Kata Paus Fransiskus Soal Keberadaan Neraka, Ada Atau Tak Ada?


SURATKABAR.ID – Publik baru-baru ini dihebohkan oleh tulisan seorang wartawan terkenal asal Italia yang menyebutkan perkataan Paus Fransiskus bahwa ‘neraka itu tidak ada.’ Namun demikian, Vatikan menyanggah hal tersebut dan mengatakan Paus tak pernah menyatakan hal kontroversial seperti itu.

Kutipan yang dipermasalahkan ini muncul di sebuah artikel di harian Italia La Repubblica. Akan tetapi, Vatikan menyebutkan ‘tidak ada kutipan apa pun dalam artikel itu, yang merupakan transkripsi yang dapat dipercaya’ dari kata-kata Paus.

Mengutip reportase Detik.com, Selasa (03/04/2018), Vatikan menyebutkan artikel itu berdasarkan pada pertemuan pribadi yang dilakukan Paus dengan Eugenio Scalfari. Yang bersangkutan merupakan pendiri harian La Repubblica. Dan pertemuan mereka bukanlah momen wawancara.

Diketahui, doktrin Gereja Katolik meyakini keberadaan neraka dan kekekalannya. Katekismus Katolik menyebut, jiwa-jiwa yang berdosa layak masuk neraka, dan mereka akan menderita di dalam ‘api abadi.’

Bagaimana pun, pastor Katolik senior di Inggris dan Wales yang bernama Kardinal Vincent Nichols mengungkapkan “tidak ada dalam ajaran Katolik yang benar-benar menyebutkan orang masuk neraka”.

Baca juga: Momen Indahnya Paduan Suara IAIN Salatiga Bernyanyi di Perayaan Paskah

Kepada BBC, Kardinal Vincent Nichols mengungkapkan bahwa Paus tampak berupaya mengeksplorasi “gambaran neraka: api dan belerang dan semua itu”.

“Itu tak pernah menjadi bagian dari ajaran Katolik. Hal itu menjadi bagian dari ikonografi Katolik, bagian dari ikonografi Kristen,” demikian ia menjelaskan.

Dalam artikel Eugenio Scalfari yang diterbitkan pada Kamis lalu, dia bertanya pada Paus ke mana ‘jiwa yang jahat’ akan pergi dan di mana mereka akan dihukum. Wartawan sekaligus pendiri dari harian Italia tersebut mengklaim adalah dirinya seorang ateis.

“Jiwa tidak dihukum,” jawab Paus menurut tulisan Repubblica.

“Mereka yang bertobat mendapatkan pengampunan Tuhan dan pergi bersama orang-orang yang mendoakannya. Namun mereka yang tidak bertobat dan tidak dimaafkan akan hilang. Tidak ada neraka—jiwa-jiwa yang berdosa lenyap.”

Disebutkan oleh pihak Vatikan, hal itu bukanlah wawancara melainkan sebuah pertemuan pribadi dalam rangka Paskah. Selain itu, artikel Scalfari merupakan ‘hasil dari rekonstruksi’ wartawan itu sendiri.

Vatikan Klarifikasi

Seperti dilansir The Guardian, Vatikan mengatakan “kata-kata literal yang diucapkan oleh Paus tidak dikutip” dan “tidak ada kutipan di artikel yang dianggap sebagai transkripsi setia dari kata-kata Bapa Suci.”

Demikian klarifikasi yang dikeluarkan Vatikan—bahwa tulisan dalam harian tersebut merupakan hasil rekonstruksi dan transkripnya tidak sesuai dengan perkataan yang sebenarnya dari Paus Fransiskus.

Seperti dilansir dari laporan Tirto.ID, Vatikan mengakui pihaknya menyepakati adanya pertemuan pribadi sebelum akhir pekan Paskah antara Bapa Suci dan Scalfari, seorang ateis yang sudah berteman dengan Paus sejak 2013. Namun, seharusnya tak ada wawancara yang diberikan.

Selama pertemuan itu, Scalfari bertanya kepada Paus Fransiskus ke mana “jiwa jahat” pergi. Paus kemudian menanggapi:

“Mereka tidak dihukum. Mereka yang bertobat mendapatkan pengampunan Tuhan dan mengambil tempat di antara barisan orang-orang yang merenungkan-Nya. Tetapi mereka yang tidak bertobat dan tidak dapat diampuni, lenyap. Neraka tidak ada, yang ada adalah hilangnya jiwa yang berdosa.”

Ada pun pada 2007, Paus Benediktus XVI mengatakan bahwa neraka “benar-benar ada dan abadi, bahkan jika tidak ada yang membicarakannya lagi.”

Sementara pada tahun 1999, Paus Yohanes Paulus II mengumumkan bahwa neraka adalah “konsekuensi utama dari dosa itu sendiri… [lebih] daripada sebuah tempat, neraka menunjukkan keadaan mereka yang secara bebas dan definitif memisahkan diri dari Tuhan, sumber dari semua kehidupan dan sukacita.”

Sedangkan menurut Kardinal Vincent Nichols seperti disebutkan sebelumnya, “tidak ada tempat dalam ajaran Katolik yang benar-benar mengatakan bahwa ada seorang pun di neraka.” Menurutnya, Paus tampaknya masih mengeksplorasi “citra neraka: api. Belerang, dan semua itu”.

Ini bukan pertama kalinya Scalfari dianggap salah mengartikan maksud Paus. Pada 2014 lalu, dia ditegur oleh Vatikan atas artikel yang mengatakan Paus Fransiskus telah menghapuskan dosa.

Persahabatan antara ia dan Paus pun sempat dikritik. Namun, Scalfari berdalih bahwa Paus yang meminta pertemuan karena dia suka “bertukar ide dan sentimen dengan orang yang tidak percaya [Tuhan].”

Paus Fransiskus juga pernah memicu kontroversi lainnya, salah satunya adalah ketika ia membasuh kaki 12 tahanan di penjara Regina Coeli Roma pada Kamis Putih. Di antara narapidana itu, ada dua orang Muslim, seorang Kristen Ortodoks, dan seorang Budha.

Diungkapkan Paus kepada mereka: “Setiap orang memiliki kesempatan untuk mengubah kehidupan dan orang tidak dapat menilai.”

Itu adalah yang keempat kalinya ia mengadakan misa di penjara Italia sejak menjadi Paus. “Saya orang berdosa seperti Anda tetapi hari ini saya mewakili Yesus … Tuhan tidak pernah meninggalkan kita, tidak pernah lelah memaafkan kita,” tukasnya.