MUI: MCA Rusak dan Nodai Kesucian Agama Islam


SURATKABAR.ID – Keberhasilan pihak kepolisian dalam meringkus kelompok Muslim Cyber Army (MCA) yang menyebarkan hoax dan ujaran kebencian di dunia maya mendapat apresiasi dari Majelis Ulama Indonesia (MUI). Kepada Polri, MUI juga meminta agar kasus dan kelompok ini diusut tuntas—tak hanya seluruh jaringannya tapi juga otak pelakunya. Hal ini harus dilakukan guna mengetahui motif perbuatan mereka. Karena pasalnya, dengan aksi perbuatannya MCA telah merusak dan menodai kesucian ajaran agama Islam.

Melansir laporan Kompas.com, Sabtu (03/03/2018), disamping bertentangan dengan hukum positif, perbuatan tersangka juga tak dibenarkan secara syariah dan haram hukumnya. Hal ini dikarenakan dapat menimbulkan keresahan, ketakutan, perpecahan serta permusuhan yang dapat menimbulkan kerusakan dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara,” ujar Wakil Ketua Umum MUI Zainut Tauhid dalam keterangan tertulisnya, Kamis (01/03/2018).

Zainut menambahkan, MUI telah menetapkan Fatwa Nomor 24 tahun 2017 tentang Hukum dan Pedoman Bermuamalah melalui Media Sosial. Dalam Fatwa MUI tersebut, diungkapkan bahwa setiap Muslim yang bermuamalah melalui media sosial diharamkan melakukan gibah (membicarakan keburukan atau aib orang lain), adu domba, penyebaran permusuhan, aksi bullying, fitnah, serta ujaran kebencian (hate speech) dan permusuhan atas dasar suku, agama, ras atau antargolongan (SARA).

Lebih lanjut, MUI juga mengharamkan kegiatan memproduksi, menyebarkan dan/atau membuat dapat diaksesnya konten maupun informasi yang tak benar kepada masyarakat.

“Selain itu, kegiatan buzzer seperti kelompok MCA di media sosial yang menyediakan informasi berisi hoaks, gibah, fitnah, namimah, bullying, gosip dan hal-hal lain sejenisnya sebagai profesi untuk memperoleh keuntungan, baik ekonomi maupun non-ekonomi, juga haram hukumnya,” tandas Zainut.

Sama halnya bagi pihak yang menyuruh, mendukung, membantu, serta memanfaatkan jasa buzzer dan orang yang memfasilitasi serta penyandang dana kegiatan tersebut, juga haram hukumnya.

Dugaan MUI, kelompok MCA merupakan sindikat kejahatan dunia maya (cybercrime) yang sangat rapi dan terorganisir. Demikian dilaporkan dalam JogjaTribunnews.com.

Sebab, untuk menjadi anggota inti di The Family MCA yang jumlahnya ratusan ribu orang itu tidak mudah. Harus lulus tahapan seleksi dan memenuhi kualifikasi tertentu. Mereka juga harus dibaiat terlebih dahulu.

“Untuk hal tersebut diperlukan kerja serius dan profesional aparat kepolisian untuk mengungkapnya,” tambah Zainut.

Mengenai kelompok MCA yang mencatut nama Muslim untuk dijadikan sebagai nama sindikatnya, MUI juga sangat menyesalkan dan menolak keras hal tersebut. Karena nama tersebut tak sesuai dengan aktivitasnya yang jauh dari nilai-nilai ajaran Islam.

“Dengan mencatut nama Muslim, MCA telah merusak dan menodai kesucian dan keluhuran ajaran Islam,” ujar Zainut.

14 orang yang terlibat dalam MCA sudah ditangkap oleh pihak kepolisian. Sedangkan sejumlah orang lainnya masih dalam buruan polisi.

Ada pun mengutip reportase Okezone.com, konten-konten yang diviralkan pelaku yakni mencakup isu kebangkitan Partai Komunis Indonesia (PKI), penculikan serta penganiayaan ulama, pencemaran nama baik presiden dan pemerintah, hingga adu domba beberapa tokoh dan pejabat negara tertentu. Selain itu, pelaku juga menyebarkan konten berisi virus pada orang atau kelompok lawan yang berakibat dapat merusak perangkat elektronik/ gawai bagi penerimanya.