Seorang Wanita Sudah 7 Kali Naik Haji Tapi Tak Bisa Melihat Ka’bah, Ternyata Dulu Sering Lakukan Ini


SURATKABAR.ID – Menjalankan ibadah Haji adalah kewajiban bagi seorang muslim yang mampu. Tak banyak yang memiliki kesempatan untuk menjalankan rukun Islam kelima ini.

Dilansir tribunnews.com, Kamis (24/8/2017) lalu, seorang muslim yang taat dan anak yang berbakti, Hasan (bukan nama sebenarnya), mengajak ibunya menjalankan ibadah Haji.

Mendapat ajakan ini sang ibu, Sarah (bukan nama sebenarnya), tentu merasa senang dan menyambut baik ajakan itu. Keduaya kemudian berangkat ke Tanah Suci dalam keadaan sehat wal afiat.

Hingga tiba saatnya mereka melakukan thowaf dan berkesempatan untuk melihat langsung kebesaran Allah. Hasan menunjuk bangunan empat persegi, seraya berbisik pada ibunya. “Bu, lihatlah Ka’bah,” ujarnya.

Namun, Sarah sama sekali tak bereaksi, dia hanya terdiam. Wajahnya menunjukkan raut kebingungan. Sarah sama sekali tak dapat melihat bangunan yang dimaksud anaknya. Di tengah keramaian itu, Sarah tak mampu melihat apapun selain kegelapan. Ia berkali-kali mengusap-usap matanya. Namun, hanya kegelapan yang terlihat olehnya.

Beberapa menit sebelumnya, semuanya baik-baik saja. Dia bisa melihat dengan jelas. Tapi, begitu menginjakkan kaki di Masjidil Haram, segalanya langsung berubah gelap gulita.

Mengetahui hal ini, Hasan langsung bersimpuh dan memohon ampunan Allah. Meski ibunya tak bisa melihat Ka’bah ia tak berkecil hati dan terus bertaubat, serta berniat mengajak ibunya kembali ke tanah suci tahun depan.

Namun, kejadian serupa terjadi ketika mereka kembali ke Masjidil Haram setahun kemudian. Bahkan, hal ini terjadi hingga 7 kali. Setiap kali menjalankan ibadah haji, Sarah sama sekali tak bisa melihat Ka’bah. Pandangannya langsung gelap gulita saat menginjakkan kaki di Masjidil Haram.

Tak tahu harus berbuat apalagi, Hasan akhirnya meminta Sarah untuk menghubungi seorang ulama di Abu Dhabi. Hasan ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi pada sang ibu.

Saat menghubungi ulama itu, Sarah diminta intropeksi dan mengingat kembali peristiwa di masa lalu. Bisa saja, perbuatannya di masa lalu membuatnya tak mendapat rahmat Allah.

“Anda harus berterus terang kepada saya, karena masalah Anda bukan masalah sepele,” tegas ulama tersebut.

Sarah awalnya enggan mengakui perbuatannya. Namun, ia akhirnya mengaku bahwa dulu dia bekerja sebagai seorang perawat. Sayangnya, ia kerap mencari uang dengan cara yang salah.

“Di sana,  Saya sering kali menukar bayi, karena tidak semua ibu senang dengan bayi yang telah dilahirkan. Kalau ada yang menginginkan anak laki-laki, padahal bayi yang dilahirkannya perempuan, dengan imbalan uang, saya tukar bayi-bayi itu sesuai dengan keinginan mereka,” akunya.

Mendengar hal ini, sang ulama langsung terkejut. Jika seorang bayi ditukar, tentu nasabnya menjadi tidak jelas. Padahal hal ini sangatlah penting dalam Islam. Secara tak langsung, Sarah telah merusak banyak keluarga.

“Cuma itu yang saya lakukan,” kata Sarah seakan tak berdosa.

“Cuma itu? Tahukah anda bahwa perbuatan Anda itu dosa yang luar biasa, betapa banyak keluarga yang sudah Anda hancurkan!” jawab ulama dengan nada tinggi.

Selain itu, Sarah ternyata juga bekerja sama dengan tukang sihir. Ia kerap membalaskan sakit hatinya dengan cara menyimpan perkakas sihir ke dalam mulut jenazah orang yang dimandikannya.

“Suatu kali, pernah seorang alim meninggal dunia. Seperti biasa, saya memasukkan berbagai barang-barang tenung seperti jarum, benang dan lain-lain ke dalam mulutnya.
Entah mengapa benda-benda itu seperti terpental, tidak mau masuk, walaupun saya sudah menekannya dalam-dalam. Benda-benda itu selalu kembali keluar. Saya coba lagi begitu seterusnya berulang-ulang. Akhirnya, emosi saya memuncak, saya masukkan benda itu dan saya jahit mulutnya. Cuma itu dosa yang saya lakukan,” ucap Sarah.

Mendengar pengakuan ini, sang ulama langsung marah. “Cuma itu yang kamu lakukan? Masya Allah…! Saya tidak bisa bantu anda. Saya angkat tangan. Anda harus memohon ampun kepada Allah, karena hanya Dialah yang bisa mengampuni dosa Anda,” tegas sang ulama.

Dua hari setelahnya, Sarah meninggal. Namun, jenazahnya ditolak bumi. Ketika akan dikuburkan, tanah yang telah digali langsung tertutup rapat tanpa ada bekas galian.


BAGIKAN

Komentar

komentar


Terpopuler



Berita sebelumyaArtis Ini jadi Istri Muda, Pamer Kemesaraan Bersama Istri Pertama Suaminya. Sama-Sama Berwajah Ayu
Berita berikutnyaWaspada! Ini Bahaya Mencuci Daging dan Ayam Mentah