5 Aliran Kepercayaan Baru Tersebar di Kota Pasuruan, Apa Saja?


SURATKABAR.ID – Sedikitnya terdapat lima aliran kepercayaan baru yang terpantau tumbuh di kota santri, Pasuruan, Jawa Timur. Menurut Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Bakesbangpol) Kota Pasuruan, Mas Djoko Baroto, aliran-aliran kepercayaan itu tersebar di beberapa tempat, seperti di Mancilan, Jalan Pasar Ikan, dan beberapa lokasi lainnya. Keberadaan mereka yang tercatat muncul sejak 2012 tersebut telah dipastikan tidak mengganggu masyarakat yang bermukim di sekitarnya.

Seperti dikutip dari reportase JawaPos.com, Jumat (06/04/2018), Bakesbangpol Kota Pasuruan lantas membentuk tim untuk mengawasi aliran kepercayaan yang tumbuh di kota tersebut. Hal ini merupakan bentuk dari upaya untuk menjaga agar daerah sekitar tetap kondusif.

Kelima aliran kepercayaan tersebut adalah:

  1. Kawruh Batin Tulis Tanpa Papan Kasunyatan,
  2. Sapto Darmo,
  3. Ilmu Sejati,
  4. Sangkan Paran Budi Luhur, dan
  5. Paguyuban Ngesti Tunggal.
Tim PAKEM

“Ada yang satu keluarga. Ada yang bertetangga dan kelompok. Tapi mereka tidak muncul, dalam artian tidak menunjukkan kegiatan kepercayaan secara blak-blakan,” kata Mas Djoko di sela kegiatan bertajuk ‘Fasilitasi Tim Pengawasan Aliran Kepercayaan Masyarakat (PAKEM)’, di Gedung Wolue, Selasa (03/04/2018) lalu, lansiran dari laporan Kumparan.com.

Seperti disampaikan Djoko Baroto, beberapa waktu lalu pihaknya telah menggelar fasilitasi Pengawasan Aliran Kepercayaan Masyarakat (Pakem). Ada pun yang akan dioptimalkan dalam tim tersebut ialah sejumlah tokoh masyarakat, kelurahan dan jajaran Forum Komunikasi Pimpinan Kecamatan (Forkopimka).

Baca juga: MUI Tak Terima Putusan MK Soal Aliran Kepercayaan di KTP, Kenapa?

“Dengan adanya tim itu, masyarakat juga turut berperan dalam mengawasi kelompok aliran kepercayaan yang ada,” terang Djoko Baroto.

Djoko juga menambahkan bahwa potensi berkembangnya aliran kepercayaan di Kota Pasuruan ini sangat terbuka dan keberadaan tim Pakem sendiri bersifat antisipatif. Karena sejauh ini penganut aliran kepercayaan tetap biasa hidup berdampingan serta rukun dengan warga yang bukan penganut aliran kepercayaan.

“Tim Pakem fungsinya mengawasi. Kami tidak melarang tapi juga tidak tinggal diam. Yang lebih penting, toleransi dan kerukunan tetap terpelihara. Sehingga, ketentraman dan ketertiban masyarakat dapat terjamin,” tukasnya.

Kerukunan adalah Segalanya

Djoko Baroto juga mengungkapkan, keberadaan kelima aliran kepercayaan itu terbentuk secara organik. Pemkot Pasuruan sendiri tak dapat melarang anggota aliran tersebut, sebab mereka adalah warga Kota Pasuruan.

Akan tetapi, menurut Djoko, pemerintah akan melakukan tindakan tegas apabila aliran tersebut ternyata mengusik dan memberi pengaruh buruk terhadap aktivitas masyarakat.

“Selama tidak meresahkan dan membuat gaduh masyarakat, maka kami juga memberikan toleransi. Yang paling penting adalah hidup berdampingan satu sama lain dan menjaga kondusifitas di Kota Pasuruan,” imbuh Mas Djoko.

Kegiatan fasilitasi dan pembinaan pun diberikan secara berkala kepada para penganut kelima aliran kepercayaan itu. Tujuannya, untuk mengantisipasi kemungkinan hal tak terduga sehubungan meluasnya perkembangan aliran-aliran tersebut.

“Kita kesulitannya adalah menghadirkan mereka kepada publik, mereka tidak mau. Tapi mereka kalau ditelepon dan diajak bertemu, mereka mau. Di situlah tantangan kami ke depan supaya Kota Pasuruan tetap aman seperti sekarang,” tuturnya, mengutip laman WartaBromo.com.

Di sisi lain, Setiyono selaku Wali Kota Pasuruan menegaskan, keberadaan aliran kepercayaan masyarakat harus selalu diawasi. Menurutnya, ini dikarenakan aliran baru tersebut ditakutkan tidak mencerminkan nilai-nilai aqidah serta menyimpang dari ajaran agama lain yang ada di Indonesia.

“Saya berharap Tim Pakem ini lebih dioptimalkan peranannya. Saya juga mengimbau agar aliran kepercayaan masyarakat ini lebih diwaspadai supaya tidak semakin meluas dan mempengaruhi orang lain untuk mengikuti alirannya,” tandas Setiyono.

“Akan tetapi, saya tegaskan bahwa kerukunan adalah segalanya. Kita tidak melarang tapi juga tidak diam begitu saja. Sama-sama saling mendukung, dengan catatan, tidak menimbulkan konflik sosial masyarakat.”