Bandingkan Kasus Sukmawati dengan Asma Dewi, Dradjad: Dampaknya Jauh Lebih Luas


SURATKABAR.ID – Anggota Dewan Kehormatan Partai Amanat Nasional (PAN) Dradjat Hari Wibowo menyampaikan tanggapan atas kasus puisi berjudul ‘Ibu Indonesia’ Sukmawati Soekarnoputri yang dianggap telah menistakan agama Islam.

Ia menilai kasus puisi bernada Suku, Agama, Ras, dan Antar-Golongan (SARA) tersebut menjadi satu ujian bagi Pemerintah Indonesia, khususnya Polri dan Kejaksaan Agung untuk benar-benar membuktikan hukum dan keadilan berdiri, bukan menggunakan hukum sebagai alat menjunjung kekuasaan semata.

Dradjat, diwartakan Republika.co.id, membandingkan kasus putri Proklamator RI Bung Karno dengan kasus serupa yang menjerat Asma Dewi. Atas kritikan yang disampaikannya, Asma Dewi menerima bermacam-macam tuduhan dan bahkan sempat mendekam di balik jeruji besi selama 5 bulan.

“Pembandingnya masih hangat. Yaitu, kasus Bu Asma Dewi. Tuduhan yang disangkakan terhadap Bu Asma Dewi bermacam-macam, dan dia sempat dipenjara lima bulan lebih. Padahal, yang dia sampaikan adalah kritikan biasa,” tutur Dradjat, dikutip dari Republika.co.id, Rabu (4/4/2018).

Baca Juga: Sukmawati Sudah Minta Maaf, Dua Pelapor Ingin Proses Hukum Berlanjut

Menurut Dradjat, puisi Sukmawati jauh lebih berat jika dibandingkan dengan postingan Asma Dewi yang hanya berupa kritikan biasa. Akan semakin berat lagi, lantaran nama Presiden Pertama RI melekat erat pada sosok Sukmawati.

“Karenanya, dampaknya jauh lebih luas daripada Bu Asma yang bukan putri tokoh besar bangsa,” tambah Dradjat lebih lanjut.

Oleh sebab itu, Dradjat menegaskan pihak Polri dan Kejagung berkewajiban untuk menyelesaikan kasus Sukmawati seadil-adilnya. Ia menuntut Sukmawati agar diproses sesuai dengan prosedur yang dijalankan aparat penegak hukum terhadap Asma.

“Jika tidak, kedua lembaga ini akan makin dianggap tidak adil,” tegas Dradjat yang kemudian mencontohkan mudahnya hukum di Indonesia diakali, seperti kasus yang hingga detik ini tak kunjung diproses, yakni kasus Viktor Laiskodat.

Namun Dradjat menyatakan, lain halnya apabila Sukmawati menyampaikan permohonan maaf secara terbuka kepada seluruh umat Islam di Bumi Nusantara. Hal tersebut, menurutnya, jauh lebih baik dan tak akan ada masalah jika proses hukum kasus penodaan agama dihentikan.

“Umat Islam adalah umat pemaaf. Saya pribadi sebagai salah satu umat Islam sudah memaafkan, bahkan sebelum beliau meminta maaf. Saya malah mendoakan semoga Bu Sukma diberi kesempatan Allah AWT bertaubat dan menjadi muslimah yang lebih baik,” pungkasnya.

Sebelumnya nama Asma Dewi menghebohkan publik, lantaran proses hukum yang ia dapatkan usai dituduh menyebarkan ujaran kebencian. Ketika itu, Asma Dewi menggunggah tulisan mengenai antivirus Rubella, di mana ia menyebut antivirus tersebut dari China.

Postingan berikut yang diunggah adalah kritikan Asma Dewi yang menyayangkan ‘Malaysia belajar Sansekerta, sedangkan Indonesia belajar bahasa Cina’. Lalu postingan terakhir, Asma Dewi menyoal harga daging yang semakin tinggi melonjak.

Belakangan muncul dua tagar yang sangat populer di media sosial. Mana yang kamu pilih?

Posted by SuratKabar.ID on Tuesday, 3 April 2018