langkah lain akan diambil jika Polri sudah menyerah.

Sebelumnya, tepat pada tanggal 11 April 2017 lalu, Novel Baswedan diserang orang tidak dikenal. Penyidik senior KPK itu disiram air keras pada dini hari di bagian wajah. Novel pun akhirnya dilarikan ke Singapura untuk segera ditangani secara intensif.