Menapaktilas Kisah Cinta Soekarno dan Hartini


SURATKABAR.ID – Kisah cinta ‘Singa Podium’ Ir. Soekarno, bapak Presiden RI pertama tak bisa dibilang mulus tanpa lika-liku. Pada tahun 1943, suka tak suka Soekarno harus rela melepas kepergian Inggit Garnasih. Setelah bertahun-tahun Inggit jadi istri dalam masa perjuangan bagi laki-laki yang biasa dipanggilnya Kusno itu, rumah tangga mereka sayangnya tak langgeng bertahan selamanya. Rupanya, Kusno sangat menginginkan punya anak kandung. Ditambah dengan ia pun belakangan jatuh cinta kepada mantan muridnya, Fatimah.

Namun kisah kali ini bukan menyoal Inggit Garnasih atau Fatmawati. Setelah Kusno jadi orang terpandang di Jakarta, Fatimah yang masih gadis belia itu diboyong ke Pegangsaan Timur 56 untuk jadi istri Kusno. Nama Fatimah menghilang berganti Fatmawati. Inggit tentu saja sudah pergi dari rumah itu.

Bertahun-tahun kemudian, saat Fatmawati sudah memberi lima anak untuk Soekarno—dua di antaranya bahkan laki-laki—jenis kelamin anak yang paling diimpikan kebanyakan manusia Indonesia—Fatma ternyata belum cukup baginya. Di tahun 1953, malapetaka datang menimpa Fatma. Waktu  itu, umur anak bungsu mereka, Guruh, baru 2 hari. Soekarno dengan tenang berbicara pada istrinya di tempat tidur, demikian dilansir dari laman Tirto.ID, Rabu (21/03/2018).

“Fat, aku minta izinmu, aku akan kawin dengan Hartini.”

Pernyataan itu jelas menyakitkan. Pada dasarnya, tak ada perempuan yang bersedia diduakan. Fatmawati kemudian menjawab, “Boleh saja, tapi Fat minta dikembalikan pada orangtua. Aku tak mau dimadu dan tetap anti poligami.”

Soekarno tak menyerah pada ancaman itu. Ia langsung mengeluarkan jurus mautnya: “Tetapi aku cinta padamu dan juga aku cinta pada Hartini.”

Namun Fatmawati juga teguh pada pendiriannya. Ia membantah pada suaminya yang kasmaran itu, “Oo, tak bisa begitu!” tandasnya.

Kisah bagaimana Soekarno menduakan istrinya ini dituturkan oleh Fatmawati sendiri, seperti tercatat pada  Catatan Kecil Bersama Bung Karno-Volume 1 (1978:80).

Debut Poligami Soekarno

Namun pada masa pergerakan nasional, sebenarnya Soekarno  dikenal sebagai sosok yang anti-poligami. Dan saat masa perjuangan sudah lewat, ia lantas berubah menjadi orang yang justru mempraktikkan poligami.

Beralih kepada Hartini. Sosok ini tak hanya mendapat stigma perebut suami orang, ia juga dikecam sebagai Lonte Agung oleh demonstran Anti-Soekarno.

Mahligai limbung. 

Asmara kena tikung 

pelakor agung.

Menurut Rosihan Anwar dalam In Memoriam: Mengenang Yang Wafat (2002), Bung Besar, rupanya sedang kepincut lalu berpacaran dengan seorang janda sewaktu Fatma tengah mengandung Guruh Soekarnoputra (hlm. 391-394).

Sementara menurut Peter Kasenda dalam Bung Karno: Panglima Revolusi (2014), ada yang menyebut bahwa waktu mereka mulai dekat, Hartini masih berstatus istri orang. Namun, Hartini membantah hal itu (hlm. 264).

Sebelum berstatus janda, Hartini adalah istri seorang dokter bernama Soewondo. Suaminya merupakan kenalan Kolonel Gatot Subroto. Hartini menikah dengan sang dokter dalam usia yang masih sangat muda. Perkawinan yang membuahkan lima anak itu pun akhirnya bubar.

Bung Besar Soekarno pertama kali bertemu Hartini di Candi Prambanan. Gatot Subroto disebut merupakan orang yang menjadi perantara perkenalan itu. Sewaktu berkenalan, Hartini tentu saja tahu jika Soekarno bukan laki-laki lajang.

Sedangkan laporan Republika.co.id Minggu (15/05/2016) diungkapkan bahwa mereka bertemu gara-gara sayur lodeh. Pertemuan Presiden pertama RI dengan Hartini itu terjadi di Salatiga pada 1952. Sayur lodeh yang menjadi makanan favorit Soekarno itu menjadi jamuan makan di rumah wali kota Salatiga. Dan rasa sayur yang lezat membuat Soekarno dipertemukan dengan pembuatnya, Hartini.

Hartini berkenalan dengan Soekarno yang rupanya langsung jatuh cinta pada pandangan pertama. Saat itu pemimpin tertinggi revolusi tersebut sedang dalam perjalanan menuju Yogyakarta untuk meresmikan Masjid Syuhada.

Di Salatiga, Soekarno pun menuliskan kalimat cinta di secarik kertas untuk Tien, panggilan mesra Soekarno untuk Hartini. “Tuhan telah mempertemukan kita Tien, dan aku mencintaimu. Ini adalah takdir.”

Meski Fatma bersikeras menolak, Bung Karno pantang mundur untuk kawin dengan Hartini. Saat itu, umur Hartini masih 28, sementara Soekarno sudah kepala lima. Kecantikan Hartini amat tersohor di antara para penggede di Jawa Tengah.

Perempuan kelahiran Ponorogo, 20 September 1924 itu dinikahi Bung Karno pada 7 Juli 1953 di Istana Cipanas, Jawa Barat. Usia mereka terpaut 23 tahun. Mangil Martowidjojo merupakanpihak yang bertindak sebagai wali nikah, ia dikenal sebagai kepala pasukan pangawal pribadi presiden. Perkawinan itu praktis bikin geger. Kaum perempuan dari Kongres Wanita Indonesia (Kowani) menentang poligami Soekarno.

Fatmawati yang dongkol bukan kepalang lantas memutuskan angkat kaki dari Istana Negara. Ia memilih tinggal di Jalan Sriwijaya, Jakarta Selatan. Tapi ia tak bisa mendapat hak cerai dari Soekarno yang sudah menikmati perkawinannya dengan Hartini. Bagaimanapun, Fatmawati adalah ibu dari lima anak pertama Soekarno. Apa yang terjadi setelahnya adalah Fatmawati tetap jadi first lady (ibu negara), meski istri Soekarno bertambah dan silih berganti setelahnya.

Hartini diberi tempat tinggal di sebuah paviliun Istana Bogor. Demi menjaga perasaan Fatmawati dan kelima anaknya, Soekarno tak menempatkan Hartini di Istana Negara. Meski begitu, Hartini tahu, setelah Indonesia merdeka, dirinya menjadi wanita kedua terpenting di Indonesia setelah Fatmawati.

Cinta Soekarno belakangan tak hanya terbagi dua, namun lebih dari itu. Rupanya, birahi pria kelahiran Surabaya ini memang tak kenal batas. “I need s*ex everyday,” ujar Soekarno kepada penulis autobiografinya, Cindy Adams.

Soekarno menambah istri berkali-kali setelahnya, termasuk dengan Ratna Sari Dewi. Hartini pun hanya bisa menyaksikan tanpa bisa membendung hasrat Bung Besar.

Ideal Perempuan ala Soekarno

Memasuki 6 Mei 1963, di lapangan terbang Kemayoran, Soekarno baru pulang dari Irian Barat saat Hartini bertemu dengan wanita lain yang dipuja suaminya. Perempuan itu bernama Haryati alias Pentul. Rosihan Anwar menyebutkan bahwa dalam istilah Belanda, Haryati adalah “Een verjongde uitgave van Hartini” (Suatu cetakan lebih muda dari Hartini).

Dalam perjalanan dari lapangan terbang ke Istana Merdeka, Hartini dan Haryati menaiki mobil yang berbeda. Namun keduanya harus menanggung malang.

“Tatkala Megawati dan putri-putri Presiden lainnya melihat Hartini dalam [rombongan] RI-1, maka mereka terus masuk ke dalam dan menutup pintu-pintu istana,” tulis Rosihan.

Belum selesai hati Hartini galau karena menerima surat cinta dari Presiden Republik Indonesia, sudah datang lagi telegram-telegram, dan surat-surat bernada cinta selanjutnya.

“Ketika aku melihatmu untuk kali yang pertama, hatiku bergetar. Mungkin kau pun mempunyai perasaan yang sama. Ttd: …. Srihana.

Srihana adalah nama samaran Bung Karno. Adalah Bung Karno yang juga memberikan nama Srihani kepada Hartini, sebagai nama samaran pula. Surat-menyurat Bung Karno dan Hartini selanjutnya terus mengalir menggunakan nama samaran Srihana dan Srihani. Demikian dikutip dari reportase Viva.co.id (31/07/2015).

Keesokan harinya, Hartini yang sedang hadir di Kongres Wanita Perti, buru-buru dijemput Soekarno. Konon, Soekarno hendak mencegah pernyataan Hartini sebagai ibu negara. Bukan anak-anak Fatmawati saja yang tak sudi bertemu dengannya, beberapa istri pejabat era Soekarno juga enggan bersua Hartini.

Tak hanya insiden di Istana Merdeka itu yang memilukan Hartini, istri yang telah memberikan dua anak—Taufan dan Bayu—kepada Soekarno. Waktu musim demonstrasi mahasiswa 1965-1966, kelompok anti-Soekarno memberi Hartini sebuah “gelar” yang agak menyakitkan: Lonte Agung. Soekarno tentu marah besar.

“Pada 18 Januari 1966, 10 orang mahasiswa mewakili KAMI Pusat, KAMI Jaya dan KAMI UI, menghadap Presiden Soekarno. Dalam pertemuan tersebut Presiden memarahi para mahasiswa terutama dari PMKRI karena aksi corat-coret di tembok rumah istrinya, Hartini di Bogor dengan kata-kata kotor antara lain: Hartini Lonte Agung dan Hartini Gerwani Agung dan lain-lainnya,” tulis Benny G. Setiono dalamTionghoa Dalam Pusaran Politik (2003: 916).

Di mata Bung Karno, Hartini adalah perempuan ideal. Seperti dicatat Rosihan Anwar, presiden pertama itu pernah mengatakan pada Sudjatmoko, salah satu tokoh Partai Sosialis Indonesia (PSI) yang dibubarkan Soekarno, “Koko, kalau kamu menikah, ambillah orang yang kurang intelektuil.”

Hartini adalah seorang Jawa yang tak cerewet, patuh, santun, dan tak suka membantah—tipikal perempuan yang sangat didambakan Soekarno. Tak heran jika dalam surat cintanya kepada Hartini, Soekarno pernah bilang, “Tin, kita memang ditakdirkan untuk bertemu. Engkau dan aku memang musti bersatu, cinta kita adalah takdir.”

Rayuan maut itu tak lain dimaksudkan agar Hartini mau menerima pinangan sang presiden. Hartini lalu menjadi istri kedua yang harus rela makan hati, meski berpeluang hidup enak di istana.

Setelah Soekarno dilengserkan dari kursi kekuasaannya dan kemudian meninggal pada 1970, Hartini tinggal bersama ketujuh anaknya. Ia sempat membuka usaha kecil-kecilan untuk menghidupi mereka. Uang pensiun Soekarno baru diberikan pemerintah pada 1980, yang harus dibagi tiga dengan Fatmawati dan Ratna Sari Dewi.

Hartini menutup usianya di Jakarta pada 12 Maret 2002, 16 tahun lalu. Jenazahnya dilepas oleh Megawati Soekarnoputri, anak tirinya, yang saat itu masih menjabat sebagai Presiden Republik Indonesia.