Menyoal Persiapan Pilpres, Gatot Nurmantyo Lebih Pilih Tutup Mulut. Takut Ditegur Jokowi?


SURATKABAR.ID – Mantan Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo memberikan jawaban lugas terkait peluangnya bertempur dalam ajang Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019 mendatang. Padahal jabatan sebagai panglima telah ia lepaskan. Ia mengungkapkan alasannya untuk menyikapi persoalan tersebut.

Ditemui di Masjid Agung Al-Ahzar, Jakarta Selatan pada Sabtu (3/3), Jenderal Gatot mengungkapkan dengan statusnya yang masih sebagai tentara aktif menyebabkan dirinya tidak memiliki kebebasan untuk melakukan politik praktis, seperti yang dilansir dari Tempo.co.

“Persiapan saya, saya masih tentara. Tentara itu enggak boleh politik praktis, ya. Kalau membicarakan persiapan begini begitu, besoknya bisa ditegur,” jelas Gatot saat mendapat pertanyaan yang menyoal persiapannya menghadapi pesta politik Tanah Air mendatang, dikutip dari Tempo.co, Sabtu (3/3/2018).

Ogah membicarakan seperti apa peluangnya menghadapi kontes Pilpres 2019 yang tinggal sebentar lagi, Jenderal Gatot malah lebih memilih memberikan peringatan kepada seluruh umat Muslim untuk bersama-sama bersatu padu. Ia menyampaikan 3 pesan dalam acara diskusi bersama Gatot tersebut.

Berbekal ketiga pesan tersebut, Gatot menilai, meski nantinya banyak bermunculan partai politik, namun hal tersebut tidak akan bisa memecahbelah pergerakan umat Islam. “Patuhilah ulama, kembali ke masjid, dan pelajari Al-Quran,” jelas pria kelahiran 13 maret 1960 tersebut.

Jenderal Gatot Nurmantyo juga menyampaikan trik khusus kepada seluruh pemeluk agama Islam untuk selalu meminta petunjuk kepada Allah STW sebelum menjatuhkan pilihan terhadap apapun di dunia ini. “Ada satu cara, salat istikharah sebelum memilih sesuatu. Pasti diberi petunjuk yang benar,” tuturnya.

Menanggapi begitu banyak isu dan berita bohong (hoaks) yang meramaikan dunia maya terkait keberadaan kelompok Islam dengan paham radikal dan lain sebagainya, Gatot meminta umat Islam untuk selalu menanamkan pikiran positif. “Yang penting saatnya ulama satukan hati untuk Indonesia.”

Usai menjabat selama dua tahun (8 Juli 2015-8 Desember 2017), Gatot Nurmantyo menyerahkan pangkat sebagai Panglima TNI kepada Marsekal Hadi Tjahjanto. Dan belakangan, nama mantan Panglima TNI tersebut semakin santer disebutkan memiliki potensi ikut bertarung dalam Pilpres 2019.

Terkait pencalonan dirinya, sekelompok relawan yang berasal dari unsur masyarakat perlahan mulai terbentuk dan menggalang kekuatan untuk membantu Gatot Nurmantyo meraih kemenangan. Dari sekian banyak relawan, salah satunya adalah Relawan Selendang putih Nusantara (RSPB).

Diketuai oleh Rama Yumatha, para relawan menyebutkan sosok Gatot Nurmantyo merupakan tokoh yang sangat dibanggakan dan bersatu membentuk RSPN. “Dari pada bergerak sendiri-sendiri, mending disatukan di RSPN ini,” jelas Rama, dikutip dari CNNIndonesia.com, Sabtu (3/3/2018).

Elektabilitas Gatot Nurmantyo memang masih jauh di bawah dua kandidat yang terlebih dahulu sudah memiliki popularitas di kalangan tersendiri, yakni Joko Widodo (Jokowi) dan Prabowo Subianto. Pada Februari lalu, Gatot hanya mengantongi angka 5,5 persen, sementara Jokowi 35 persen, dan Prabowo 21,2 persen.

Namun angka tersebut tidak lantas membuat RSPN patah arang dalam terus memberikan dukungan kepada mantan Panglima TNI ini. Rama menyakini, usai Gatot pensiun dibantu relawan yang bergerak secara senyap, elektabilitas calonnya akan meningkat. “Selama ini kami bergerak senyap. Pak Gatot juga minta kami santai dulu dan kami tidak mau mengganggu kerja beliau,” jabar Rama.