Tragis, Persahabatan Eks Presiden Korea Selatan Berujung Vonis 24 Tahun Penjara


SURATKABAR.ID – Pada hari Jumat (06/04/2018) lalu, mantan Presiden Korea Selatan, Park Geun-Hye telah dijatuhi hukuman penjara 24 tahun oleh Pengadilan Korea Selatan. Wanita pertama yang pernah terpilih menjadi presiden di Korea Selatan tersebut terbukti bersalah setahun setelah dimakzulkan dari jabatannya.

Sebelumnya, ia ditangkap karena skandal kolusi yang dilakukannya bersama Choi Soon-Sil. Dan kini, kepala negara wanita pertama dalam sejarah modern Asia Timur Laut tersebut divonis bersalah atas sejumlah tuduhan penyalahgunaan kekuasaan, penyuapan dan pemaksaan.

Melansir reportase CNN.com, Minggu (08/04/2018), terdakwa Park Geun-Hye masih bisa mengajukan banding atas vonis tersebut. Vonis tersebut merupakan perkembangan terbaru setelah sebelumnya ia lengser dari jabatan presiden dengan cara yang dramatis.

“Presiden menyalahgunakan kekuasaan yang diberikan kepadanya oleh warga,” tandas hakim seraya menambahkan bahwa hukuman yang keras diperlukan untuk menandaskan kepada para pemimpin masa depan negara tersebut. Bahkan sebelumnya, jaksa telah mengajukan hukuman 30 tahun penjara untuk Park.

Park dinyatakan bersalah atas 16 dari 18 dakwaan yang ditudingkan kepadanya terkait dengan kasus pengusutan besar-besaran yang membuatnya lengser. Tak hanya hukuman penjara, dia juga didenda 18 miliar Won (sekitar 16,8 juta dolar AS).

Baca juga: Pemerintah Korea Selatan Kurangi Jam Lembur, Reaksi Masyarakatnya Justru di Luar Dugaan

Vonis Disiarkan

Park sendiri tidak berada di Pengadilan Distrik Pusat Seoul untuk mendengarkan putusan tersebut. Bersama pengacaranya, Park menolak untuk berpartisipasi setelah pengadilan memutuskan untuk langsung menyiarkan putusan—hal yang merupakan pertama kalinya terjadi di Korea Selatan, setelah undang-undang disahkan tahun lalu untuk mengaktifkannya.

Mantan presiden Korea Selatan ini dihukum antara lain karena terbukti melakukan kolusi dengan orang kepercayaannya yang bernama Choi Soon-Sil. Mereka menekan 18 kelompok bisnis agar menyumbang dana hingga 77,4 miliar Won (senilai 72,3 juta dolar AS) untuk peluncuran dua yayasan yang dikendalikan oleh Choi.

Tak pelak, skandal ini menyebabkan penangkapan, dakwaan dan sanksi hukum terhadap puluhan pejabat tinggi pemerintah dan pemimpin bisnis di negeri ginseng tersebut. Saat ini, Choi Soon Sil sendiri tengah menjalani hukuman penjara 20 tahun akibat kasus tersebut.

Ratu Pemilu

Park Geun-Hye yang pernah menjadi tokoh utama kalangan konservatif ini kerap dijuluki sebagai “Ratu Pemilu” oleh media lokal Korsel. Diketahui, wanita berusia 66 tahun tersebut telah berhasil memimpin partainya memenangkan pemilu. Kini, banyak pendukung setianya yang secara teratur menggelar aksi demonstrasi untuk menyerukan pembebasannya.

Diluar, saat pengadilan berlangsung, ratusan pendukung Park yang marah berkumpul untuk menyaksikan putusan di layar lebar, melambai-lambaikan bendera Korea dan AS dan menyerukan pembebasan mantan presiden. Mereka juga mengharapkan agar pengacara Park segera mengajukan banding atas hukumannya.

Sebelumnya, Kaum Korea Selatan yang lebih tua dan konservatif yang mengalami sendiri resim kediktatoran ayah Park sebagai periode kekuatan bagi negara itu merupakan mereka yang mendukung proses impeachment Park.

Park Geun Hye sendiri tetap bersiteguh bahwa dirinya tak bersalah dan hanya menjadi korban dari “balas dendam politik”. Park bersikeras menutupi skandal korupsi yang mencengkeram Korea Selatan, menggulingkan politik negara dan melibatkan beberapa tokoh paling kuat di sana. Ia juga menolak hadir dalam sidang pengadilan sejak Oktober lalu. Dalam sidang putusan hari Jumat, dia juga tak hadir dengan alasan sakit, seperti dikutip dari laporan TribunNews.com.

 

Impeachment dan Dipengaruhi Choi Soon-Sil

Park yang merupakan putri dari mantan diktator Park Chung-hee ditangkap pada Maret 2017 tak lama setelah dia dimakzulkan oleh Mahkamah Konstitusi Korea Selatan, yang menjunjung suara parlemen untuk mendakwa dia.

Pemungutan suara itu terjadi usai jutaan warga Korea Selatan turun ke jalan selama beberapa bulan untuk menuntut pemecatan Park. Demo terjadi setelah dugaan pengaruh besar yang dilakukan oleh penasehat, sahabat dan orang kepercayaannya, Choi Soon-sil, terungkap.

Choi, putri mantan penasihat spiritual Park Geun-hye tersebut, dituduh memiliki “kontrol penuh atas tubuh dan jiwa Park selama tahun-tahun pembentukannya.” Choi memang tidak memegang jabatan politik. Meski begitu, ia dituduh mempengaruhi Presiden Park untuk menyalurkan uang ke organisasi yang dikendalikannya serta untuk kepentingan pribadi lainnya. Selain itu, ia juga meminta agar putrinya bisa ditempatkan di sebuah universitas elit.

Skandal ini menyeruak pada Oktober 2016. Geun-hye dituduh membiarkan Soon-sil ikut campur dalam sejumlah urusan pemerintahan, termasuk penunjukan menteri di kabinet. Hal itu diyakini dilakukan Geun-hye karena ia berutang budi pada Choi Tae-min, ayah dari Soon-sil—sang penasihat spriritual ayahnya, seperti dikutip dari laporan Tempo.co.

Park dituduh terlalu terpengaruh oleh Choi. Pengadilan yang menguatkan pemakzulannya mendapati Park telah menyalahgunakan wewenangnya dalam membantu Choi mengumpulkan donasi dari perusahaan untuk yayasan yang didirikannya.

Memasuki bulan Februari, Choi dijatuhi hukuman 20 tahun penjara atas 18 tuduhan termasuk penyalahgunaan kekuasaan, pemaksaan, penipuan dan suap, serta denda $ 16.6 juta.

Juga, terlibat dalam skandal tersebut adalah beberapa konglomerat seperti Grup Samsung dan Lotte.  Kepala Samsung, Lee Jae-yong—miliarder berusia 49 tahun itu dinyatakan bersalah karena melakukan penyuapan dan tuduhan korupsi lainnya tahun lalu. Ia dijatuhi hukuman lima tahun penjara. Namun pada Februari lalu, mengurangi hukumannya dan menangguhkannya selama empat tahun.

Belakangan muncul dua tagar yang sangat populer di media sosial. Mana yang kamu pilih?

Posted by SuratKabar.ID on Tuesday, 3 April 2018