Pedas! Ruhut Sitompul Sebut Rocky Gerung Idap Stroke Mulut


    SURATKABAR.ID – Mantan Anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) Ruhut Sitompul turut berkomentar atas pernyataan Rocky Gerung dalam acara Indonesia Lawyers Club (ILC).

    Melalui akun Twitter pribadinya, @ruhutstompul, ia mengungkit soal gelar profesor Rocky. Menurutnya, gelar tersebut diperoleh melalui sidang jalanan.

    Gelar Profesor dianugerahkan Oleh Forum Akademisi melalui Sidang Senat Guru Besar di Universitas, “RG yg bukan Profesor tapi Bangga menerima Gelar Profesor melalui Sidang Jalanan, ya beginilah akibatnya menjadi Profesor Fiksi yg Linglung” MERDEKA.” tulisnya di Twitter, Kamis (12/4/2018), dilansir tribunnews.com.

    Selain itu, Ruhut mengatakan bahwa Rocky tak lagi diizinkan mengajar di UI karena dianggap tak memenuhi kualifikasi sebagai dosen. Bahkan, Ruhut juga menuding Rocky mengidap stroke mulut.

    Baca juga: Dikatai Gila Setelah Bilang Kitab Suci Adalah Fiksi, Begini Reaksi Rocky Gerung

    Menurutnya, stroke mulut tersebut menyebabkan apa yang ia ucapkan tak sejalan dengan pikirannya.

    Ha ha ha pantas Do’i makin Linglung, “Beliau tidak diizinkan lagi mengajar di UI karena tidak Memenuhi Kualifikasi sebagai Dosen, ya makin jauh dong menerima Gelar Profesor yg Asli” Kita mengenal Stroke ada Stroke Mulut jadi apa yg dibicarakan tdk Sejalan dgn Pikirannya MERDEKA,” katanya.

    Sebelumnya, dikabarkan Rocky Gerung menyebut bahwa kitab suci adalah fiksi. Dalam acara ILC yang ditayangkan pada Selasa (10/4/2018) itu, sejumlah politikus yang hadir sempat memprotes pernyataannya.

    Namun, Rocky menyebut bahwa fiksi dan fiktif adalah dua hal yang berbeda. Fiksi memiliki fungsi untuk mengaktifkan imajinasi. Sedangkan fiktif adalah sebuah kebohongan.

    “Fiksi adalah energi yang dihubungkan dengan telos, dan itu sifatnya fiksi. Dan itu baik. Fiksi adalah fiction, dan itu berbeda dengan fiktif,” terangnya.

    Ia pun menjelaskan bahwa telos adalah bahasa Yunani yang memiliki arti tujuan, akhir, atau sasaran.

    Rocky kemudian mencontohkan kisah Mahabarata. Menurutnya, Mahabarata merupakan fiksi, tapi bukan fiktif. Begitu pula dengan fiksi dalam agama yang membuat seseorang terus kreatif dan menunggu telosnya.

    “Anda berdoa, Anda masuk dalam energi fiksional bahwa dengan itu Anda akan tiba di tempat yang indah,” tukasnya.