Tiongkok Haramkan Parodi Soal Komunisme


SURATKABAR.ID – Tiongkok telah mengeluarkan peringatan khusus kepada siapapun yang memparodikan tokoh maupun segala hal tentang komunisme. Peringatan yang dikeluarkan oleh Badan pengawas kebudayaan Tiongkok ini menyebutkan, pemerintah telah memberikan denda khusus kepada sejumlah situs yang melanggar aturan tersebut. Saat ini, terdapat dua situs yang didenda lantaran “menghina” karya klasik mengenai komunisme.

Mengutip reportase Japan Times via IDNTimes.com, Selasa (03/04/2018), iQiyi dan Sina merupakan situs video populer di Tiongkok. Namun, keduanya menerima denda dari pemerintah setelah dituduh “menghina” serta melakukan “distorsi” terhadap karya-karya klasik seputar komunisme. Denda tersebut dikeluarkan kurang dari dua minggu usai aturan baru mengenai parodi secara online diharamkan.

Akan tetapi, pemerintah sendiri tidak menyebutkan video mana yang dimaksud menghina tersebut. Selain dua website itu, ada satu rumah produksi di kawasan Sichuan yang disebut menerima “denda tertinggi menurut hukum” lantaran membuat parodi sebuah lagu revolusioner, Yellow River Cantata.

Selain itu, pemerintah Tiongkok juga melarang berbagai situs melakukan perubahan apapun terhadap karya-karya tertentu. Pada 22 Maret lalu, pemerintah Tiongkok mengeluarkan aturan yang melarang pemilik dan pengelola situs-situs internet melakukan “penyuntingan, pengisian suara, atau menambahkan teks terjemahan di beragam karya klasik, radio dan program televisi, atau program audio-visual orisinil lainnya”.

Bahkan, pemerintah Cina telah menurunkan hampir 12.000 petugas yang wajib memantau konten-konten di internet demi untuk menjalankan peraturan ini. Sejauh ini, badan sensor Tiongkok juga sudah menyelidiki lebih dari 7.800 situs dan ada lebih dari 230 pelanggaran yang ditemukan.

Baca juga: Menristekdikti Bolehkan Mahasiswa Pelajari Ilmu Komunisme

Dampak Negatif Bagi Para Pembuat Konten

Xi Jinping yang baru saja dinobatkan menjadi presiden Tiongkok seumur hidup rupanya memberikan dampak langsung, yang salah satunya adalah eksistensi dari Partai Komunis yang dinilai kian mencengkeram kebebasan publik. Aturan yang membatasi apa yang boleh diproduksi pembuat konten parodi komunis tersebut justru dianggap berdampak negatif.

Dalam reportase Reuteurs, seorang analis dari Beijing bernama Wu Jian menyebutkan, “Kini artinya banyak pembuat konten harus melakukan transisi dan membuat konten mereka lebih serius. Mereka yang tak patuh, situsnya akan segera ditutup.”

Sebagai akibatnya, mereka tak lagi memiliki keleluasaan untuk berkreasi. Sebelumnya, pemerintah sudah menargetkan genre musik hip hop sebagai musuh. Ini dikarenakan genre musik tersebut dianggap menyebarkan nilai-nilai yang tak sesuai dengan kultur Tiongkok.

Hal ini kemudian juga berimbas kepada dua pemenang kontes Rap of China, Wang Hao alias PG One, dan Zhou Yan alias GAI. Keduanya menerima sanksi dari pemerintah karena dianggap telah berperilaku buruk serta menyebarkan konten yang berlawanan dengan nilai-nilai Partai Komunis. Seperti GAI, contohnya, yang secara tiba-tiba diberhentikan sebagai pengisi acara di salah satu stasiun TV.

PG One juga sempat dipaksa untuk meminta maaf lantaran liriknya dinilai menghina perempuan dan mendorong pemakaian narkotika. Setelahnya, Xinhua yang merupakan media milik pemerintah menulis bahwa yang bersangkutan “tidak layak mendapatkan panggung”.

Belakangan muncul dua tagar yang sangat populer di media sosial. Mana yang kamu pilih?

Posted by SuratKabar.ID on Tuesday, 3 April 2018