Tanggapan Indosat Soal 2,2 Juta Nomor Seluler yang Registrasi Pakai 1 NIK


SURATKABAR.ID – Saat ini, peraturan proses registrasi kartu SIM prabayar mengharuskan pemiliknya melakukan daftar ulang dengan mencantumkan nomor KTP (Kartu Tanda Kependudukan) alias Nomor Induk Kependudukan (NIK), serta nomor Kartu Keluarga (KK). Namun yang menjadi masalah, sebanyak dua juta nomor pengguna SIM card operator Indosat diketahui melakukan penyalahgunaan registrasi dengan memakai 1 NIK saja.

Mengutip reportase Tekno.Kompas.com, Selasa (10/04/2018), Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Komisi I DPR RI pada Senin (09/04/2018) membahas misteri tersebut. Ditjen Kependudukan dan Catatan Sipil (Dukcapil) Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) membeberkan anomali yang ditemukan dalam proses registrasi kartu SIM prabayar ini.

Diungkapkan oleh Ditjen Dukcapil Kemendagri, penyalahgunaan NIK ini terjadi di semua operator selular, tak hanya untuk Indosat saja. Yang paling signifikan memang berasal dari Indosat Ooredoo, yakni sebanyak 2,2 juta kartu SIM prabayar didaftarkan dengan 1 NIK.

Indosat Blokir 2,2 Nomor yang Tidak Sah dan Tanpa Hak

Pihak Indosat pun lantas menanggapi hal ini. Deva Rachman selaku Group Head Corporate Communications Indosat Ooredoo menyebutkan, pihaknya melaksanakan program registrasi kartu SIM prabayar sesuai aturan dan mekanisme yang ditetapkan.

“Terkait dengan anomali data 1 NIK yang digunakan untuk registrasi banyak nomor seperti yang disampaikan dalam RDP kemarin, kami telah melakukan pemblokiran,” tegas Deva kepada awak media KompasTekno, Selasa (10/04/2018).

Baca juga: Genius! 8 Prediksi Bill Gates Soal Teknologi Ini Jadi Kenyataan Semua

“Indosat Ooredoo selalu menekankan kepada masyarakat untuk melakukan registrasi sesuai dengan peraturan dan tidak menggunakan data NIK dan no KK secara tanpa hak,” ia menambahkan.

Pemblokiran ini dilakukan setelah permintaan dari Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo), sesuai dengan Surat Edaran BRTI Nomor 210/BRTI/III/2018 tanggal 26 Maret 2018, sehubungan pemblokiran kartu pelanggan yang diregistrasi secara tidak sah dan tanpa hak.

Ada Sanksi Menanti untuk Operator

Sementara itu, Ahmad Ramli selaku Dirjen PPI Kominfo mengatakan, operator seluler diberi kesempatan untuk memblokir nomor-nomor yang didaftarkan secara tak wajar hingga 1 Mei 2018. Apabila setelah tanggal tersebut masih juga tidak “bersih”, maka akan ada sanksi yang menanti.

“Dari kami bisa sanksi administrasi, teguran pertama, kedua, ketiga. Buat perusahaan ditegur itu luar biasa,” tandas Ahmad Ramli.

Kendati kejanggalan yang paling masif berasal dari Indosat Ooredoo, namun bukan berarti operator lain bebas dari kasus serupa. Diketahui, sebanyak 518.000-an nomor Telkomsel juga didaftarkan dengan 1 NIK. Sejumlah 319.000-an dari XL Axiata, sekurang-kurangnya ada 83.000-an dari Hutchison Tri, dan 145.000-an nomor dengan anomali serupa berasal dari Smartfren.

Dipakai untuk Mesin?

Mengutip laman Detik.com, Muhammad Ridwan Effendi selaku pengamat telekomunikasi dari ITB menyebutkan, operator perlu memberikan penjelasan NIK tersebut dipakai untuk apa. Mengingat, dengan aturan yang ada sekarang, semua SIM card harus diregistrasi yang divalidasi dengan NIK dan nomor KK. Effendi menilai ada kemungkinan NIK tersebut dipakai untuk mesin.

Selain harus mengklarifikasi mengenai data satu Nomor Induk Kependudukan (NIK) yang dipakai untuk registrasi sampai puluhan ribu hingga jutaan nomor seluler, operator bersnagkutan juga perlu melakukan klarifikasi. Klarifikasi dari operator ini diperlukan agar tidak terjadi kesalahpahaman sebagai bentuk penyalahgunaan NIK.

“Padahal kita tahu tidak semua SIM card dipakai oleh manusia, seperti halnya SIM card untuk IoT atau gampangnya yang Machine-to-Machine, seperti mesin EDC untuk kartu ATM atau kartu kredit, untuk server pengirim gambar CCTV di jalan tol, perangkat lawful interception, dan sebagainya,” beber Ridwan kepada tim media, Selasa (10/04/2018).

Ia melanjutkan, semua perangkat tersebut harus yang memiliki kartu SIM. Sedangkan kepemilikan kartu SIM saat ini nomornya harus diregistrasi dengan menggunakan NIK. Persoalan data NIK siapa yang dipakai—mengingat itu bukan untuk kepentingan pribadi—maka operator perlu mengklarifikasinya.

“Dugaan saya mungkin saja, misal untuk mesin EDN tadi yang pasti jumlahnya banyak sekali. Makanya, operator harus memberikan klarifikasi, selain juga Kominfo membenahi aturan yang ada, registrasi SIM card yang dipakai untuk IoT ini,” paparnya yang juga merupakan mantan Komisioner BRTI ini.

Daftar Nomor NIK yang Disalahgunakan

Berdasarkan catatan yang dihimpun oleh Ditjen Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dukcapil) Kementerian Dalam Negeri, disebutkan ada satu NIK yang telah dipakai registrasi untuk banyak nomor seluler di lima operator seluler. Kelima operator tersebut yakni Indosat Ooredoo, Telkomsel, XL Axiata, Hutchison 3 Indonesia (Tri), dan Smartfren.

Berikut penyalahgunaan ekstrem yang dimaksud berdasarkan data dari Dukcapil:

1. Indosat

– NIK 351xxxxxxxxxx002 registrasi untuk 2.221.656 nomor seluler
– NIK 340xxxxxxxxxx005 registrasi untuk 1.847.625 nomor seluler
– NIK 352xxxxxxxxxx005 registrasi untuk 1.601.391 nomor seluler

2. Telkomsel

– NIK 340xxxxxxxxxx001 registrasi untuk 518.962 nomor seluler
– NIK 630xxxxxxxxxx001 registrasi untuk 409.043 nomor seluler
– NIK 611xxxxxxxxxx014 registrasi untuk 402.034 nomor seluler

3. XL

– NIK 340xxxxxxxxxx001 registrasi untuk 319.251 nomor seluler
– NIK 332xxxxxxxxxx001 registrasi untuk 310.002 nomor seluler
– NIK 330xxxxxxxxxx005 registrasi untuk 310.001 nomor seluler

4. Hutchison 3 Indonesia (Tri)

– NIK 647xxxxxxxxxx005 registrasi untuk 83.575 nomor seluler
– NIK 647xxxxxxxxxx006 registrasi untuk 66.432 nomor seluler
– NIK 332xxxxxxxxxx001 registrasi untuk 40.631 nomor seluler

5. Smartfren

– NIK 317xxxxxxxxxx007 registrasi untuk 145.868 nomor seluler
– NIK 367xxxxxxxxxx006 registrasi untuk 63.136 nomor seluler
– NIK 330xxxxxxxxxx001 registrasi untuk 57.879 nomor seluler