JK Nyatakan Siap Balas Generang Perang yang Ditabuh Trump


SURATKABAR.IDWakil Presiden Jusuf Kalla (Wapres JK) menyatakan, Indonesia siap membalas kebijakan protekso dagang Amerika Serikat (AS) jika Presiden Donald Trump menghambat ekspor minyak kepala sawit mentah (crude palm oil/CPO) Indonesia.

Pemerintah butuh rencana penyelesaian masalah jangka pendek hingga jangka panjang untuk menjaga ketahanan pangan.

JK menuturkan salah satu tantangannya adalah pertambahan penduduk. Dalam 30 tahun, penduduk dunia diprediksi mencapai 9 miliar orang. Adapun di Indonesia jumlah penduduknya diperkirakan bertambah menjadi 350 juta orang pada 2045.

Dengan kondisi tersebut, kebutuhan pangan yang dibutuhkan terus-menerus naik kira-kira 3 persen per tahun.

“Indonesia harus siap meningkatkan kebutuhannya 3 persen per tahun,” ujar JK di JCC, Jakarta, Kamis (8/3/2018), dikutip dari Tempo.co.

Menurut Jusuf Kalla, jika produk minyak kelapa sawit mentah (CPO) yang diekspor Indonesia ke AS dipermasalahkan Trump, Indonesia siap melakukan pembatasan impor kedelai dan terigu.

“Kalau CPO, kita dimasalahkan Amerika, kita akan kurangi impor kedelai dan terigu,” tambahnya.

Dia mengungkapkan, dengan meningkatnya pendapatan negara, pola konsumsi masyarakat pun berubah. Yang sebelumnya mengonsumsi beras berubah ke terigu. Kondisi ini membuat kebutuhan terigu semakin meningkat.

Tentunya jika kebijakan pengurangan impor tersebut diterapkan, maka akan dirasakan pertanian AS.

“Memang kita menurun makan beras, tapi meningkatkan terigu. Ini tantangan kebutuhan kita impor semakin menjadi-jadi,” tandas Jusuf Kalla.

JK mengatakan salah satu solusinya terletak pada ilmu pengetahuan dan teknologi. Bibit hybrid, misalnya, telah lazim digunakan di negara lain, sementara di Indonesia masih menjadi pertanyaan.

Dia mencotohkan India yang mampu meningkatkan produksi pertanian tanpa menambah lahan dengan memanfaatkan teknologi.

“Dulu India impor gandum. Sekarang malah ekspor gandum. Malah kita mengimpor beras juga dari India,” tutup JK.

Dia mengatakan pemerintah harus banyak belajar dari negara lain.


BAGIKAN

Komentar

komentar


Terpopuler



Berita sebelumyaLuhut Sebut SDM Lokal Belum Mampu Bersaing dengan Pekerja Asing
Berita berikutnyaTerungkap! Prabowo Akui Pernah Diberi Tiga “Jimat” oleh Soeharto