Divonis 10 Bulan Meski Tak Pernah Retas Akun Sri Rahayu, Jasriadi ‘Saracen’ Ajukan Banding


SURATKABAR.ID – Hakim Ketua Asep Koswara menjatuhkan vonis 10 bulan penjara kepada Jasriadi, ketua kelompok penyebar ujaran kebencian Saracen, dalam sidang yang digelar di Pengadilan Negeri (PN) Pekanbaru pada (6/4) lalu.

Usai mendengar putusan dari hakim ketua, seperti yang dilansir dari laman Kompas.com, Jasriadi langsung mengajukan banding. Pernyataan banding juga dikeluarkan oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU) Erik Kusnandar. Dan keduanya memiliki waktu sepekan untuk memenuhi berkas banding.

Meski tidak terbukti melakukan tindak pidana ujaran kebencian atau hate speech, namun hakim tetap menjatuhkan vonis 10 bulan. Pasalnya, Jasriadi dinyatakan bersalah atas kegiatan ilegal dengan mengakses data elektronik milik orang lain.

Berdasarkan pembacaan putusan oleh Hakim Anggota, Rizka, Jasriadi dinyatakan terbukti telah melakukan pelanggaran Pasal 46 Ayat (2) jo Pasal 30 Ayat (2) Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE).

“Terdakwa(Jasriadi) terbukti secara sah meyakinkan dengan sengaja dan tanpa hak mengakses komputer dan atau sistem elektronik milik orang lain,” jelas Rizka, seperti yang dikutip dari laman Kompas.com, Jumat (6/4/2018).

Baca Juga: Polri Terus Kejar Anggota MCA & Saracen yang Masih Buron

Sementara itu, Jasriadi membantah telah melakukan apa yang dituduhkan kepadanya. Karena itu ia mengajukan banding dan akan menunjukkan bukti yang menyatakan dirinya tidak melakukan tindakan ilegal akses data elektronik milik orang lain seperti yang dinyatakan majelis hakim.

“Ini akan saya perjuangkan, karena menyangkit jasa penyedia layanan dan jasa pengguna (perbaikan akun Facebook yang rusak),” tukas Jasriadi. “Jadi saya dinyatakan bersalah mengakses akun orang lain tanpa izin. Padahal saya sudah dapat izin dari Sri Rahayu Ningsih (terpidana kasus Saracen).”

“Sudah dapat izin, kenapa saya bersalah. Sri Rahayu Ningsih yang meminta akunnya diperbaiki. Alat untuk memperbaiki akun itu masih ada di handphone dan email saya. Silakan dicek,” tegasnya ketika ditemui usai sidang vonis.

Jasriadi mengaku tak sekali pun menyebarkan ujaran kebencian seperti yang selama ini dituduhkan kepadanya. Ia menegaskan bahwa dirinya hanya merupakan penyedia jasa layanan untuk memperbaiki akun-akun Facebook yang rusak.

Menanggapi 800.000 akun Facebook yang ditemukan polisi dan diketahui miliknya, Jasriadi menegaskan bahwa akun-akun tersebut merupakan milik pengguna Vietnam. Ia menyampaikan akun yang tersimpan di hard disk itu digunakan akun terdahulu untuk menyebarkan virus.

“Akun 800.000 itu tersimpan di hard disk saya. Akun itu adalah data yang pernah digunakan oleh orang Vietnam untuk menyebarkan virus [orno waktu itu. Jadi penyidik (polisi) menemukan data-data saya,” aku Jasriadi.

Padahal yang sebenarnya adalah, ia hanya ingin memperbaiki akun-akun yang dimaksud dari virus p0rno, bukan menggunakannya untuk menyebar ujaran kebencian di media sosial. Oleh sebab itu, ia dengan tegas menolak keputusan hakim. Ia juga merasa ada fakta yang sengaja ditutupi.

Seperti yang diketahui sebelumnya, pada Agustus 2017 Jasriadi ditangkap Mabes Polri atas dugaan kasus penyebaran ujaran kebencian melalui Grup Saracen. Adapun penangkapan Jasriadi dilakukan usai polisi mengamankan Sri Rahayu Ningsih serta Muhammad Tonong dengan kasus serupa.

Keduanya ditangkap dengan tuduhan dugaan tindak pidana ujaran kebencian dengan sengaja bertujuan menyebarkan informasi untuk menumbuhkan virus-virus kebencian yang berkaitan dengan Suku, Agama, Ras, dan Antargolongan (SARA) di individu dan kelompok.