Waduh! Warna Kawah Kelud Jadi Coklat Kekuningan, Pertanda Apa Ini?


SURATKABAR.ID – Sempat meletus pada 2014 silam, status Gunung Kelud dikabarkan menjadi siaga 1. Hal tersebut terlihat dari perubahan warna pada kawah yang menjadi coklat kekuningan. Tentu saja itu membuat warga yang tinggal di sekitar kawasan gunung berapi ini panik. Tapi benarkah demikian?

Dilansir dari JawaPos.com, petugas pemantau Gunung Kelud Pusat Vulkanologi dan Mitigas Bencana Geologi (PVMBG) Khoirul Huda menampik berbagai spekulasi yang tersebar di kalangan masyarakat terkait perubahan warna pada kawah gunung yang terletak 27 km di sebelah timur pusat Kota Kediri ini.

Pria yang ditemui di kantornya, Senin (5/3) ini membenarkan banyak pertanyaan dan informasi yang mengatakan status Gunung Kelud menjadi siaga 1. Padahal hal tersebut tidak benar adanya. Pasalnya, dalam istilah status gunung berapi hanya ada normal, waspada, siaga, dan awas. Tidak ada siaga 1.

“Banyak pertanyaan dan informasi yang masuk kalau status Gunung Kelud siaga 1. Sampai saat ini Gunung Kelud masih status aktif normal,” jelas Khoirul Huda dengan tegas, seperti yang dikutip dari laman JawaPos.com, Jumat (9/3/2018).

Khoirul memang membenarkan bahwa adanya perubahan pada warna kawah Gunung Kelud, di mana sebelumnya berwarna hijau sekarang menjadi coklat kekuningan. Namun ia menegaskan, hal tersebut terjadi bukan dikarenakan aktivitas magma di dalamnya.

Warna coklat kekuningan yang sudah terpantau sejak Sembilan hari pada kawah Gunung Kelud bukan merupakan fenomena aneh. Kondisi ini merupakan hal yang wajar terjadi setiap musim penghujan atau tingkat curah hujan meningkat.

“Itu karena hujan deras yang terus menerus. Makanya warnanya berubah,” tandas pria yang sudah mengabdi sebagai petugas pemantau selama puluhan tahun tersebut.

Selanjutnya ia menunjukkan sebuah alat ukur gempa atau seismograf yang tidak menunjukkan adanya tanda-tanda pergerakan berarti. “Itu lurus saja, kan?” ujarnya. Jika ada grafik berupa lengkungan, hal itu disebabkan gempa tektonik atau pergerakan lempeng yang umum terjadi pada gunung api.

Tak hanya itu, Khoirul juga menjelaskan bahwa pada penghitungan data-data pendukung, diketahui bahwa suhu masih terhitung normal, di kisaran 27 derajat celcius. Sedangkan pada Senin (5/3), kondisi di puncak Kelud terpantau berkabut dan mendung. “Puncak hujan deras,” katanya.

Untuk menghindari kepanikan dari warga karena beredarnya isu-isu bohong, pihak PVMBG pos pantau Kelud terus melakukan pemantauan dan penyuluhan. Adapun penyebab dari ketakutan yang dirasakan warga adalah kurangnya pengetahuan masyarakat terhadap kondisi aktivitas Gunung Kelud.

Beberapa warga di sekitar mengaku mengetahui perubahan warna kawah Gunung Kelud, namun tetap beraktivitas seperti biasa. Salah satu warga Desa Sugihwaras, Suwarti (30) mengatakan, “Dengar dari warga lain, tapi ini sudah biasa. Selama tidak ada woro-woro (dari pos pemantau), berarti ya, aman.”

Hal serupa diungkapkan salah seorang pedagang yang berjualan di kawasan Gunung Kelud, Yayuk. Menurutnya informasi perubahan warna kawah Kelud tidak mempengaruhi jumlah wisatawan yang datang. “Tidak masalah. Di sini aman-aman saja,” tuturnya.