Benarkah Megathrust Picu Tsunami Besar dan Bagaimana Antisipasinya?


SURATKABAR.ID – Kerap dikaitkan dengan guncangan gempa di Jakarta dan potensi Pandeglang yang dalam skenario terburuknya berpotensi mencapai ketinggian 57 meter, istilah Sunda megathrust mendadak populer dalam dua bulan terakhir ini. Pasalnya, dari informasi yang berkembang sejauh ini, diprediksikan gempa megathrust yang akan menimpa Jakarta berkekuatan sama dengan kekuatan gempa Aceh di tahun 2004. Alhasil, sejumlah kalangan pun menguatkan koordinasi.

Namun, apakah sebenarnya megathrust itu sendiri? Benarkah hal ini berpotensi memicu tsunami besar serta merusak wilayah ibukota? Jika ya, wilayah Indonesia mana saja yang akan terkena dampaknya selain Jakarta?

Diungkapkan Daryono selaku Kepala Bidang Informasi Gempa Bumi dan Peringatan Dini tsunami Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), megathrust bisa diartikan secara harfiah sesuai kata penyusunnya.

“Thrust” merujuk pada salah satu mekanisme gerak lempeng yang menyebabkan gempa dan memicu tsunami, yakni gerak sesar naik. Dengan demikian, megathrust bisa diartikan sebagai “gerak sesar naik yang besar”. Demikian sebagaimana dikutip dari laman Sains.Kompas.com, Senin (09/04/2018).

Zona Subduksi

Mekanisme gempa itu bisa terjadi di pertemuan lempeng benua. Dalam geologi tektonik, wilayah pertemuan dua lempeng ini disebut zona subduksi. Daryono menyebutkan, zona megathrust terbentuk sewaktu lempeng samudera bergerak ke bawah menghujam lempeng benua dan menimbulkan gempa bumi.

Baca juga: Waspada! LIPI Peringatkan Potensi Gempa Di Daerah Ini

“Zona subduksi ini diasumsikan sebagai sebuah zona “patahan naik yang besar” atau populer disebut zona megathrust,” tutur Daryono kepada awak media, Sabtu (07/04/2018).

Jalur subduksi cukup panjang dengan kedalaman sekitar 50 kilometer, mencakup seluruh bidang kontak antarlempeng. Zona megathrust di Indonesia ini juga bukan merupakan hal baru lantaran sudah ada sejak jutaan tahun lalu. Zona ini terbentuk saat rangkaian busur dataran menjadi kepulauan.

Selain itu, dalam laporan Jogja.TribunNews.com, Kepala BMKG, Prof. Ir. Dwikorita Karnawati, menuturkan, Indonesia memang berada di zona tumbukan lempeng. Berdasarkan hasil penelitian, ada 5 zona subduksi atau zona tumbukan lempeng yakni zona subduksi Sunda, subduksi Banda, serta di Utara Sulawesi, lempeng Laut Maluku dan subduksi di utara Papua.

Subduksi-subduksi inilah yang selalu menimbulkan gempabumi dan bisa juga memicu patahan aktif. Berdasarkan data yang dihimpun, saat ini teridentifikasi sekitar 295 patahan aktif di wilayah Indonesia. Subduksi dan patahan aktif inilah yang saat bergerak akan melepaskan energi yang kemudian dirasakan sebagai gempabumi.

Khusus wilayah Jakarta, ada 3 ancaman sumber gempa yang bisa terasa hingga Jakarta. 2 diantaranya berpusat di zona megathrust. Yakni megathrust yang ada di Selat Sunda dan selatan Jawa Barat.

Sementara satu sumber gempa lagi yang berpotensi terasa hingga Jakarta, berasal dari sesar aktif yang berada di daratan yakni Sesar Baribis, Sesar Lembang dan Sesar Cimandiri. Jadi, kendati pusat gempa tidak ada di Jakarta, namun dampaknya bisa terasa hingga ke ibukota.

Bisa Picu Tsunami, Berpotensi Merusak Jakarta

Sebagai area sumber gempa, megathrust dapat memunculkan gempa bumi dengan berbagai magnitudo dan kedalaman. Gempa megathrust dianggap menakutkan karena selain selalu bermagnitudo besar, juga dapat memicu tsunami.

“Namun demikian, data menunjukkan sebagian besar gempa yang terjadi di zona megathrust adalah gempa kecil dengan kekuatan kurang dari 5,0,” imbuh Daryono.

Lebih lanjut lagi Daryono, yang terlibat dalam Pusat Studi Gempa Nasional (PUSGEN) 2017 menambahkan bahwa di Indonesia terdapat 16 titik gempa megathrust yang tersebar di sejumlah titik. Berikut adalah uraiannya:

  1. Aceh-Andaman,
  2. Nias-Simeulue,
  3. Kepulauan Batu,
  4. Mentawai-Siberut,
  5. Mentawai–Pagai,
  6. Enggano,
  7. Selat Sunda Banten,
  8. Selatan Jawa Barat,
  9. Selatan Jawa Tengah-Jawa Timur,
  10. Selatan Bali,
  11. Selatan NTB,
  12. Selatan NTT,
  13. Laut Banda Selatan,
  14. Laut Banda Utara,
  15. Utara Sulawesi,
  16. Subduksi Lempeng Laut Filipina.
Langkah Antisipasi

Menurut Daryono, berdasarkan kajian kegempaan, setiap zona subduksi punya potensi gempa yang berbeda-beda. Besarnya gempa yang kemudian terjadi tak bisa diprediksi dan sangat bergantung pada gerak serta kedalamannya.

“Khusus segmen megathrust di selatan Jawa Barat dan Banten, wilayah ini memiliki potensi magnitudo maksimum M 8,8,” imbuhnya. Tidak setiap gempa megathrust menimbulkan tsunami. Tsunami punya syarat, seperti gempa besar, hiposenter dangkal dan gerak sesar naik.

Para ahli dan instansi terjadi tanggap darurat bencana terus melakukan penelitian dan pembaharuan data peta kerawanan gempa.

“Jika terjadi gempa yang magnitudonya lebih besar dari gempa-gempa yang pernah terjadi sebelumnya, maka akan merubah titik-titik kerawanan. Untuk itulah perlunya dilakukan pemutakhiran Peta Sumber dan Bahaya Gempa di Indonesia pada periode waktu tertentu,” pungkas Daryono.