Biadab! 140 Ribu Nyawa Melayang di Tangan Pria Ini, Sebutannya Pahlawan atau Penjagal?


SURATKABAR.ID – Ada satu nama yang selalu terukir dalam sejarah dunia. Paul Warfield Tibbets Jr, pria kelahiran Quincy, Illionis, Amerika Serikat pada 23 Februari 1915 silam. Sosoknya disanjung, namun sekaligus juga dicaci dan dimaki oleh sebagian yang lain. Apa yang telah dilakukannya?

Paul, seperti yang dilansir dari laman Grid.ID pada Kamis (29/3/2018), bergabung dalam militer Amerika di usia muda. Tak ada yang spesial dalam karier Paul muda dalam dunia militer. Dan segalanya berubah drastic setelah Amerika Serikat ikut serta dalam Perang Dunia II yang begitu dahsyat.

Saat negeri adidaya tersebut dinyatakan terlibat dalam perang, Paul sebagai pilot tempur United States Army Air Force (USAAF) langsung menerima begitu banyak misi pengeboman. Inilah waktu baginya untuk menjalankan misi yang sesungguhnya, di mana namanya nanti tercetak dalam sejarah.

Ada satu misi paling penting yang diemban Paul. Misi ini membawanya ke puncak karier. Pada 6 Agustus 1945, ia menerima tugas istimewa, yakni meluluhlantakkan bumi Hiroshima, Jepang dengan bom atom yang menyimpan kekuatan nan mengerikan dari pesawatnya.

Baca Juga: Ngeri! Inilah 7 Alat Hukuman untuk Penjahat Zaman Dulu, Benar-Benar Tak Manusiawi

Ya, Paul Tibbets adalah sang pilot dari pesawat B-29 Superfortress ‘Enola Gay’ yang membawa bom atom untuk Hiroshima. Dan akibat bom tersebut, sebanyak 140 ribu nyawa warga Hiroshima langsung melayang saat itu juga.

Sekembalinya Paul usai menjalankan misi penting itu, ia bersama seluruh awak menerima anugerah Distinguished Service Cross, yakni medali penghargaan yang hanya diberikan kepada para pahlawan dalam peperangan.

Memang miris. Ia hanya orang yang mendapat tugas dari negara dan berhasil menjadi pahlawan. Namun di sisi lain, ia digempur kecaman aktivis HAM dari seluruh dunia. Pasalnya, akibat tindakannya, warga sipil Hiroshima yang sama sekali tak tahu menahu tentang perang harus menjadi korban tak berdosa.

Di tengah-tengah kecaman dan pujian, Tibbets justru mengeluarkan pernyataan yang sangat mengejutkan. Ia mengungkapkan tak pernah sedikit pun merasa menyesal telah menjalankan misi mengerikan tersebut. Paul beralasan, itu hanya tugas yang didapatkannya sebagai tentara negara.

Paul Tibbets bersama kru yang disambut bak pahlawan di negaranya

Bahkan jika perang kembali pecah suatu saat nanti, dan negara memberikan tugas serupa, ia menegaskan pasti akan menerima dan menyelesaikan sesuai perintah. Sayangnya, semua alasan tersebut tak lantas membuat semua aktivis HAM dan aktivis antinuklir mengurungkan kecamannya.

Tentara yang berjasa bagi Amerika Serikat ini menghembuskan napas terakhirnya pada 1 November 2007, tepat di usianya yang ke-92 tahun. Dan sebelum meninggal, ia berpesan agar nisan pada makamnya dibiarkan tanpa nama. Hal ini untuk menghindarkan aksi vandalisme dari aktivis antinuklir.