Perdana Menteri Israel Desak RUU Pelarangan Azan Diloloskan


Foto: Tempo

SURATKABAR.ID – Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, meminta pimpinan partai koalisi agar mendesak parlemen untuk meloloskan Undang-Undang Pelarangan Azan. Kabar tersebut berdasarkan situs berita Arab48 seperti dikutip Middle East Monitor, dilansir dari Tempo.co.

“RUU ini ditangguhkan sekitar satu tahun setelah sempat dibacakan di Knesset,” tulis Middle East Monitor. Terkait usulan Netanyahu tersebut, harapan dari para pengamat agar ada perbaikan sehubungan dengan terjadinya krisis pada internal koalisi, sebab ada penentangan dari partai-partai Yahudi Ortodoks.

Di antara isi RUU tersebut antara lain, melarang umat muslim menggunakan pengeras suara masjid untuk panggilan azan. Umat muslim juga tidak boleh menggunakan pengeras suara pada pukul 23.00 malam hingga 07.00 pagi sebab dianggap dapat mengganggu kegiatan ritual Yahudi Ortodoks.

“Pelanggar akan dikenakan denda sebesar US$3000 atau sekitar Rp 41 juta).”

Pada 2017 lalu draf RUU dari pemerintah mengenai pelarangan azan bagi seluruh masjid lantaran dianggap menyebabkan polusi suara disetujui oleh Komite parlemen Israel. Isi RUU tersebut adalah seluruh masjid di Israel dilarang mengumandangkan azan menggunakan pengeras suara pada pukul 23.00 hingga 07.00 waktu setempat.

Baca juga: Perdana Menteri Israel Dibawa ke Rumah Sakit, Ini Penyebabnya

Namun, keputusan parlemen tersebut dinilai menjadi gangguan bagi umat Muslim terutama ketika harus menerima panggilan salat Subuh dari muazin.

“Hukum ini sesungguhnya tidak ada kaitannya dengan kebisingan atau kwalitas hidup, melainkan sengaja ditujukan untuk meminggirkan kaum minoritas,” kata Ayman Odeh, anggota parlemen Arab-Israel, dalam sebuah pernyataan, seperti dilansir dari Tempo.co.

“Suara azan yang dikumandangkan oleh muazin selama ini tidak ada masalah sebelum pemerintahan rasis Benjamin Netanyahu,” lanjutnya.

Tetapi, banyak anggota Knesset (parlemen) lainnya yang merasa memang membutuhkan pelarangan itu. Azan subuh diyakini mereka dapat mengganggu tidur sejumlah ratusan ribu kaum Yahudi dan Arab.

Keputusan parlemen tersebut mendapat dukungan dari Perdana Menteri Netanyahu lantara beberapa kali masyarakat serta berbagai penganut agama mengungkapkan keluhan mengenai kumandang azan dari muazin.

Pengajuan RUU itu diberi nama “RUU Muazin” yang mengacu pada orang yang dalam sehari lima kali mengumandangkan azan atau panggilan salat.

Kalau RUU ini sampai lolos menjadi Undang-Undang, maka penerapannya kepada seluruh masjid yang berada di daerah pendudukan Arab, Yerusalem Timur, di luar wilayah Israel.


BAGIKAN

Komentar

komentar


Terpopuler



Berita sebelumyaSoal Makarel Bercacing, Menkes: Sterilitas Itu yang Harus Dijaga
Berita berikutnyaJadi Model Fashion Show Anne Avantie, Menteri Susi Pamerkan Tato