‘Cuci Otak’ Dokter Terawan yang Kontroversial, Seperti Apa Metodenya?


SURATKABAR.ID – Baru-baru ini, Direktur Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat Dr. dr. Terawan Agus Putranto, Sp.Rad (K) telah memperkenalkan temuan barunya yang menghebohkan. Temuan baru yang merupakan metode cuci otak untuk penyembuhan pasien stroke ini telah menuai kontroversi sejak pertama kali diaplikasikan. Tak hanya bermanfaat untuk mengobati pasien stroke saja, rupanya metode ini juga digunakan untuk mengatasi sumbatan di otak. Seperti apa metodenya?

Mengutip reportase JawaPos.com, Kamis (05/04/2018), prosedur ‘cuci otak’ ini sebenarnya merupakan metode radiologi intervensi dengan memodifikasi DSA (Digital Substraction Angiogram). Hingga saat ini, sudah banyak pasien dari dokter militer ini yang telah merasakan manfaat yang signifikan. Para pejabat tinggi negara maupun politisi yang sudah menempuh metode penyembuhan ini mengaku mendapatkan kualitas hidup yang jadi lebih baik setelahnya.

Salah satunya adalah Politikus Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Mahfudz Siddiq.

“Lebih banyak pasien warga biasa. Karena memang jadi layanan terbuka. Prinsip DSA sebenarnya praktik biasa dalam dunia kedokteran karena proses dan alat yang digunakan juga yang biasa dipakai di dunia medik,” tutur Mahfudz saat dijumpai oleh awak wartawan, pada Selasa (03/04/2018).

Sebagai permulaan, pasien akan diarahkan untuk berkonsultasi ke beberapa dokter internis. Langkah ini dilakukan guna memastikan kondisi pasien, apakah bisa menjalani DSA atau tidak. Dengan kata lain, sebelum menjalani DSA, pasien wajib menjalani pemeriksaan lengkap, mulai dari MRI, EKG hingga CT scan. Semua ini bertujuan untuk mengidentifikasi letak terjadi titik penyumbatan, seperti apakah penyumbatan terjadi di bagian kepala atau jantung, dan sebagainya.

Baca juga: Pernah Jadi Pasien ‘Cuci Otak’ dr Terawan, Mahfud MD Beberkan Fakta Mencengangkan

Tahap berikutnya yakni memasuki proses DSA. Proses ini akan dijalankan pasien sekitar 40 menit melalui pemasangan kateter (seperti pemasangan ring pada pasien jantung). Melalui mesin monitor dan mesin spray, dimasukkanlah cairan (yang merupakan penemuan Dokter Terawan) ke bagian tubuh yang ingin di-spray sumbatannya.

“Semua proses spray cairan termonitor di layar dan bisa terlihat saat cairan tersebut membersihkan titik-titik sumbatan sampai bersih,” imbuhnya kemudian.

Mahfudz sendiri mengagumi metode tersebut secara pribadi. Selebihnya, ia juga menganjurkan agar pasien selanjutnya harus mengubah pola hidup. Salah satunya yakni dengan membiasakan pola makan dan pola hidup yang lebih sehat dan baik demi terhindar dari terjadinya sumbatan baru.

“Efeknya bagus. Cuma kontinuitas efek tergantung pola makan, pola minum, dan pola hidup yang bisa menimbulkan sumbatan baru. Tidak ada obat-obatan lain. Hanya istirahat 3 jam pasca tindakan. Lalu penyembuhan bekas luka kateter selama 2 hari. Lalu selanjutnya terapi banyak minum air putih (minimal 3 liter/hari),” beber Mahfudz.

Tidak Berbasis Penelitian Ilmiah?

Seperti diberitakan sebelumnya, metode cuci otak atau brain flushing yang dibuat oleh dokter Terawan ini menuai kontroversi karena dinilai tidak berbasis penelitian ilmiah. Teknik ini dilakukan dengan memasukkan kateter ke dalam pembuluh darah melalui pangkal paha. Prosedur ini dilakukan untuk melihat apakah ada penyumbatan pembuluh darah di area otak.

Kateter kemudian menyemprotkan obat heparin sebagai penghancur plak atau lemak yang menyumbat pembuluh darah. Namun karena metode ini, dokter Terawan harus dijatuhi sanksi keras oleh Ikatan Dokter Indonesia (IDI), yakni pemecatan dari keanggotaan IDI selama 12 bulan.

Sementara itu, mengutip laporan Tempo.co, Ketua Umum Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI) Ilham Oetama Marsis menyebutkan akan menggelar forum pembelaan bagi Kepala Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat Gatot Subroto Terawan Adi Putranto.

Forum itu sudah dijadwalkan dalam waktu dekat, namun persisnya tak dapat diberitahukan ke pihak publik lantaran sifatnya yang internal.

Tanggapan Menkes

 

Dalam laporan Kompas.com, Menteri Kesehatan Nila Moeloek menyebutkan, rekomendasi sanksi pemecatan terhadap dokter Terawan Agus Putranto dari profesinya harus segera ditindaklanjuti Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI).

Menurut Nila, PB IDI selanjutnya bisa meminta klarifikasi Terawan terkait tudingan iklan serta penjelasan lebih dalam mengenai metode Digital Subtraction Angiography (DSA) atau yang dikenal dengan “cuci otak”.

Nila mengatakan, setiap inovasi dalam bidang kedokteran bisa digunakan untuk mengobati pasien setelah teruji secara klinis.

“Memang inovasi banyak tetapi betul tadi dikatakan harus terbukti kan dalam metodologi penelitian. Apalagi tentunya hal yang menyangkut kepentingan manusia,” ujar Nila di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (05/04/2018).

Dibela SBY

Sedangkan Ketua Umum Partai Demokrat, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dalam reportase TribunNews.com mengungkapkan dr. Terawan merupakan satu dari sekian dokter yang berprestasi.

Menurutnya, Terawan menjadi satu sosok yang dapat mengangkat nama baik rumah sakit, dokter dan ilmu pengetahuan di bidang kesehatan di Indonesia.

“Dokter Terawan merupakan salah satu Champion yang mampu mengangkat nama baik rumah sakit dan dokter di Indonesia,” ujarnya melalui keterangan, Jakarta, Kamis (05/04/2018).

SBY menjelaskan, Terawan bahkan sempat menyembuhkan salah seorang rekannya yang juga merupakan pimpinan suatu negara. Padahal, pimpinan negara itu sudah berkunjung ke rumah sakit di negara tetangga, namun, tidak kunjung sehat. Tetapi saat melakukan pengobatan ke dokter Terawan, dia bisa sembuh.

“Alhamdulillah, perdana menteri itu, bisa sembuh,” tutur SBY.

Belakangan muncul dua tagar yang sangat populer di media sosial. Mana yang kamu pilih?

Posted by SuratKabar.ID on Tuesday, 3 April 2018