Tragis! Pria Ini Baru Dinyatakan Tak Bersalah Setelah Tewas Dihukum Gantung 136 Tahun Lalu


SURATKABAR.ID – Setelah dinyatakan tidak bersalah atas tindakan kriminal yang dituduhkan kepadanya, seorang pria asal Irlandia mendapatkan pengampunan anumerta. Sayangnya, pria yang bernama Myles Joyce tersebut telah menjalani eksekusi mati dengan cara digantung 136 tahun lalu.

Dilansir dari Sky News melalui laporan Kompas.com, Kamis (05/04/2018), tepatnya pada Desember 1882, Myles Joyce bersama kedua orang pria lainnya dieksekusi mati. Pengadilan setempat menuduhkan kepada mereka bahwa ketiganya telah melakukan pembunuhan sadis atas lima orang dari satu keluarga.

Sebelumnya, seorang terdakwa lainnya bersikeras bahwa Joyce tidak bersalah. Sementara itu, Michael D. Higgins yang merupakan Presiden Irlandia menyebutkan, pengampunan terhadap Joyce akan memperbaiki catatan sejarah hukum di Irlandia, bahkan dunia.

“Ini merupakan episode yang memalukan dalam sejarah Irlandia dan Inggris,” ujarnya.

Pembunuhan Maamtrasna yang brutal tersebut memang pernah menjadi berita utama di seluruh dunia. Pada Agustus 1882, rumah sebuah keluarga diserang sehingga menyebabkan lima dari enam anggota keluarganya meninggal.

Baca juga: Biadab! Di Balik Eksekusi Mati TKI Zaini Misrin, Terkuak 6 Fakta Ganjil dalam Kasusnya

Ada pun korban yang tewas termuda saat itu baru berusia 14 tahun. Sementara yang tertua berumur 80 tahun.

Joyle yang mempunyai nama Irlandia “Maolra Seoighe”, mempunyai keterkaitan dengan beberapa anggota keluarga tersebut. Namun selalu ada keraguan mengenai tindakan yang dituduhkan terhadapnya.

Terlepas dari pernyataan bahwa dia tidak terlibat dalam pembunuhan yang terbilang sadis tersebut, persidangan Joyce dilakukan dengan menggunakan bahasa Inggris—sebuah bahasa yang tidak dimengerti oleh mereka yang berbahasa Gaelik, termasuk Joyce.

Diungkap oleh Ahli Hukum

Seperti dilansir dari reportase TribunNews.com, kecurigaan atas kasus ini awalnya muncul saat seorang ahli hukum yang ditugaskan untuk memeriksa kasus tersebut. Sang ahli hukum menyimpulkan bahwa Joyce, yang nama Irlandianya adalah Maolra Seoighe, dihukum secara salah.

Keganjilan atas persidangan Joyce tersebut baru terungkap, rupanya dikarenakan ada bukti dan kesaksian dari para saksi yang sengaja direkayasa oleh seorang polisi Irlandia (yang saat itu masih bergabung dengan Britania Raya).

Menyusul penilaian dari akademisi hukum College Dublin, Dr. Niamh Howlin, serta Menteri Kehakiman Irlandia, Charlie Flanagan, pada minggu lalu, yang mencari dan mendapatkan dukungan dari kabinet di pemerintahan Irlandia, mereka pun merekomendasikan pemberian pengampunan dari presiden kepada Joyce.

Atas usulan tersebut, Presiden Irlandia Michael D. Higgins kemudian menyatakan bahwa Joyce tidak bersalah.

“Seorang pria (Joyce) dihukum bersalah atas pembunuhan dan digantung karena kejahatan yang tidak dilakukannya,” tambah Higgins yang ikut menyayangkan terjadinya kekeliruan tersebut.

Presiden Higgins juga menggambarkan persidangan Joyce sebagai hal yang memalukan.

“Episode memalukan di Irlandia dan sejarah Inggris,” ujar Higgins seperti dikutip dari laman Mirror.co.uk.

Untuk memperbaiki nama Joyce, Presiden Higgins kemudian membuat surat pengampunan (grasi) secara anumerta kepada Joyce; pria yang sesungguhnya tak bersalah—namun karena fitnah—harus tewas dihukum gantung 136 tahun lalu.