Nah Lo! Gara-Gara Injak Tengkorak Pemakaman Tua, Dua Remaja Harus ‘Nikmati’ Hukuman Adat


SURATKABAR.ID – Kedapatan melakukan penghinaan terhadap makam leluhur dengan menginjak tengkorak di kompleks pemakaman tua Kete Kesu, Toraja Utara, Sulawesi Selatan, dua orang remaja harus merasakan akibatnya. Sanksi adat dijatuhkan oleh pemangku adat setempat.

Wajah keduanya tersebut langsung tenar usai foto mereka tersebar di media sosial. Dalam foto tersebut terlihat seorang wanita memegang tengkorak, sementara seorang pria berpose dengan meletakkan kakinya di atas tengkorak, seolah akan menginjaknya, dilansir Kompas.com, Rabu (28/3/2018).

“Fotonya sempat viral di media sosial yang memperlihatkan seorang wanita bernama Rezky memegang tengkorak, sementara teman prianya bernama Randy berpose menaruh kaki di atas tengkirak tersebut seperti hendak menginjak tengkorak,” jelas Laluk Sarungallo, pemangku adat pada Selasa (27/3).

Diunggah oleh Rezky pada Senin (19/3) lalu dengan keterangan “Liburan kemaren ke kampung semalam doang nyempetin dulu”, si wanita yang sebelumnya memegang tengkorak, tampak kembali memegang tulang lainnya. Lantas beraksi seperti sedang bermain alat musik petik, gitar dengan tulang tersebut.

Baca Juga: Ngeri! Inilah 7 Alat Hukuman untuk Penjahat Zaman Dulu, Benar-Benar Tak Manusiawi

Tentu saja aksi kedua remaja tersebut menuai kecaman pedas dari penghuni jagad maya. Mereka dianggap tidak dapat menghargai adat dan budaya yang dimiliki oleh Suku Toraja, dengan melakukan aksi penghinaan di tempat yang sangat berarti bagi suku tersebut.

Usai aksinya viral dan ramai menjadi pemberitaan di media, kedua pelaku bergegas menyerahkan diri untuk meminta perlindungan kepada pihak kepolisian. Mereka pun diamankan di Mapolsek Panakukang, Makassar, Sulawesi Selatan, Sabtu (24/3).

“Kami tidak tahu jika akan begini. Dan saat berita itu muncul, dengan sadar kami melapor ke Mapolsek Panakukang untuk meminta perlindungan,” ucap si pelaku pria dalam foto yang viral beberapa waktu terakhir tersebut.

Dengan jaminan keamanan dari polisi, kedua pelaku dibawa ke objek wisata Kete Kesu dan menjalani sidang adat dipimpin pemangku adat setempat. Beruntung hanya hukuman ringan yang diterima mereka, yakni denda memotong seekor babi sebagai permohonan maaf pada leluhur Suku Toraja.

“Jadi karena hanya mau melakukan sesuatu hal surprise terhadap kawannya, bahwa ini bukti saya di Kete Kesu, di Kete Kesu ada tengkorak, dan itu tidak ada niat untuk merusak, atau mengambil, atau mencemari. Makanya hukumannya ringan, hanya seekor babi,” tutur Layuk Sarungallo.

Pelaku kemudian menjalani ritual Mengkasala atau permohonan maaf kepada leluhur dengan membawa pinang, sirih, kapur gambit, dan tembakau di tempat mereka berpose. Dengan bimbingan pemangku adat Kesu, mereka meletakkan benda-benda tersebut sambil memohonkan maaf.

Selanjutnya para pelaku menjalankan upacara sanksi dengan memotong babi, atau dikenal dengan ritual Mangrambulangi. Ritual ini merupakan bentuk pengakuan bersalah dan juga permohonan maaf kepada arwah para leluhur.

Rezky menurutkan bahwa pose tersebut dilakukannya tanpa sengaja dan bermaksud menghina. “Yang kami lakukan hanya spontanitas, tanpa ada unsur atai niat mencela budaya, itu hanya reflek kami aja. Kami menerima sanksi ini dengan tulus,” akunya.

Sedangkan Randy yang melakukan hal serupa juga mengaku menyesal dan meminta maaf kepada pihak-pihak yang telah dikecewakan. “Saya minta maaf atas kejadian ini dan sempat viral di media sosial. Dan atas kejadian ini kami menyesal, dan semoga tidak terulang kembali di tempat Kete Kesu ini maupun di tempat wisata lainnya,” ucap Randy.