Ingat! Demi Keamanan, Jangan Tekan Pin ATM Pakai Satu Jari


Foto: Liputan6

SURATKABAR.ID – Tindak kejahatan perbankan lagi-lagi menjadikan Bali sebagai sasaran. Kali ini modusnya adalah skimming. Sudah ada dua kejahatan terungkap oleh Polda Bali dalam sepekan, dengan melibatkan warga negara Rusia dan Turki. Kejahatan serupa sudah terjadi sebelumnya dan pelaku tertangkap adalah kelompok Bulgaria dan Moldova.

Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Bali pertama kali melakukan penangkapan pada Sabtu (10/3/2018) usai dilakukan penelusuran jejak gerombolan penjahat menurut laporan dari salah satu bank pelat merah di Bali.

Dilakukan penyelidikan terhadap salah satu gerai ATM yang ada di Denpasar. Sementara, hasil yang didapat oleh polisi yaitu mesin ATM yang dicurigai itu mengalami modifikasi.

“Setelah dicek penyidik menyimpulkan kejahatan skimming,” ucap Wakil Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Bali AKBP Sugeng Sudarso, Kamis (15/3/2018), seperti Liputan6.com.

Lantas polisi mencari tahu pelaku pemasangan alat tersebut lewat closed circuit television (CCTV). Untuk mempelajari serta mencari tahu pelaku pemasangan alat skimming di mesin ATM itu membutuhkan waktu selama dua minggu.

“Akhirnya ditemukan satu warga negara asing yang gelagatnya mencurigakan. Dia juga lama berada di dalam gerai ATM tersebut,” ujar Sugeng.

Kemudian polisi mengantongi ciri-ciri yang mengarah kepada identitas tersangka. Kerja keras mereka terbayar, tak berselang lama polisi mendapatkan jejak pria yang berasal dari Turki itu.

Tersangka pun baru ditangkap oleh polisi saat mereka sedang melancarkan aksinya menguras rekening si korban.

“Kami tangkap dua orang warga negara Turki, lalu dikembangkan dengan membawa ke hotel yang mereka tinggali di Nusadua,” papar Sugeng.

Ada seorang lagi dari komplotan Turki yang tertangkap polisi di hotel itu. Si tersangka bertugas menyalin data nasabah yang didapat dari rekaman kamera pada penutup tombol angka ATM.

“Jadi, jangan memencet nomor PIN dengan satu jari, usahakan pakai lima jari bergantian memencet PIN, agar tidak mudah terbaca oleh pelaku skimming,” Sugeng mengimbau.

Polisi pun berhasil menyita sejumlah alat skimming serta kartu magnetik dari tangan tersangkka, barang bukti tersebut akan dijadikan alat untuk menyalin data korban yang telah direkam. Selain itu, ada enam unit laptop yang disita polisi dari tersangka.

Menurut laporan bank, kelompok Turki ini sudah melancarkan aksi kejahatan dengan menguras uang miliaran rupiah. Tetapi, didapati uang tunai sejumlah Rp 119 juta dari tersangka ketika polisi melakukan penangkapan.

“Ini sedang didalami kemana mereka larikan uangnya. Juga menelusuri aktivitas laptop mereka dan blank account,” kata Sugeng.

Pelakunya Kelompok Rusia

Dua warga Rusia yang diduga melancarkan kejahatan perbankan bermodus skimming ditangkap polisi pada hari Rabu (14/3/2018).

“Bermula dari kasus penganiayaan di mana kami menemukan kartu ATM bodong dari dompet korban. Setelah diperiksa ternyata dia melakukan skimming,” kata Sugeng.

Kemudian, di sebuah hotel di Badung, polisi juga mengamankan rekan pelaku yang sama-sama warga negara Rusia.

“Kami menemukan alat-alat skimming di kamar yang mereka tempati,” ucap Sugeng.

Targetkan Wisatawan Asing

Polisi menyelidiki dan menemukan hasilnya bahwa tersangka menjadikan gerai ATM yang sering didatangi wisatawan asing sebagai targetnya.

“Alasannya karena orang asing banyak duitnya,” terang Sugeng.

Sementara ini dari hasil penelusuran diketahui pergerakan mereka tak hanya di Indonesia saja, namun juga di negara-negara Asia Tenggara, di antaranya Malaysia, Singapura, Vietnam serta Brunei Darussalam. Untuk masuk ke Indonesia mereka menggunakan visa wisata.

Selain uangnya lebih banyak, Sugeng menjelaskan bahwa alasan lain pelaku menargetkan wisatawan asing yakni lantaran PIN yang dipakai lebih sederhana, hanya empat angka. Beda halnya dengan nomor PIN bank Indonesia yang memakai enam digit untuk angka PIN.

Jika para nasabah terhindar dari skimming ketika mengambil uang, Sugeng mengimbau agar menekan PIN dengan menggunakan lima jari dan coba mencari ATM di tempat yang ramai.

“Jangan di tempat sepi dan tidak ada sekuritinya. Karena mereka leluasa beraksi karena tidak ada petugas keamanan yang berjaga,” ujar Sugeng.

Skimming merupakan pencurian informasi kartu kredit atau debit yang menggunakan cara menyalin informasi pada strip magnetik kartu, aksi kejahatan ini telah merebak sejak tahun 2009. Sampai sekarang, nasabah masih diintai oleh aksi kejahatan itu.

Dengan skala yang sangat meluas, Direktorat Tindak Pidana Ekonomi dan Khusus Bareskrim Polri pada tahun 2015 mencatat sejumlah 1.549 kasus. Yang berarti, di Indonesia terjadi sepertiga dari kasus skimming di dunia.


BAGIKAN

Komentar

komentar


Terpopuler



Berita sebelumyaMobil Kepala Dinas di Surabaya Ditembaki, Ternyata Ini Penyebabnya
Berita berikutnyaAlexis Bakal Tinggalkan MU untuk Wujudkan Cita-Citanya