Pejuang Kemerdekaan Berambut Gondrong dalam Sebuah Foto, Kisah Dibaliknya Ungkap Fakta Menarik


SURATKABAR.ID – Sebuah foto dokumenter lawas nan menarik dari aktivitas para pejuang kemerdekaan RI diunggah oleh akun Twitter @potretlawas pada 27 Januari 2018 lalu. Foto yang menarik itu diserta keterangan foto yang berbunyi, “Gerilyawan divisi Siliwangi di Jawa Barat, 26 April 1949. Beberapa berikrar tetap gondrong sampai Belanda pergi.” Ya, para gerilyawan ini memutuskan memanjangkan rambut bukan tanpa sebab. Kisah dibaliknya justru mengungkap beberapa fakta yang menarik untuk disimak.

Secarik foto hitam putih itu memang memperlihatkan sekumpulan pemuda pejuang. Tampak di tengah, ada seorang pejuang menggunakan radio disaksikan rekan-rekannya yang menyandang berbagai jenis senjata. Terlihat ada dua pejuang berambut gondrong lengkap mengenakan seragam tentara, baret, dan menyandang senjata.

“Masa inilah gondrong bersilang makna dengan ekstremis yang, mengutip Roeslan Abdulgani, hanya haus darah Belanda, dus buas, berbahaya. Menurut Ali Sastroamidjojo, mereka inilah kekuatan revolusi kita–tanpa mereka mungkin sejarah kemerdekaan akan lain…” tulis‏ @potretlawas. Demikian seperti dilansir dari reportase Sindonews.com, Minggu (11/03/2018).

Unggahan foto ini rupanya menuai banyak komentar. Salah satu adalah komentar menarik dari Maman Suherman (Kang Maman) yang dikenal sebagai notulen dalam acara Indonesia Lawak Klub (ILK).

“Biar adil, cari juga dong foto pejuang yg minim dan minus rambut tapi maksi dalam perjuangan membela tanah air,” tulisnya melalui akun @maman1965.

“Semua ke-gondrong-an itu akan hilang pada waktunya kok Kang. Tenang saja,” balas @potretlawas ditambah emoticon tertawa.

Beberapa waktu lalu, akun Twitter @matapadi juga pernah mengunggah dan membahas tentang foto ekslusif tersebut.

“Pejuang berambut panjang di foto eksklusif ini telah bersumpah untuk tidak  memotong rambut mereka sampai Belanda diusir dari wilayah Republik” seraya menjelaskan bahwa keterangan tersebut dikutip dari sebuah situs asal negeri Belanda yang memuat foto-foto bersejarah.

Kemudian diterangkan dalam kicauan berikutnya, “Para pejuang, baik dari laskar maupun dari tentara resmi (TNI), ketika itu memang banyak yang berambut gondrong. Tampaknya ini berlaku umum dan lumrah ketika itu, selain juga karena situasinya yang memungkinkan.”

“Jika pada masa pergerakan dikenal peci dan pakaian rapi sebagai simbol dari pergerakan, kelak rambut gondrong juga menjadi bagian identitas dari para pemuda dan pejuang ketika periode Perang Mempertahankan Kemerdekaan,” tambah @matapadi.

Si Gondrong Setan Kebal Peluru

Foto itu seakan menceritakan pada masa itu, sudah hal yang biasa jika ada di antara pejuang yang berambut gondrong. Buktinya di daerah Sukabumi pernah dikenal pejuang kemerdekaan dengan julukan Si Gondrong Setan.

Dalam laporan Radar Sukabumi dituliskan, Si Gondrong Setan merupakan julukan yang ditujukan kepada seorang pemuda pejuang bernama Djarkasih. Ia merupakan mantan komandan regu tentara pejuang kemerdekaan Republik Indonesia. Djarkasih tak pernah gentar menghadapi musuh dan selalu berdiri tegak memimpin pejuang lain.

“Kenapa disebut si Gondrong Setan, karena selain memiliki rambut gondrong, dia kebal peluru,” ujar Marliah, istri Djarkasih.

Dalam autobiografi Ali Sastroamidjojo berjudul Tonggak-tonggak di Perjalananku (1974:198), digambarkan pemuda yang berambut gondrong dengan gaya urakan sebagai kekuatan revolusi di Yogyakarta pada awal 1946.

Bahkan seorang saksi hidup dan pelaku sejarah, Francisca C Fanggidaej, punya penggambaran sangat menarik soal itu.

“Kota Yogya mendidih dari semangat dan tekad juang pemuda. Pekik dan salam MERDEKA memenuhi ruang udara kota. Jalan-jalan dikuasai pemuda: kebanyakan berambut gondrong, mereka bersenjatakan pistol, senapan, brengun sampai kelewang panjang Jepang, dan sudah tentu bambu-runcing,” tulisnya dalam artikel “Sekelumit Pengalaman Pada Masa Revolusi Agustus 1945-1949” yang dimuat SAS Newsletter No 4 pada Desember 1996 silam.

Jarang disorot, rupanya rambut gondrong pun pernah menjadi identitas para pemuda dalam perjuangan revolusi Indonesia. Hal ini berbanding kontras dengan simbol para aktivis perjuangan masa pergerakan yang identik dengan pakaian rapi dan mengenakan peci.

Mulai dari zaman Jepang hingga masa-masa revolusi fisik, para pemuda pejuang semakin identik dengan rambut gondrong dan seragam militer. Namun, oleh penjajah Belanda, yang terbiasa dengan penampilan rambut pendek dan disisir rapi, para pemuda pejuang ini dilabeli cap kriminal atau ekstremis.

Saat itu, terutama dari para pemuda dan bekas “jago” yang merasa terpanggil oleh revolusi, para pejuang semakin akrab dengan rambut panjang terurai, berseragam militer, dan sebuah pistol yang tersemat di pinggang. Demikian dilansir dari laman BerdikariOnline.com.

Gerakan Anti-Gondrong

Namun belakangan, saat Indonesia memasuki era rezim Soeharto, rambut gondrong semakin ditindas dan divonis sebagai gaya yang bertentangan dengan kepribadian bangsa. Pangkopkamtib Jenderal Sumitro mengatakan bahwa rambut gondrong membuat pemuda onverschillig, acuh tak acuh. Alhasil, sebagai pelaksanaan petuah dari petinggi militer, gerakan anti-gondrong pun mulai dikampanyekan di segala lini kehidupan.

Contohnya seperti di sejumlah perguruan tinggi, para pimpinan Universitas sudah menyarankan mahasiswanya untuk tidak gondrong. Dan jika tetap memilih gaya tersebut, mereka dipersilahkan memilih pindah ke kampus lain yang menerima gondrong. Di Sumatera Utara, oleh gubernur saat itu, Marah Halim, telah dibentuk “Badan Koordinator Pemberantasan Rambut Gondrong”—disingkat BAKORPRAGON, yang tugasnya adalah melakukan operasi dan menangkap mereka yang berambut gondrong.