Mengaku Sebagai Anggota Aktif MCA, Sosok Ini Beberkan Hal Mengejutkan di Mata Najwa


SURATKABAR.ID – The Family Muslim Cyber Army (MCA) dikenal masyarakat sebagai kelompok penyebar kebencian, SARA, hoaks, serta isu-isu provokatif untuk menjatuhkan pihak tertentu.

Namun, seseorang yang mengaku masih aktif sebagai anggota MCA malah membeberkan hal lain. Menurutnya, MCA yang diikutinya sama sekali berbeda dengan apa yang diketahui masyarakat.

Dia dihadirkan dalam program Mata Najwa yang dipandu Najwa Shihab dan mengungkapkan apa yang diketahuinya soal MCA. Termasuk soal apa sebenarnya tugas anggota grup tersebut.

Sumber yang tak disebutkan identitasnya ini mengaku bahwa ia telah menjadi anggota MCA selama kurang lebih hampir satu tahun. Menurut pengakuannya, ia bergabung dengan MCA karena diajak temannya.

Saat bergabung dengan MCA, sumber mengaku bahwa dirinya diberi tugas untuk membela para ulama menggunakan data valid. Begitu juga dengan anggota lain. “Mengajak untuk membela ulama dengan mengenakan data-data yang betul,” tuturnya, dilansir dari tribunnews.com, Kamis (22/3/2018).

Sementara itu, untuk berhubungan dengan anggota lainnya, ia mengaku menggunakan Grup Facebook dengan nama MCA 212. Grup tersebut hingga kini telah diikuti oleh 19.000 orang yang menjadi anggota. Setiap anggota dapat memposting dan menyebarkan berita di dalam MCA 212.

Sumber ini juga menegaskan bahwa MCA yang diikutinya sangat berbeda dengan MCA yang banyak diberitakan media. Menurutnya, MCA yang dikenal masyarakat adalah mereka yang keluar dari konteks.

Kalo MCA yang asli, dia istiqomah. Makanya saya bingung kenapa ada MCA lain yang keluar dari konteks,” lanjutnya.

Dia pun membeberkan perbedaan utama antara MCA yang asli dan yang palsu.”MCA yang asli dia nggak ada unsur untuk politik dan kepentingan lain. Tugasnya hanya meluruskan saja. Sedangkan yang palsu menjurus ke Islam teroris, radikalis, dll,” ujarnya.

Seperti yang diketahui, The Family MCA diringkus jajaran Direktorat Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri dan Direktorat Keamanan Khusus Badan Intelijen, Selasa (27/2/2018) lalu.

Menurut polisi, kelompok ini menyebarkan isu kebangkitan PKI, penganiayaan terhadap ulama, dan pencemaran nama baik sejumlah tokoh. Mereka juga menyebarkan virus yang dapat merusak perangkat elektronik.