Ngeri! Semua Orang Dilarang Meninggal di Kota Ini, Alasannya….


SURATKABAR.ID – Sudah menjadi fitrah seluruh makhluk hidup bahwa kita semua akan mati, tak terkecuali bagi kita manusia. hal ini mutlak dan pasti terjadi, meski entah kapan. Saking mutlaknya, tanah pemakaman pasti selalu disiapkan di tiap daerah, terkecuali untuk budaya tertentu yang tak mengharuskan jenazah dikubur secara utuh. Namun, sebuah kota melarang orang meninggal di daerah tersebut. Kalaupun meninggal, mayatnya harus segera dibawa pergi jauh dari tempat itu. Usut punya usut, alasannya ternyata mengerikan!

Dilansir dari iflscience melalui IDNTimes.com, Kamis (11/04/2018) berikut ini penjelasan alasannya, apa saja?

1. Kota Arktik Longyearbyen di Kepulauan Svalbard, Norwegia, telah mengambil langkah yang sangat tidak biasa untuk melarang kematian seseorang

Sejak tahun 1950, secara hukum, tidak ada yang diizinkan mati di kota ini bahkan meski kamu sudah tinggal di sana sepanjang hidupmu. Jika kamu mengalami sakit parah, kamu akan diterbangkan keluar dari pulau untuk menjalani sisa hari-harimu. Jika kamu secara kebetulan meninggal mendadak di Longyearbyen, tubuhmu akan dikuburkan di tempat lain.

2. Kota Longyearbyen mengambil langkah tak biasa ini untuk melindungi warga lainnya yang masih hidup dan beraktivitas

Baca juga: Mencekam! Inilah 5 Kisah Misterius Kota Kuno Bawah Laut

Di tahun 1950, ditemukan sebuah mayat yang tidak membusuk di dalam pemakaman kota. Hal ini terjadi dikarenakan permafrost atau saking dinginnya tanah sampai membeku. Akibatnya, virus mematikan di dalam tubuh tersebut bisa tetap hidup dan sangat mungkin menginfeksi kembali penduduk yang hidup saat permafrost mencair.

Kedengarannya memang seperti film horor ala wabah menular, tapi itu merupakan bentuk kondisi nyata yang sudah terjadi di tempat lain. Contohnya pada Agustus tahun 2016, terjadi wabah anthrax di Siberia Utara, dengan 1 anak laki-laki terbunuh dan sekitar 90 lainnya dirawat di rumah sakit. Selanjutnya, 2.300 rusa kutub meninggal karena penyakit itu.

3. Wabah terakhir yang terjadi sebelum ini muncul pada tahun 1941 dengan intensitas ketakutan yang jauh lebih parah karena mereka belum menemukan penyebab sebenarnya

Wabah 2016 terjadi selama gelombang panas di wilayah tersebut, yang menyebabkan para pejabat setempat menyimpulkan bahwa rusa yang terbunuh oleh anthrax dan membeku telah mencair, menyebabkan virus itu terlepas bebas lagi ke lingkungan.

Pada tahun 1950, para pejabat di Longyearbyen cemas bahwa hal serupa bisa terjadi dengan adanya bakteri dan virus yang bersembunyi di penghuni tanah pemakaman mereka yang beku.

4. Baru-baru ini, sampel Influenza Spanyol ditemukan pada paru-paru korban penyakit yang telah diawetkan di permafrost Alaska, yang telah disimpan di sana sejak 1918

Tanda-tanda serupa juga ditemukan di Longyearbyen sendiri, dari seseorang yang meninggal selama wabah tahun 1917. Kendati tak mungkin bahwa tubuh di Longyearbyen yang mencair itu akan menyebabkan wabah Flu Spanyol, pada tahun 1998, tim ilmuwan yang mempelajari virus, mengambil tindakan ekstra untuk berjaga-jaga.

Saat mengekstrak sampel dari kuburan, mereka mengenakan pakaian antariksa yang dimodifikasi dan memastikan bahwa jaringan amatan tidak mencair sebelum mencapai fasilitas khusus di AS.

Tak jelas mengenai seberapa besar risiko virus dan bakteri di tubuh mayat bagi penduduk yang masih hidup (anthrax sangat kuat karena membentuk spora yang dapat bertahan selama lebih dari satu abad). Namun pada tahun 1950 kota memutuskan untuk sangat serius berhati-hati atas masalah ini dan melarang kematian di dalam kota tersebut.

Hingga kini, mati di Longyearbyen masih terbilang illegal—yang dilakukan demi untuk melindungi penduduk yang tinggal dari wabah penyakit mematikan. Kamu tidak akan menemukan tanah pekuburan di sana, sehingga penduduknya pun harus merelakan seutuhnya kepergian keluarganya yang telah tiada. Bagaimana pendapatmu mengenai peraturan ini?