Bersaksi di Persidangan, Perawat Ungkap Perilaku Aneh Setya Novanto di RS


    SURATKABAR.ID – Indri Astuti, perawat di Rumah Sakit Medika, Permata Hijau mengungkapkan hal mencengangkan mengenai perilaku Setya Novanto selama dirawat di rumah sakit.

    Indri menjadi saksi untuk terdakwa Bimanesh Sutarjo di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi, Jakarta Pusat, di sidang yang digelar Senin (2/4/2018) kemarin.

    Dalam kesaksiannya, Indri mengaku memergoki Novanto berdiri tegak tak seperti orang yang sakit. Padahal, sehari sebelumnya Novanto masih terbaring lemas.

    “Jam 6 pagi saya masuk ke kamar, saya lihat bapak itu (Setya) berdiri tegak sedang buang air kecil di tempat pipis atau urinal,” ungkap Indri, dikutip dari tempo.co.

    Menurut Indri, hari itu ia akan melakukan pemeriksaan rutin untuk mengecek tekanan darah Novanto. Namun, saat ia masuk ke kamar ternyata Novanto masih tertidur.

    Baca juga: Ngamuk pada Petugas Dishub Hingga Telepon Anies, Ini Pengakuan Ratna Sarumpaet

    Karena itu, ia pun meninggalkan alat pengukur tensi di kamar VIP 323 yang ditempati Novanto. Tak lama berselang, Indri kembali ke kamar tersebut. Saat itulah ia melihat Novanto sedang buang air kecil sambil berdiri tegak.

    Indri mengaku, ia memang masuk ke kamar itu secara perlahan. Mungkin Novanto tak menyadari hal tersebut. Setelah itu, ia membantu Novanto ke tempat tidur.

    Indri juga mengatakan bahwa Novanto kaget melihat ada orang datang. “Saat itu saya langsung bilang ‘Pak sini saya tolongin’. Tapi si bapak itu kaget sampai badannya terangkat,” lanjutnya.

    Tak cuma itu, gelagat Setya pun langsung berubah. Dia yang mulanya bisa berdiri tegak, langsung terlihat lemas dan lunglai. “Dia merebahkan badannya dengan susah payah ke ranjang, padahal tadinya berdiri tegak,” terangnya.

    Indri yang dihadirkan dalam persidangan sebagai saksi terdakwa dokter Bimanesh tersebut beberapa kali terisak saat menjelaskan sejumlah kejanggalan selama merawat Novanto.

    Bimanesh sendiri dituding melakukan rekayasa rekam medis Setya Novanto untuk menghindarkannya dari pemeriksaan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) atas kasus korupsi e-KTP.