Indonesia Diminta Saudi Untuk Hormati Sistem Hukuman Mati TKI


Foto: Antara News

SURATKABAR.ID – Mohammed Abdullah Al Shuaibi selaku Duta Besar Arab Saudi meminta agar pemerintah beserta masyarakat Indonesia paham dan juga menghargai perlakuan sistem hukum yang ada di negaranya.

Hal tersebut utamanya terkait dengan hukuman mati yang dijatuhkan kepada seorang tenaga kerja asal Indonesia, atas dakwaan telah melakukan pembunuhan.

“Kami mempunyai hukum sendiri yang didasarkan atas kitab suci Al Quran dan Hadist, yang berlaku untuk semua orang tanpa kecuali, baik warga negara Arab Saudi ataupun orang asing. Jadi saya meminta pemerintah dan warga Indonesia untuk menghormatinya,” ujar Osama kepada wartawan, Rabu (21/2/2018), di Jakarta, dilansir dari AntaraNews.com.

Sebelumnya, otoritas Arab Saudi menjatuhkan hukuman mati kepada seorang pria bernama Muhammad Zaini Misrin yang berasal dari Madura. Tepatnya, pada Minggu lalu.

Terdakwa sebelumnya telah ditahan selama hampir 14 tahun atas dakwaan kasus pembunuhan. Zaini sebenarnya sudah dijatuhi vonis hukuman mati sejak tahun 2008 oleh pengadilan setempat.

Dikabarkan sudah dua kali Presiden Joko Widodo meminta kepada pemerintah Arab Saudi agar menunda eksekusi terhadap Zaini. Tetapi, berakhir secara nihil lantara keluarga korban tak memaafkan perbuatan pelaku.

Lembaga pembela hak migran seperti Migrant Care juga menanggapi berita kematian Zaini dengan memberikan kecaman keras. Mereka memandang bahwa hukuman itu sudah melanggar hak asasi manusia.

Tetapi, menurut Osama tiap negara masing-masing sudah mempunyai hukum yang tak dapat diganggu gugat. Bahkan, sang duta besar memberikan contoh tentang bagaimana di Indonesia ada keputusan hukum yang serupa.

“Beberapa tahun lalu, Indonesia juga melakukan eksekusi mati terhadap para pengedar narkoba dengan kewarganegaraan asing. Saat itu negara-negara asal diharuskan menghormati hukum di Indonesia, demikian pula saat ini,” ujar Osama.

Osama pun juga menyampaikan bela sungkawa mendalam atas nasib Zaini, kepada keluarga yang ditinggalkan di Kabupaten Bangkalan, Jawa Timur, serta keluarga korban yang berada di Arab Saudi.

Di samping itu, diakuinya juga bahwa dia sudah menemui Direktur Jenderal Asia Pasifik dan Afrika, Kementerian Luar Negeri Indonesia, Desra Percaya, dengan tujuan berkomunikasi tentang hukuman mati untuk Zaini.

“Saya hanya berada dalam posisi mendengarkan apa yang disampaikan oleh bapak Desra yang mewakili pemerintah Indonesia.  Saya tidak akan berkomentar banyak soal itu,” kata Osama.

Komunitas internasional sering memberikan kritikan tajam kepada negara Arab Saudi lantaran praktik hukuman mati yang intensitasnya begitu tinggi.

Tenaga kerja asal Indonesia saja untuk sekarang sudah ada 20 orang yang divonis hukuman mati dan mereka pun menunggu eksekusi. Di antaranya sebagian besar terkait dengan kasus pembunuhan dan lainnya karena mendapat tudingan melakukan sihir.

Sementara, Direktur Perlindungan WNI Kementerian Luar Negeri, Muhammad Lalu Iqbal, menjelaskan kalau pihaknya betul mengalami kesulitan dalam membantu secara hukum.

Mereka sulit memberi bantuan hukum kepada warga Indonesia yang ada di Arab Saudi, khususnya sebelum tahun 2011, seperti kasus Zaini.

Menurut Lalu, para terdakwa kala itu seringnya tak mendapat pendampingan penerjemah serta dipaksa menandatangani surat pernyataan yang isinya tak diketahui.