Merinding! Inilah 5 Tradisi dan Ritual Paling Ekstrem di Dunia


SURATKABAR.ID – Di dunia yang dipenuhi oleh keberagaman  ini, tak bisa dibanangkan betapa banyaknya tradisi, budaya dan bahasa yang telah ada sejak dulu untuk kemudian diwariskan turun temurun kepada para penerusnya. Tak hanya Indonesia saja yang dikaruniai budaya dari ratusan suku bangsa, setiap  negara di dunia juga memiliki tradisi unik yang berbeda-beda. Di antara banyak tradisi budaya itu, sebagian besar berkaitan dengan ritual kepercayaan.

Tradisi atau kebiasaan (Latin: traditio, “diteruskan”) merupakan sesuatu yang telah dilakukan sejak lama dan menjadi bagian dari kehidupan suatu kelompok masyarakat, biasanya dari suatu negara, kebudayaan, waktu, atau agama yang sama.

Sedangkan ritual adalah serangkaian kegiatan yang dilaksanakan terutama untuk tujuan simbolis. Ritual dilaksanakan berdasarkan suatu agama atau bisa juga berdasarkan tradisi dari suatu komunitas tertentu. Kegiatan-kegiatan dalam ritual biasanya sudah diatur dan ditentukan, dan tak dapat dilaksanakan secara sembarangan, demikian sebagaimana dilansir dari laman Wikipedia.org.

Ritual-ritual ini tentu dilakukan dengan berbagai tujuan. Ada yang dimaksudkan sebagai upaya penebusan dosa, memperingati suatu kejadian hingga sebagai ajang pembuktian diri. Tak jarang, bahkan ada beberapa ritual yang dilakukan dengan cara ekstrem serta membahayakan nyawa.

Beberapa ritual yang membuat bulu kuduk merinding itu memang telah lama ditinggalkan, namun jangan salah. Ternyata ada juga yang masih mempraktikkannya hingga sekarang.  Berikut ini adalah 5 ritual mengerikan di dunia yang dikutip dari buku Kisah 1001 Serba Menyeramkan di Dunia sebagaimana dikutip dari reportase OkeZone.com, Minggu (08/04/2018). Berani baca?

Baca juga: 5 Ritual Kematian Paling Mengerikan di Dunia, Nomor 1 dari Indonesia

  1. Ritual Penyaliban-Filipina

Masyarakat Katolik Roma melakukan ritual ekstrem dengan cara memakukan tubuh mereka di kayu salib. Meski terdengar mengerikan, aksi ekstrem ini menjadi salah satu daya tarik pariwisata Filipina. Ritual ini dilakukan di setiap Perayaan Jumat Agung dan di hari-hari keagamaan lain sebagai upaya untuk menebus dosa.

Atraksi ritual yang dilakukan di depan ribuan penonton ini memperlihatkan para penebus dosa yang menggunakan kostum layaknya Yesus. Kemudian mereka dipaku di sebuah salib kayu.

Paku-paku tersebut menembus tangan dan kaki mereka, namun tak cukup kuat untuk menahan beban tubuh—yang tak terbayangkan bagaimana rasa sakitnya. Setelah acara selesai, para penebus dosa itu diobati dan diberikan perawatan.

Meski mendapat kecaman dari beberapa pihak, tradisi yang telah berlangsung selama 30 tahun ini masih tetap dilakukan sampai sekarang.

  1. Ritual Tindik-India

Terkenal sebagai negara yang kaya akan budaya, orang India amat baik menjaga tradisi mereka. Caranya yakni dengan secara rutin melakukan perayaan maupun ritual adat dari yang unik hingga menyeramkan. Salah satu ritual yang terkenal mengerikan di sana adalah ritual tindik.

Umat Hindu di Tamil Nadu menindik seluruh tubuh mereka sebagai peringatan kelahiran Dewa Murugan. Ritual ini juga menjadi pengingat atas kematian roh pendendam, Soorapadman, yang mati dihujam tombak.

Seiring berjalannya waktu, ritual ini mengalami beberapa perubahan yang semakin ekstrem. Tak hanya menindik, masyarakat Tamil juga memasang tombak berkail di wajah dan badan mereka.

  1. Tradisi Lipat Kaki-Cina

Cantik itu relatif, begitu pendapat populer yang tersebar di kalangan masyarakat. Demikian juga, setiap negara mempunyai standar kecantikan tertentu yang berbeda-beda. Di China Kuno misalnya, wanita baru bisa dianggap cantik jika mereka memiliki kaki yang kecil mungil. Karena itulah, para wanita China waktu itu beramai-ramai mengikat kaki mereka agar tampak kecil.

Namun, tak semua wanita China bisa melakukan tradisi ini. Rupanya hanya wanita bangsawan dan kelas menengah saja yang boleh melakukan pelipatan kaki.

Proses pelipatan kaki ini dilakukan saat usia mereka 5-8 tahun oleh ibu maupun para dayang. Empat jari mereka akan dilipat ke bawah dan jempol mereka ditarik mendekati tumit. Setelah itu, kaki mereka diikat dengan kain sepanjang 3 meter. Mereka mengenakan sepatu khusus yang ukurannya setengah dari ukuran kaki wanita dewasa pada umumnya.

Akibat dilipat bertahun-tahun, bentuk kaki para wanita ini pun tak ayal menjadi abnormal. Banyak di antara mereka yang jadinya malah harus memakai tongkat sebagai alat bantu jalan.

  1. Ritual Sun Dance-Suku Plains, Amerika

Jauh sebelum Amerika menjadi negara modern, negara tersebut didiami oleh suku-suku asli yang kerap melakukan ritual keagamaan atau festival yang mengerikan. Konon, suku Plains di Amerika Utara melakukan ritual Sun Dance atau yang lebih dikenal Thirsting Dance.

Selama ritual, para wanita menari  tanpa istirahat, makan, dan minum. Ritual yag tak terbayangkan betapa melelahkannya tersebut dilakukan selama empat hari empat malam.

Konon, acara ini juga menjadi ajang pembuktian diri kaum lelaki karena mereka akan menancapkan sebuah tusuk besi ke dadanya dan mengikat ujungnya ke sebuah tiang. Aksi tersebut dilakukan untuk membuktikan kekuatan dan ketahanan tubuh mereka sebagai para pejantan tangguh.

  1. Ritual Seppuku-Jepang 

Seppuku alias Harakiri merupakan ritual b*unuh diri yang dilakukan para samurai setelah gagal dalam melakukan tugas. Istilah seppuku ditulis dengan dua buah aksara kanji, yaitu kiru dan hara. Aksara kanji untuk kiru dapat juga dibaca sebagai setsu (ucapan Tionghoa) yang berarti potong, sementara aksara kanji untuk hara dapat juga dibaca sebagai fuku (ucapan Tionghoa) yang juga berarti perut.

Seppuku sendiri merupakan suatu bentuk ritual mengakhiri hidup sendiri yang dilakukan oleh samurai di Jepang dengan cara merobek perut serta mengeluarkan usus. Kode kehormatan ini umum dilakukan demi memulihkan nama baik setelah gagal saat melaksanakan tugas dan/atau kesalahan untuk kepentingan rakyat. Seppuku dulu hanya dilakukan oleh samurai.

Seppuku dilakukan dengan cara menusukkan pedang kecil ke dalam perut kemudian merobek dan mengeluarkan isi perutnya. Aksi b*unuh diri ini dilakukan secara sukarela oleh para samurai yang menginginkan “mati dengan cara terhormat daripada mati di tangan musuh”.

Dalam praktiknya, seorang samurai harus bisa menahan rasa sakit tersebut. Jika ia menangis dan berteriak kesakitan, maka hal itu akan sangat memalukan baginya. Untuk menghindari hal itu, orang kepercayaan sang samurai akan berdiri di belakangnya dan berjaga-jaga. Jika proses harakiri tidak berjalan lancar, maka orang kepercayaan tersebut harus segera memenggal kepala sang samurai guna terselamatkan dari hal-hal yang memalukan.