Ngeri! Para Biksu Jepang Lakukan Sokushinbutsu, Tradisi Esktrem untuk Menjadi Mumi


SURATKABAR.ID – Jepang dikenal dengan berbagai budaya yang unik dan keras seperti harakiri. Harakiri merupakan ketentuan bagi seorang prajurit yang membunuh dirinya sendiri setelah dianggap tak mampu menjalankan tugas yang diembankan kepadanya, atau malu terhadap diri sendiri karena kurang berdedikasi. Namun tak banyak yang tahu, selain harakiri, rupanya Jepang juga mempunyai tradisi lain yang bersifat lebih spiritual namun mengerikan. Namanya Sokushinbutsu.

Tradisi ini terbilang menyeramkan lantaran seseorang akan  ‘berdedikasi’ memumikan dirinya sendiri dengan cara yang ekstrem dan sangat menyiksa. Selama ini, kebanyakan dari masyarakat awam mengenal mumifikasi alias praktik pengawetan mayat hanya berasal dari Mesir. Kini terungkap bahwa Jepang juga mempraktikkan pengawetan mayat dengan teknik yang berbeda, bahkan bisa dibilang lebih menyeramkan.

Dilansir dari Amusingplanet.com melalui antvklik.com, Minggu (08/04/2018) di Prefektur Yamagata, ditemukan 2 buah mumi biksu yang diawetkan dengan teknik Sokushinbutsu. Sokushinbutsu merupakan sebuah ritual menghilangkan nyawa dengan cara-cara khusus agar tubuh tidak membusuk dan dapat menjadi mumi.

Ya, dengan kata lain, para biksu ini secara perlahan menjalankan suatu cara hidup agar dalam jangka waktu tertentu mereka bisa memumikan dirinya sendiri (self—mummification). Lebih dari 1.000 tahun yang lalu, budaya kuno ini pertama kali dipraktikkan oleh seorang pendeta Jepang bernama Kuukai.

Saat itu, ia memulai ritualnya di kuil yang terletak di gunung Koya, Prefektur Wakayama. Kuukai sendiri merupakan pendiri ajaran Shingon, sebuah ajaran dimana hukuman fisik diterapkan terhadap segala jenis kesalahan.

Baca juga: Kisah Mumi 5.000 Tahun yang Diyakini Sebagai Wanita Bertato Tertua di Dunia

Kendati sejarah mencatat ratusan biksu sempat terlibat dalam pelaksanaan Sokushinbutsu, namun hanya belasan biksu yang sukses hingga akhir. Pasalnya, proses ini memakan waktu yang tak sebentar, yakni 10 tahun—agar benar-benar berhasil.

Diet Ekstrem

 

Sokushinbutsu dimulai dengan diet khusus. Para biksu ini hanya makan kacang dan biji-bijian selama 1.000 hari. Kendati demikian, mereka tetap diwajibkan melakukan aktivitas sehari-hari seperti biasa. Cara ini efektif untuk menghancurkan lemak, karena makanan yang tidak seimbang dengan energi yang terkuras akan meluruhkan lemak secara signifikan.

Setelah itu, mereka akan melanjutkan diet kedua yang lebih ekstrem, yakni dengan mengonsumsi kulit pohon dan akar-akaran selama 1.000 hari ke depan. Kulit pohon dan akar-akaran tersebut dikonsumsi bersama dengan teh beracun yang dibuat dari getah pohon Urushi. Biasanya, getah pohon Urushi dimanfaatkan sebagai bahan pelekat atau pernis mangkuk tanah liat (porselen).

Diet ini akan menyebabkan biksu muntah terus-menerus sehingga cairan tubuhnya hilang dengan cepat. Kelak, racun ini juga berfungsi untuk mencegah belatung mengonsumsi mayat biksu nanti setelah meninggal.

Di akhir proses, biksu akan dimasukkan ke dalam peti batu dalam posisi lotus (bersila). Pada peti batu tersebut, saluran udara dibuat dan biksu diberikan sebuah lonceng. Sambil menunggu ajal menjemput, setiap harinya, sang biksu yang mengunci diri di dalam peti batu akan membunyikan lonceng untuk memberitahukan kepada orang yang di luar bahwa dia masih hidup. Demikian seperti dikutip dari laporan Liputan6.com.

Apabila lonceng telah berhenti berbunyi, maka mereka akan segera tahu bahwa biksu yang bersangkutan telah meninggal. Saluran udara kemudian akan dibuang, sedangkan petinya akan disegel. Setelah 1.000 hari, para biksu lainnya akan membuka peti untuk melihat apakah Sokushinbutsu ini berhasil atau tidak.

Matanya Dikeluarkan

Biksu yang berhasil menjadi mumi akan diletakkan di atas altar sebagai potret Budha. Mumi akan dipakaikan baju dan benda-benda lain yang dikenakannya dulu selama hidup. Meskipun matanya kemudian akan dikeluarkan, mereka percaya bahwa dia sanggup melihat hati manusia yang hidup.

Pada zaman dahulu, para biksu percaya bahwa jika mereka memilih jalan ini, maka mereka dianggap telah mencapai kesempurnaan dan keselamatan.

Kini, tradisi Sokushinbutsu sudah dilarang oleh pemerintah Jepang dikarenakan prosesnya yang bersifat penyiksaan terhadap diri sendiri. Sedangkan sekte yang sering melakukan ritual tradisi Sokushinbutsu ini, yakni Sekte dari Shingon, umumnya banyak ditemui di wilayah utara Jepang.