Tak Banyak yang Tahu, Ternyata Kodok Berbeda dengan Katak


SURATKABAR.ID – Bisakah Anda menyebutkan perbedaan kodok dengan katak? Apakah keduanya merupakan jenis yang sama? Apakah suara “rekotok rekotok” yang sering terdengar di pinggir kali adalah suara kodok? Apakah katak maupun kodok bermanfaat bagi lingkungan? Apakah keduanya aman untuk dikonsumsi?

Jangan salah, ternyata dua hewan ini berbeda. Amir Hamidy, ahli herpetologi dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), punya jawabannya. Menurut Amir, penyebutan katak atau kodok sebenarnya mengikuti konsep Bahasa Inggris dan morfologinya.

Dalam penamaan Bahasa Inggris, istilah toad untuk kodok, sementara frog untuk katak, karena mempresentasikan dua suku. Kodok berasal dari Suku Bufoidae, sementara katak dari Suku Ranidae, “Dilihat dari morfologi, kebanyakan kodok lebih berbintil sedangkan kulit katak lebih halus,” demikian dijabarkan Amir sebagaimana dikutip dari laporan NationalGeographic.co.id, Minggu (01/04/2018).

Amir menambahkan beberapa fakta. Pada kenyataannya, ada banyak jenis katak dan kodok di Indonesia, yang bila dilihat secara morfologi tak hanya merepresentasikan Suku Bufonidae dan Ranidae saja.

“Di Jawa Barat sendiri, ada enam suku yang mewakili keduanya. Penyebutan suatu jenis pun harus sinergis dengan sistematika dan tata nama ilmu hewan,” tukas Amir yang merupakan Kepala Laboratorium Herpetologi Bidang Zoologi Puslit Biologi LIPI, Cibinong.

Baca juga: Tak Hanya Bisa Hidup di Darat, Ikan Ini Bisa Menyeberang Jalan

Dalam buku berjudul Amfibi Jawa dan Bali (1991), Djoko T. Iskandar menjelaskan bahwa dalam Bahasa Indonesia sendiri memang belum ada kesepakatan untuk penggunaan sebutan ‘katak’ atau ‘kodok’. Ia menerangkan, ‘kodok’ adalah penamaan dari Bahasa Jawa. Di Jawa Barat, ‘katak’ atau ‘kodok’ disebut ‘bangkong’, sedangkan ‘bancet’ adalah sebutan untuk ‘katak kecil’.

“Sementara di Jawa Tengah, katak kecil dipanggil ‘percil’ yang berlaku untuk anakan katak atau kodok.”

Katak atau kodok termasuk Bangsa Anura yang persebarannya hampir merata di seluruh dunia. Cirinya yakni tubuh yang pendek dan lebar, terdiri dari kepala, badan, dan mempunyai dua pasang tungkai yang tungkai belakangnya lebih besar. Kaki berselaput digunakan untuk melompat dan berenang.

“Katak atau kodok memiliki pita suara, yang biasanya sang jantan akan mengeluarkan “Nyanyian” untuk menarik perhatian betina,” demikian diungkapkan dalam buku tersebut.

Katak

Biasanya, telur yang menetas akan tumbuh menjadi larva yang berbeda dengan bentuk dewasanya. Orang awam umumnya mengenalinya dengan nama berudu. Hampir semua berudu akan mengalami metamorfosis saat menjadi dewasa. Namun pada beberapa jenis, ada juga yang langsung dewasa.

Ada pun dalam bukunya Panduan Bergambar Identifikasi Amfibi Jawa Barat, Mirza D Kusrini menjelaskan di Indonesia ditemukan sekitar 450 jenis katak atau kodok yang mewakili 11 persen dari seluruh Bangsa Anura di dunia. Sekitar 28 jenis, ada di Jawa Barat, dari Suku Bufonidae, Dicroglossidae, Microhylidae, Megophyridae, Ranidae, dan Rhacophoridae.

“Bila ingin menemukan katak atau kodok, datangi habitat mereka. Kolam, genangan air, sungai dan wilayah terestrial (tumpukan serasah, di balik kayu-kayu rebah, dalam tanah) serta pohon. Kebanyakan katak atau kodok aktif malam hari, sekitar jam 7 malam hingga 4 pagi,” paparnya.

Kodok
Manfaat di Alam

Katak maupun kodok mempunyai peran penting bagi ekosistem alam. Diungkapkan Mirza, katak merupakan pemakan serangga atau larva serangga yang berpotensi menjadi hama maupun sumber penyakit seperti nyamuk. Berudu dan katak dewasa senang memakan hama tanaman atau jentik-jentik nyamuk.

“Penelitian pakan katak oleh mahasiswa Institut Pertanian Bogor dengan membedah perut untuk melihat jenis apa saja yang dimakan, mendapatkan hasil memuaskan. Ternyata, ada kecoa dan rayap,” sebut dosen dan peneliti herpetologi dari Institut Pertanian Bogor ini, seperti dikutip dari Mongabay Indonesia.

Miki—demikian ia biasa disapa—mengungkapkan bahwa katak atau kodok juga berfungsi penting dalam mengendalikan ekosistem. Tanpa harus menggunakan pestisida, serangga yang menjadi musuh petani akan berkurang dengan kehadiran katak atau kodok yang memangsanya.

Miki juga memberikan tips bagi Anda yang ingin mendatangkan katak atau kodok ke rumah. Buatlah kolam yang diisi air dan tumbuhan. Tumbuhan berfungsi sebagai tempat berlindung bagi telur dan berudu kodok serta katak. Tumbuhan juga berfungsi memberikan pakan untuk anakan katak atau kodok. Bila tak ada kolam, Anda bisa juga menggunakan pot berisikan tumbuhan air. “Dengan menghadirkan katak atau kodok, kecoa dan rayap berkurang,” imbuhnya.

Ancaman

Kehidupan katak maupun kodok di alam, nyatanya tak luput dari ancaman. Ada empat faktor utama yang menyebabkan populasinya terganggu sebagaimana dijelaskan oleh Mirza dalam bukunya Pedoman Penelitian dan Survey Amfibi di Alam.

Pertama, hilangnya habitat dan lahan basah. Beberapa jenis amfibi terestrial, misalnya Leptobrachium hasseltii dan Megophrys montana (katak-tanduk gunung) merupakan penghuni hutan sehingga hilangnya hutan dapat memusnahkan jenis ini. Perubahan lahan basah akibat eutrofikasi, pencemaran, introduksi ikan asing, hilangnya hutan dan padang sekitar dapat menurunkan populasi amfibi.

“Genangan atau kubangan yang muncul saat hujan ternyata penting bagi pembesaran berudu katak pohon atau jenis lain.”

Kedua, pencemaran dan radiasi UV-B di beberapa negara industri atau kawasan yang mempunyai pencemaran udara tinggi mengakibatkan air hujan bersifat masam yang dapat mematikan embrio amfibi dan berudu.

Ketiga, bahan pencemar yang terkandung dalam sampah menjadikannya tumpukan berbahaya. Hasil riset menunjukkan amfibi rentan terhadap senyawa seperti logam berat, produk petroleum, herbisida dan pestisida. Penelitian di laboratorium secara konsisten menunjukkan, berudu lebih rentan terhadap pestisida ketimbang ikan.

Riset lain juga menunjukkan, jamur Batrachochytrium dendrobatidis menyebabkan penyakit chytridomycosis yang diduga menjadi pangkal utama kematian banyak amfibi di Amerika Tengah, Australia dan Asia.

Mengenai kondisi ini, Amir menuturkan, Indonesia sudah sering impor katak meski LIPI tidak merekomendasikan. “Katak impor tidak bebas jamur dan saat masuk ke Indonesia tidak ada pemeriksaan. Bila terlepas atau sengaja diepaskan ke alam, berbahaya untuk jenis asli karena penularan jamur melalui air,” ujarnya.

Masuknya jenis amfibi pendatang dari negara lain pun berisiko terhadap kehidupan jenis-jenis amfibi asli. Misalnya, jenis katak lembu Rana catesbeiana yang bentuk berudu dan dewasanya ialah predator. Ia dapat memakan katak jenis lain Jjika sengaja dicampurkan.

Keempat, Indonesia merupakan negara pengekspor terbesar paha katak beku di dunia yang mencapai 4 ribu ton per tahun. “Selain itu juga, katak dan kodok diperjualbelikan antarnegara sebagai binatang peliharaan di terrarium,” ungkap Mirza.

Sedangkan dalam laman Detik.com, diungkapkan bahwa katak aman untuk dimakan, sementara beberapa jenis kodok tak aman untuk dikonsumsi lantaran mengandung racun.