Anak Tantrum, Apa Penyebabnya Bagaimana Cara Penanganannya?


SURATKABAR.ID – Menangani anak yang kerap mengamuk, marah-marah dan suka banting-banting barang bukanlah perkara mudah. Kondisi ini kerap disebut tantrum pada anak. Tantrum merupakan hal yang umum terjadi, terutama pada anak yang berusia antara 1 hingga 4 tahun. Kendati menyeramkan, tantrum pada anak merupakan salah satu cara belajar anak untuk berkomunikasi secara efektif dengan Anda dan lingkungannya.

Akan tetapi, sebagai orangtua, Anda harus bisa mencoba untuk menghentikan amukannya. Anda tentu akan risih jika sang buah hati mengamuk saat di tengah keramaian, misalnya di pusat perbelanjaan. Masyarakat awam menyebut letupan amarah anak tantrum dengan istilah anak mengamuk. Dan layaknya orang mengamuk, tantrum bisa terdiri dari gabungan tingkah laku menjerit, melempar barang, membuat tubuh kaku, menangis, memukul, serta berguling-guling di lantai atau tidak mau beranjak dari tempat tertentu.

Mengutip reportase Kumparan.com, Senin (19/03/2018) Tantrum, bisa mulai terjadi saat anak memasuki usia 15 bulan, namun paling sering terjadi antara usia dua dan empat tahun. Meski frekuensi tantrum berbeda pada setiap anak, namun pada anak yang aktif dan memiliki kemauan keras mungkin saja bisa mengalaminya hingga dua kali per minggu.

Apa Penyebabnya?

Umumnya, tantrum merupakan ekspresi frustrasi si kecil. Anak-anak mungkin merasa frustrasi karena ketidakmampuan mereka untuk melakukan aktivitas yang mereka coba, seperti mengambil satu benda di atas lemari atau membuka tutup kotak mainannya.

Tantrum juga bisa menjadi ekspresi frustrasi anak karena merasa kurang mempunyai kontrol terhadap kehidupan mereka. Misalnya saat ia masih ingin terus bermain tapi diminta untuk tidur, atau ingin permen tapi tidak dibelikan.

Selain itu, terkadang tantrum juga bisa sengaja dilakukan anak sebagai upaya untuk mendapatkan perhatian dari orang tua atau orang dewasa lainnya. Itu sebabnya kebiasaan tantrum akan lebih sering dilakukan anak bila anak mengetahui bahwa dengan cara itu keinginannya akan dipenuhi.

Ketika mengamuk dan Anda menuruti keinginannya, maka ia akan melakukan hal (mengamuk) itu untuk memenuhi keinginannya. Dan jika dibiarkan, hal itu akan menjadi kebiasaan buruknya. Demikian sebagaimana dikutip dari laman AloDokter.com.

Cara Penanganannya

Itu sebabnya, orang tua perlu belajar untuk mengabaikan amukan dan membiarkan tantrum reda dengan sendirinya. Pastikan saja Anda mengawasi dan segera mengambil tindakan yang diperlukan bila ada risiko bahaya terjadi saat anak sedang tantrum. Misalnya, jika saat anak mengamuk ia berlari ke jalan raya, menyakiti dirinya sendiri atau orang lain dan risiko bahaya lainnya.

Jika anak menjadi tantrum karena keinginannya Anda tolak, cobalah bersikap tegas. Bila Anda menolak lalu berubah mengabulkan setelah anak mengamuk, ini akan mengajarkan pada anak bahwa mereka bisa mendapatkan apa yang diinginkan dengan cara ini. Jadi, cobalah untuk tidak memenuhinya meski misalnya amukan terjadi di tempat umum dan mengganggu atau membuat malu Anda.

Lupakan sejenak dulu rasa malu Anda, dan tetaplah perlakukan anak seperti bagaimana Anda memperlakukan mereka di rumah. Bila memungkinkan, bawa anak ke sudut yang lebih tenang dan tidak terlalu menarik perhatian. Biarkan anak menyelesaikan amukannya hingga reda dengan sendirinya.

Sikap tenang dan kalem Anda akan sangat berpengaruh di sini. Jadi jangan terpancing untuk marah. Anak akan belajar bahwa ia tak bisa memperoleh apa yang diinginkannya dengan cara mengamuk seperti itu.

Anda juga tak perlu mencoba berargumentasi dengan anak pada saat ia sedang mengamuk. Tunggu sampai amukannya berakhir, baru jelaskan pada anak bahwa caranya itu salah dan tak bisa diterima.

Selain itu, usahakan untuk mengurangi frekuensi anak tantrum dengan cara menghindari pembatasan yang berlebihan terhadap kebebasan anak. Lakukan hal ini sambil terus bersikap konsisten. Sikap Anda akan membantu anak untuk dapat lebih pintar mengatur emosi dan menghadapi rasa frustrasinya.